CEO BUCIN: Cinta Itu Investasi Nekat

Eko Witjaksono
Chapter #11

Chapter 11: Dermaga, Malam, dan Hal-Hal yang Tidak Perlu Diucapkan

Lira tidak bisa tidur.

Ini bukan hal baru — ada malam-malam tertentu di mana pikirannya tidak mau berhenti bekerja, terus memproses sesuatu yang belum selesai seperti komputer yang menjalankan program di background tanpa pernah benar-benar selesai. Bukan menyiksa. Lebih ke semacam mesin yang terlalu aktif untuk dimatikan paksa.

Biasanya, kalau sudah begini, ia bawa ke teras. Duduk menghadap laut sampai pikirannya capek sendiri dan akhirnya setuju untuk beristirahat. Cara yang sudah ia temukan sejak remaja dan tidak pernah ia ganti karena tidak ada yang lebih efektif.

Malam ini ia sudah di teras sejak jam sepuluh.

Jam sebelas, belum ada perubahan.

Tehnya sudah hampir dingin di tangannya. Di bawah, air bergerak dengan ritme yang tidak pernah berubah — lambat, teratur, tidak peduli jam berapa. Di langit, bintang yang muncul di celah-celah awan dengan cara yang tidak pernah cukup banyak tapi selalu cukup untuk diperhatikan.

"Tidak tidur?" Suara itu muncul dari udara malam yang sudah mulai dingin di ujung-ujungnya — lebih dingin dari biasanya untuk Balikpapan, atau mungkin ia yang lebih memperhatikan malam ini.

"Tidak." Ia menyeruput tehnya. Masih hangat, tapi hanya sedikit. "Banyak pikiran."

"Tentang apa?"

Lira menatap air di bawah — gelap, bergerak pelan, memantulkan cahaya dari rumah-rumah di sekitar. Setiap malam memantulkan cahaya yang berbeda tergantung mana yang menyala — malam ini ada dua rumah tetangga yang masih terang, jadi pantulannya lebih banyak dari biasanya.

"Tentang banyak hal." Ia tidak mau lebih spesifik dari itu. Terutama kepada suara yang sudah terlalu sering tahu lebih dari yang perlu ia ketahui tentang dirinya.

"Tentang pekerjaan baru? Atau tentang orangnya?"

Lira tidak menjawab.

Hening yang berlangsung cukup lama untuk menjadi jawaban tersendiri — dan keduanya tahu itu.

"Kamu tidak harus tahu dulu, Lira." Kali ini nada suara itu berbeda dari biasanya — lebih pelan, lebih tidak usil. Seperti sesuatu yang memutuskan untuk tidak bercanda malam ini. "Beberapa hal butuh waktu untuk jelas. Memaksanya jelas sebelum waktunya tidak membuat prosesnya lebih cepat — hanya lebih berantakan."

"Aku tahu." Lira meletakkan cangkirnya di lantai teras. "Aku tidak suka hal yang tidak jelas."

"Tahu."

"Aku orang yang suka tahu di mana kabelnya." Ia memeluk lututnya sedikit — posisi yang tidak punya nama tapi punya fungsi: membuat dunia terasa sedikit lebih kecil dan karenanya lebih bisa ditangani. "Kenapa ada masalah, di mana titik putusnya, bagaimana cara memperbaikinya. Ada sistemnya. Ada logikanya."

"Manusia bukan kabel, Lira."

"Tahu." Nada suaranya tidak defensif — hanya menyatakan fakta yang sudah ia ketahui dan tidak selalu berhasil ia terima dengan mulus. "Itu yang bikin repot."

"Repot itu tidak selalu buruk."

Lira menatap bintang yang tersisa di antara awan. "Kata siapa?"

"Kata orang yang sudah lama mengurus cerita-cerita yang semua bagian rumitnya justru jadi bagian yang paling diingat."

Lira tidak menjawab. Tapi ada sudut bibirnya yang bergerak sedikit — bukan senyum penuh, lebih ke pengakuan bahwa kalimat itu tidak sepenuhnya salah.

********

Jam sebelas lebih ia memutuskan jalan ke dermaga.

Bukan keputusan yang melewati banyak pertimbangan — lebih ke tubuh yang bergerak dan pikiran yang mengikuti karena tidak punya argumen yang cukup kuat untuk menahan. Sandal jepit yang sudah sangat lama, jaket tipis yang diambil dari balik pintu, rambut yang tidak diikat karena tidak ada alasan untuk mengikatnya malam-malam begini.

Cara orang pergi ke tempat yang sudah sangat dikenal sampai tidak perlu bersiap.

Lihat selengkapnya