Ibu Lira tidak tidur nyenyak malam itu.
Bukan karena sakit, bukan karena khawatir hal-hal yang konkret. Lebih ke perasaan yang hanya dimiliki oleh ibu-ibu yang sudah cukup lama jadi ibu — semacam antena yang bergerak bahkan ketika tidak diminta, menangkap sinyal dari anak yang tidak selalu diucapkan dengan kata-kata.
Ia mendengar langkah Lira pergi ke dermaga jam sebelas. Ia mendengar langkah Lira pulang hampir jam dua belas. Di antaranya, ada hening yang berbeda dari hening biasa — lebih penuh, seperti udara setelah hujan.
Pagi harinya, ia menyiapkan sarapan lebih awal dari biasanya.
********
Lira bangun dengan perasaan yang tidak bisa langsung ia identifikasi.
Bukan senang. Bukan sedih. Sesuatu di antaranya — sesuatu yang ringan tapi berat sekaligus, seperti membawa sesuatu yang tidak memperlambat langkah tapi terus terasa ada.
Ia duduk di meja makan. Ibu sudah di sana, mengaduk teh dengan cara yang pelan dan metodis.
"Tadi malam lama di dermaga," kata Ibu. Bukan pertanyaan.
Lira mengambil sendok. "Tidak bisa tidur."
"Sendirian?"
Hening setengah detik.
"Tidak sendirian." Lira menyendok nasinya. "Ada tamu. Pak Arka juga tidak bisa tidur, kebetulan lewat."
Ibu mengaduk tehnya satu kali lagi. Lambat. Tidak berkomentar.
Diam yang lebih bicara dari kata-kata.
"Mèk mau bilang apa?" tanya Lira — tapi nadanya bukan defensif. Lebih ke orang yang tahu ibunya mau bicara dan memilih untuk membuka pintu lebih awal daripada menunggu diketuk.
Ibu meletakkan sendoknya. Menatap Lira langsung.
"Lira." Nada yang tidak pernah berubah sejak dua puluh tahun lalu — nada yang artinya aku bicara sebagai ibumu, bukan sebagai siapa-siapa yang lain. "Kamu merasakan sesuatu tentang orang itu?"
Lira tidak langsung menjawab. Menyendok lagi. Mengunyah. Cara orang yang butuh waktu bukan karena tidak punya jawaban tapi karena jawabannya belum sepenuhnya berbentuk.
"Tidak tahu, Mèk." Jujur. "Belum jelas."
"Belum jelas itu berbeda dengan tidak ada." Ibu mengangkat cangkir tehnya. "Mèk tanya karena Mèk perlu tahu satu hal."
"Apa?"
"Siapa orangtuanya."
Lira menoleh. "Kenapa?"
Ibu Lira menatap anaknya dengan tatapan yang sudah sangat Lira kenal — tatapan yang menyimpan sesuatu yang sudah lama ada di sana, sesuatu yang menunggu waktu yang tepat untuk dikeluarkan.
"Ada sesuatu yang Mèk perlu ceritakan." Suaranya lebih pelan. "Tentang tanah kita. Tentang orang dari Jakarta yang pernah datang sebelumnya. Lama sekali sebelumnya."
Lira meletakkan sendoknya.
"Cerita, Mèk."