CEO BUCIN: Cinta Itu Investasi Nekat

Eko Witjaksono
Chapter #10

Chapter 10: Telepon dari Jakarta (dan Semua yang Tidak Tersampaikan)

Mama Arka menelepon Rabu malam.

Jam delapan lewat dua puluh. Arka sedang di balkon kamar hotelnya — bukan karena ada rencana untuk berdiri di sana, lebih ke tubuh yang butuh udara yang tidak disaring pendingin ruangan setelah seharian di dalam. Balikpapan di malam hari punya udaranya sendiri: sedikit asin dari laut yang tidak terlalu jauh, lebih hangat dari Jakarta di jam yang sama, dengan suara kota yang berbeda — lebih sepi, lebih jarak antara satu suara dan suara berikutnya.

Ia sedang menatap deretan lampu di jalan bawah ketika ponselnya bergetar.

Layar: Mama.

Dua dering. Diangkat.

"Ma."

"Arka." Suara Mama — hangat dengan ketepatan di baliknya, seperti selalu. Seperti seseorang yang tahu persis efek dari setiap nada yang ia pilih dan sudah sangat lama menggunakannya dengan kesadaran penuh. "Sudah makan?"

"Sudah."

"Makan apa?"

"Nasi kuning."

Hening setengah detik — jenis hening yang bukan kosong tapi sedang memproses. "Gizi-nya cukup?"

"Cukup, Ma." Ada sudut bibirnya yang naik sedikit — tidak bisa tidak, bahkan setelah tiga puluh dua tahun ini masih tidak bisa tidak. "Arka sudah tiga puluh dua tahun."

"Usia tidak mengubah fakta bahwa kamu anakku." Suara Mama tidak berubah nadanya — bukan defensif, hanya menyatakan sesuatu yang ia anggap kebenaran yang tidak perlu diperdebatkan. "Gimana Balikpapan?"

"Baik." Ia menatap langit malam di atas kota yang masih asing tapi semakin terasa akrab — seperti nama yang belum dikenal tapi pengucapannya sudah mulai terasa alami di mulut. "Kantor sudah jalan. Ada karyawan baru mulai minggu ini."

Hening lagi. Lebih lama kali ini.

Hening yang Arka kenal — Mama sedang memilih kata berikutnya. Mama selalu memilih kata berikutnya dengan sangat hati-hati, sejak dulu, sejak Arka cukup tua untuk memperhatikan bahwa tidak semua orang bicara dengan cara itu.

"Rani baik-baik saja?"

"Baik."

"Dia sudah makan juga?"

"Sudah, Ma." Arka menyandarkan lengannya ke railing balkon, merasakan dinginnya logam di bawah sikunya. "Mama mau tanya apa sebenarnya?"

Diam. Lalu tawa kecil — tawa yang sudah sangat Arka kenal sejak kecil. Tawa seseorang yang tidak pernah sepenuhnya terkejut ketahuan, yang sudah cukup lama kenal Arka untuk tahu bahwa berpura-pura tidak ada yang ia sembunyikan tidak akan bertahan lama.

"Kamu terlalu pintar untuk anakku." Mama menghela napas kecil — bukan frustrasi, lebih ke semacam kebanggaan yang terasa rumit. "Arka... ada yang Mama perlu ceritakan. Tentang Balikpapan. Tentang kenapa Mama tidak pernah cerita sebelumnya."

Arka berdiri lebih tegak. Sesuatu dalam cara Mama mengucapkan kalimat itu — cara nadanya keluar dari register percakapan malam biasa ke sesuatu yang lebih berat, lebih lama tersimpan — membuat sesuatu di dadanya berpindah posisi.

"Cerita, Ma."

"Kamu tahu ayah pernah ke Balikpapan?"

"Tidak." Arka membalik badan — menatap ke dalam kamarnya yang gelap dari balkon, seperti orang yang butuh permukaan padat untuk bersandar secara mental bahkan ketika fisiknya tidak bergerak. "Kapan?"

"Sebelum kamu lahir." Suara Mama terdengar lebih jauh dari tadi — bukan karena sinyal bermasalah, tapi seperti seseorang yang sedang berbicara dari kedalaman tempat yang sudah sangat lama ia simpan dan baru sekarang membuka pintunya. "Ayahmu pernah hampir beli tanah di sana. Pesisir. Lokasi yang sekarang kamu ada di dekatnya."

Arka tidak bergerak.

Lihat selengkapnya