Lira berdiri di depan kantor itu selama sepuluh detik penuh sebelum masuk.
Bukan ragu. Lebih ke — memastikan. Matanya membaca signage di luar, membaca tata letak jendela, membaca hal-hal kecil yang hanya diperhatikan oleh orang yang terbiasa memperbaiki sesuatu dan tahu bahwa kondisi awal menentukan segalanya.
Cat signage-nya masih terlalu baru, catatnya dalam hati. Tapi strukturnya solid.
Ia mendorong pintu masuk.
Ruangan itu menyambutnya dengan suhu AC yang pas dan aroma kopi yang baru diseduh — Rani sudah memastikan coffee maker menyala sejak pagi, keputusan kecil yang dampaknya tidak kecil. Ada tiga orang di meja kerja yang menoleh sebentar lalu kembali ke layar masing-masing. Ada whiteboard di dinding yang sudah ada coretan — diagram jaringan, beberapa angka, nama-nama kota di Kalimantan Timur.
Lira menatap whiteboard itu.
Sesuatu di sana menarik perhatiannya lebih dari yang seharusnya untuk sebuah kunjungan pertama.
"Lira."
Ia menoleh. Rani sudah berdiri di dekat meja resepsionis kecil — senyum profesional, tangan terjulur untuk berjabat. Lira menyambutnya.
"Bu Rani." Ia mengangguk. "Maaf agak telat."
"Tidak telat sama sekali. Tepat waktu." Rani memberi isyarat ke arah dalam. "Mau lihat-lihat dulu? Kita mulai dari lantai satu."
Lira mengangguk. Dan mulai berjalan mengikuti Rani — tapi matanya tidak bisa lepas dari whiteboard itu.
Topologi jaringan yang digambar di sana... ada yang tidak efisien di sana. Ia mengerutkan kening kecil. Tapi ini bukan urusanku hari ini.
Ia mempercepat langkah mengikuti Rani.
********
Arka sengaja tidak langsung muncul.
Keputusan yang ia buat pagi tadi — biarkan Rani yang handle dulu, jangan terlihat terlalu... apa? Antusias? — terasa masuk akal ketika ia membuatnya. Sekarang, duduk di ruang lantai dua sambil pura-pura membaca dokumen di laptopnya, keputusan itu terasa lebih sulit dari yang ia perkirakan.
Danu duduk di sebelahnya. Juga pura-pura bekerja. Tapi matanya sesekali melirik ke tangga.
"Lo juga nungguin kan?" tanya Arka tanpa menoleh dari layarnya.
"Nggak." Danu mengetik sesuatu. "Gue lagi review data operasional."
"Nu."
"...iya, gue juga nungguin."
Suara langkah dari tangga. Rani muncul duluan — dan di belakangnya, Lira.
Lira yang matanya langsung bergerak ke seluruh ruangan — ke server kecil di pojok, ke kabel yang sudah dirapikan, ke workstation yang terpasang, ke jendela yang menghadap ke jalan. Bukan tatapan turis. Tatapan orang yang sedang membaca sebuah sistem.
"Ini server room-nya sekaligus?" tanyanya ke Rani.