CEO BUCIN: Cinta Itu Investasi Nekat

Eko Witjaksono
Chapter #9

Chapter 9: Danu Punya Masalah (yang Bernama Rani Sasmara)

Masalah Danu Pradipta bukan matematika.

Matematika ia bisa selesaikan dalam tidur — benar-benar dalam tidur, bukan kiasan. Pernah satu kali ia terbangun jam tiga pagi dengan jawaban proyeksi keuangan yang sudah ia cari-cari selama dua hari, langsung buka laptop, ketik, benar. Angka-angka yang tidak masuk akal ia bisa urai satu per satu sampai ketemu titik kesalahannya. Spreadsheet yang kacau ia bisa rapikan dalam setengah jam. Proyeksi yang meleset ia bisa koreksi dengan data tambahan dan sedikit kesabaran.

Danu Pradipta adalah orang yang paling nyaman di dunia yang bisa diukur.

Masalahnya adalah Rani Sasmara.

Dan masalah itu tidak punya formula penyelesaiannya. Tidak ada variabel yang bisa dimasukkan, tidak ada rumus yang bisa diaplikasikan, tidak ada data historis yang bisa dijadikan acuan. Setiap kali ia mencoba mendekatinya dengan logika yang biasa ia gunakan, hasilnya selalu sama: error. Coba lagi.

Ia pertama menyadarinya dua tahun lalu.

Rapat kuartal yang membosankan — jenis rapat yang bahkan orang yang menyukainya pun akan mengakui membosankan kalau ditanya dengan jujur. Presentasi vendor yang panjang, slide yang terlalu banyak, klaim yang terlalu optimis. Danu sudah setengah mati menahan kantuk dan mencoret-coret di margin dokumennya — bukan mencatat, hanya menggambar bentuk-bentuk geometris yang tidak bermakna karena tangannya butuh sesuatu untuk dilakukan supaya matanya tidak tutup.

Lalu Rani memotong presentasi itu.

Satu kalimat. Tenang. Tepat sasaran dengan presisi yang tidak manusiawi. Langsung ke inti permasalahan yang sudah ada di depan mata semua orang tapi tidak ada yang cukup berani atau cukup jeli untuk menyebutnya.

Seluruh ruangan diam selama tiga detik penuh.

Danu yang saat itu sedang menggambar segitiga di margin dokumennya mendongak. Dan sesuatu di kepalanya — sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan untuk dikunjungi, yang tidak ada dalam peta mental mana pun yang pernah ia buat — pergi ke tempat yang baru.

Ia menutup dokumennya. Kembali mencoret-coret. Memutuskan untuk tidak memikirkan itu lagi.

Berhasil, kurang lebih, selama dua tahun.

Dua tahun adalah waktu yang cukup lama untuk membangun sistem penghindaran yang rapi. Danu tahu caranya — kerja keras, fokus pada angka, selalu ada pekerjaan yang lebih mendesak dari yang perlu dipikirkan. Kalau Rani di ruangan yang sama, ia fokus ke layar. Kalau Rani bicara, ia mencatat hal-hal yang relevan secara profesional dan membuang sisanya. Kalau ada momen yang terasa terlalu dekat dengan sesuatu yang tidak ia ingin akui, ia membuat lelucon tentang semesta atau tentang Arka atau tentang hal lain yang cukup menarik perhatian untuk mengalihkan.

Sistem yang cukup efektif.

Sampai Balikpapan.

Di Balikpapan, sistem itu mulai retak di tepi-tepinya.

Bukan karena ada yang berubah secara dramatis — tidak ada momen besar, tidak ada konfrontasi, tidak ada kejadian yang bisa ia tunjuk dan bilang: ini yang merusaknya. Lebih ke akumulasi hal-hal kecil yang di Jakarta bisa ia kelola karena selalu ada konteks lain yang lebih besar. Di Balikpapan, konteks itu lebih kecil. Dunianya lebih sempit — tiga orang di kantor, tiga orang di meja makan, tiga orang di MPV yang terlalu sering berdekatan.

Dan dalam dunia yang lebih kecil, hal-hal kecil jadi lebih mudah terlihat.

********

Sore itu, setelah Lira pulang dan Arka naik ke lantai dua untuk panggilan dengan Jakarta, Danu dan Rani berdua di lantai satu.

Situasi yang tidak jarang terjadi — mereka sering berdua di kantor Jakarta karena keduanya tipe orang yang bekerja sampai larut, yang tidak punya banyak alasan untuk buru-buru pulang, yang menemukan semacam kenyamanan dalam keheningan kantor setelah jam kerja usai. Tapi di Jakarta selalu ada orang lain di sekitar — security yang lewat, cleaning service, sesekali rekan yang juga lembur. Selalu ada lapisan antara mereka dan ruangan yang terlalu sepi.

Di sini, sekarang, tidak ada lapisan itu.

Rani duduk di mejanya, mengetik — respons email, laporan ke Jakarta, Danu tidak tahu dan tidak bertanya. Danu duduk di mejanya, membuka proyeksi keuangan yang sebenarnya sudah selesai dari tadi — yang sudah selesai dari sebelum makan siang, kalau jujur, tapi ia buka lagi karena butuh sesuatu yang terlihat seperti alasan untuk tetap di sini.

Sunyi yang tidak canggung tapi tidak sepenuhnya nyaman.

Seperti dua orang yang sudah sangat terbiasa berbagi ruang tapi tiba-tiba sadar bahwa berbagi ruang bisa artinya banyak hal.

"Nu." Rani tidak menoleh dari layarnya.

"Ya?"

Lihat selengkapnya