CEO BUCIN: Cinta Itu Investasi Nekat

Eko Witjaksono
Chapter #13

Chapter 13: Amplop, Rahasia, dan Satu Pertanyaan yang Salah Waktu

Lira membawa amplop itu ke kamarnya.

Bukan karena takut Ibu melihat — Ibu sudah tahu isinya ada, sudah dua dekade menyimpannya, tidak mungkin tiba-tiba keberatan melihatnya dibaca. Tapi ada sesuatu tentang isi amplop itu yang terasa seperti butuh ruang yang lebih kecil dari ruang makan untuk dicerna. Sesuatu yang terlalu besar untuk meja dengan dua piring dan secangkir teh.

Ia duduk di lantai kamarnya. Punggung bersandar ke tempat tidur. Amplop di pangkuan.

Foto itu ia keluarkan lagi.

Dua laki-laki muda di dermaga yang ia kenal seperti telapak tangannya sendiri. Sudut pandang yang ia hafal — dari arah rumah tetangga sebelah kiri, sekitar jam dua siang kalau dilihat dari bayangan tiangnya. Tiang ketiga dari ujung yang catnya sudah terkelupas sejak ia kecil dan masih terkelupas sampai sekarang karena tidak ada yang pernah merasa perlu mengecatnya ulang.

Yang satu: berpakaian sederhana, postur orang yang terbiasa dengan tempat ini, senyum yang sudah sangat Lira kenal meski hanya dari foto-foto tua.

Bapak.

Yang satu lagi: berpakaian lebih rapi dari konteks sekelilingnya, berdiri dengan cara orang kota yang belum sepenuhnya nyaman tapi sudah cukup nyaman untuk tersenyum sungguhan. Rahangnya. Cara bahunya terbentuk. Cara ia berdiri dengan satu tangan di saku dan satu lagi di samping — santai tapi tidak sepenuhnya santai.

Lira menatap foto itu lama.

Sangat lama.

Ini bukan pertama kali aku melihat cara berdiri seperti ini, pikirnya. Ini bukan pertama kali aku melihat rahang seperti ini.

Ia meletakkan foto itu. Mengambil surat. Membacanya lagi — pelan, dari baris pertama.

Tulisan tangan yang sudah memudar tapi masih terbaca. Bahasa yang formal tapi tidak dingin — cara orang yang terbiasa menulis dokumen bisnis tapi sedang menulis sesuatu yang bukan dokumen bisnis dan belum sepenuhnya menemukan nadanya.

Kepada keluarga yang tanahnya pernah hampir aku sentuh dan kemudian aku putuskan untuk tidak —

Maaf. Bukan karena tanahnya tidak berharga. Justru karena terlalu berharga untuk jenis transaksi yang aku bawa. Ada hal-hal yang harganya tidak bisa masuk kolom mana pun.

Aku tidak tahu apakah surat ini akan pernah dibaca. Tapi kalau suatu hari ada yang dari keluargaku yang sampai di sini — tolong beritahu mereka bahwa ayahnya pernah berdiri di dermaga yang sama dan memilih hal yang benar bahkan ketika hal yang benar tidak masuk akal secara bisnis.

Dan tolong beritahu mereka bahwa tempat ini layak untuk dikunjungi. Bukan untuk tanahnya. Tapi untuk sesuatu yang lebih dari itu yang belum bisa aku beri nama.

— R.M.

Lira melipat surat itu kembali. Pelan.

R.M.

Ia tidak perlu berpikir lama untuk tahu nama lengkapnya. Nama yang sudah ada di papan kantor yang ia kunjungi beberapa hari lalu. Nama yang ada di kartu nama yang ia terima di hari pertama kerja. Nama yang setiap hari ia lihat di pojok kanan bawah email-email onboarding dari Jakarta.

Maheswara.

"Lira," suara itu muncul — berbisik, dengan nada yang untuk sekali ini tidak usil sama sekali. "Kamu baik-baik saja?"

"Belum tahu." Jujur. Cara kejujuran orang yang terlalu lelah untuk memperhalus. "Sedang proses."

"Ambil waktumu."

"Iya." Ia menyandarkan kepalanya ke tepi tempat tidur. Menatap langit-langit kamarnya yang sudah sangat ia kenal — retakan kecil di sudut kiri yang sudah ada sejak SMP, cat yang sedikit mengelupas di dekat jendela karena lembab waktu musim hujan. Semua hal yang sangat familiar di sebuah kamar yang sangat ia kenal.

Kontras yang terasa sangat jelas sekarang: betapa familiar semua yang ada di sini, dan betapa tidak familiar semua yang tiba-tiba ada di hidupnya dalam satu minggu terakhir.

Tapi yang paling tidak familiar bukan kantor baru, bukan pekerjaan baru, bukan orang-orang baru.

Yang paling tidak familiar adalah perasaan bahwa semua itu — semuanya — terasa seperti bukan kebetulan.

Lihat selengkapnya