CEO BUCIN: Cinta Itu Investasi Nekat

Eko Witjaksono
Chapter #14

Chapter 14: Ikan Bakar, Hujan, dan Satu Jaket yang Tidak Direncanakan

Warung ikan bakar itu memang lebih kecil.

Empat meja. Dua di dalam, dua di luar di bawah atap seng yang sudah berkarat di ujung-ujungnya tapi masih kokoh. Pemandangan langsung ke arah laut — bukan pantai yang bersih dan rapi, tapi laut yang jujur: ada perahu yang ditambat, ada jaring yang dijemur, ada kehidupan nelayan yang tidak sedang berpura-pura untuk siapa pun.

Ikan bakarnya datang dalam ukuran yang tidak kecil, dengan sambal yang warnanya sangat merah dan aromanya langsung mengumumkan dirinya dari jarak dua meja.

Danu menatap piring di depannya dengan ekspresi orang yang menemukan sesuatu yang ia tidak tahu ia butuhkan.

"Ini..." ia mengambil garpu. "Ini bagus."

"Kan." Arka menyendok nasinya. "Sudah dua hari mau ke sini tapi tidak sempat."

"Kamu tahu tempat ini dari mana?" tanya Lira — ia sudah mulai makan dengan cara orang yang sangat familiar dengan jenis makanan ini, cara yang berbeda dari cara Arka dan Danu yang perlu sedikit lebih berhati-hati dengan durinya.

"Pemilik hotel rekomendasikan." Arka melirik piring Lira — cara ia memegang ikan, memisahkan daging dari duri dengan gerakan yang sangat efisien. "Kamu makan ikan seperti orang yang sudah makan ini seumur hidup."

Lira mendongak. "Karena memang iya."

"Ajarkan."

Lira menatapnya. "Serius?"

"Gue sudah tiga kali hampir menelan duri sejak sepuluh menit lalu." Arka menatap ikannya dengan ekspresi orang yang tidak mau mengakui kalah pada ikan tapi sudah hampir di titik itu. "Serius."

Danu menyembunyikan senyumnya di balik segelas air putih.

Lira menaruh garpu dan sendoknya. "Balik ikannya dulu. Dari sini—" ia menunjuk, "pegang di sini, tarik ke sini. Durinya ikut."

Arka mencoba. Tidak berhasil sempurna — dagingnya sobek di satu sisi.

"Lagi."

Mencoba lagi. Lebih baik, tapi masih ada duri yang tertinggal.

"Tekanannya kurang di sini." Tanpa berpikir panjang, Lira mengulurkan tangannya — menunjukkan gerakan yang tepat langsung di ikan Arka, jarinya bergerak demonstrasi.

Dan baru setelah selesai ia sadari betapa dekatnya jaraknya ke tangan Arka dalam tiga detik terakhir.

Keduanya diam setengah detik.

Lira menarik tangannya. Mengambil garpunya lagi. "Seperti itu."

Arka menatap ikannya. Mencoba sekali lagi. Berhasil. "Terima kasih."

"Sama-sama."

Danu menatap langit-langit atap seng di atas mereka dengan ekspresi orang yang melihat terlalu banyak dan tidak tahu harus menaruhnya di mana.

"Tiga detik," suara itu berbisik ke arah Danu. "Itu rekor baru."

"Gue tidak menghitung," desis Danu ke sendoknya.

"Aku yang menghitung."

"Bagus sekali. Sekarang diam dan biarkan gue makan dengan tenang."

********

Hujan datang jam dua siang tanpa peringatan.

Tipe hujan Kalimantan yang tidak bertanya dulu — langsung turun dengan serius, atap seng di atas mereka berbunyi seperti seseorang sedang melempar kerikil dalam jumlah banyak secara bersamaan. Jalanan di luar berubah dalam tiga puluh detik.

Mereka masih di warung — pesanan tambahan es kelapa muda yang datang terlambat membuat mereka bertahan lebih lama dari yang direncanakan.

Lira menatap hujan. "Tidak bawa payung."

"Gue juga tidak." Danu menatap kantornya yang kira-kira dua ratus meter dari sini — jarak yang dalam kondisi normal tidak ada artinya, dalam kondisi hujan seperti ini artinya basah total dari kepala sampai kaki. "Bos?"

Arka juga tidak bawa payung. Ia adalah tipe orang yang terlalu terbiasa pergi dari gedung ber-AC ke mobil ber-AC sampai tidak pernah memikirkan payung sebagai kebutuhan.

"Tunggu reda?" saran Lira.

Lihat selengkapnya