Senin datang dengan cara yang biasa.
Matahari naik, air di bawah dermaga bergerak seperti selalu, dan Lira berdiri di depan cermin kamarnya selama lebih lama dari biasanya — bukan karena tidak tahu mau pakai apa, tapi karena ada sesuatu yang terasa berbeda tentang hari ini yang belum bisa ia beri nama.
"Lira." Suara Ibu dari dapur. "Sarapan dulu."
"Sebentar, Mèk."
Ia menatap refleksinya sekali lagi. Pakaian yang ia pilih tidak berbeda jauh dari hari-hari biasanya — sederhana, rapi, nyaman. Ia bukan tipe orang yang berubah hanya karena konteks berubah.
Tapi konteks memang berubah hari ini, akuinya dalam hati.
"Nervous?" suara itu muncul — lebih pelan dari biasanya, seperti tidak ingin mengganggu.
"Tidak." Lira mematikan lampu kamar dan keluar.
"Sedikit nervous itu wajar, Lira."
"Tidak nervous." Ia melangkah ke dapur. "Cuma... menyesuaikan."
Ibu Lira sudah menyiapkan nasi dan lauk sederhana di meja. Duduk di kursinya dengan cara yang sudah menjadi konstanta terpercaya dalam hidup Lira sejak ia bisa ingat.
"Hari pertama," kata Ibu. Bukan pertanyaan.
"Iya, Mèk."
Ibu menyendokkan nasi ke piring Lira dulu sebelum ke piringnya sendiri — urutan yang tidak pernah berubah. "Kalau ada yang tidak nyaman, pulang."
"Mèk—"
"Bukan berarti menyerah." Ibu menatapnya. "Tapi kalau hati tidak nyaman, mulutnya perlu bilang. Jangan disimpan sendiri."
Lira menatap ibunya. Perempuan yang tidak pernah sekolah tinggi tapi selalu tahu hal yang tepat untuk dikatakan pada waktu yang tepat.
"Iya, Mèk." Pelan. Tulus.
********
Ia tiba di kantor jam delapan kurang sepuluh.
Rani sudah ada — meja sudah rapi, kopi sudah tersedia, briefing singkat sudah disiapkan dalam dokumen di tablet yang langsung ia serahkan begitu Lira masuk.
"Untuk minggu pertama, kamu tidak perlu langsung handle proyek besar," kata Rani. Nada profesional yang bersih. "Familiarisasi sistem dulu — infrastruktur yang sudah ada, software yang dipakai, koneksi dengan tim pusat di Jakarta."
Lira membaca dokumen itu sambil berjalan ke meja yang sudah disiapkan untuknya — pojok kiri, dekat jendela, dengan view ke jalan. Posisi yang entah sengaja atau tidak terasa seperti tempat yang tepat untuknya.
"Ada akun email yang sudah aktif?" tanya Lira.
"Sudah." Rani membuka laptop di meja Lira, login ke akun yang sudah disiapkan. "Password sementara di dokumen itu, ganti setelah masuk."
Lira duduk. Membuka email. Membaca beberapa pesan onboarding dari tim Jakarta.