CEO BUCIN: Cinta Itu Investasi Nekat

Eko Witjaksono
Chapter #15

Chapter 15: Rani Mulai Menghitung (Hal-hal yang Tidak Seharusnya Dihitung)

Rani Sasmara adalah orang yang sangat baik dalam menganalisis situasi.

Ini bukan bakat bawaan — ini hasil dari bertahun-tahun bekerja di PR, di mana kemampuan membaca ruangan, membaca orang, membaca hal-hal yang tidak diucapkan, adalah perbedaan antara krisis yang bisa dikelola dan krisis yang tidak bisa. Ia sudah melatihnya sampai jadi refleks, sampai ia tidak perlu berpikir sadar untuk melakukannya — seperti orang yang sudah begitu lama mengemudi sampai tidak lagi sadar kapan ia menekan rem dan kapan ia menginjak gas.

Masalahnya sekarang: refleks itu tidak bisa dimatikan.

Dan ia tidak selalu suka apa yang ia baca.

********

Hari itu dimulai dengan cara yang biasa.

Rani datang jam tujuh empat puluh lima — lima belas menit sebelum jam kerja resmi, seperti selalu, karena ia adalah tipe orang yang lebih suka datang awal dan menyiapkan diri dari pada datang tepat waktu dan langsung harus berlari. Lima belas menit itu adalah miliknya: menyeruput kopi pertama, membaca email yang masuk semalaman, menyusun prioritas hari ini dalam kepala sebelum semua orang datang dan semua hal mulai bergerak.

Pagi ini, kopi sudah ada ketika ia tiba.

Danu sudah di mejanya — yang tidak selalu terjadi, tapi belakangan ini lebih sering. Sudah dengan dua cangkir, satu di posisi yang sudah sangat natural sekarang di pojok meja yang menghadap ke arah pintu masuk.

Rani mengambil kopinya. Menyeruput. Pas.

Selalu pas. Setiap hari, tanpa ia pernah meminta, tanpa ia pernah menjelaskan takaran yang ia suka — Danu rupanya memperhatikan dengan cara yang tidak ia umumkan dan tidak ia bahas.

Hal kecil, catatnya dalam hati. Yang tidak perlu dicatat.

Tapi ia mencatatnya tetap.

********

Jam sembilan, Lira tiba.

Dan Rani — yang sedang berpura-pura sangat fokus pada slide presentasi yang sudah selesai dari tadi — memperhatikan tiga hal dalam dua puluh detik pertama:

Pertama: Lira membawa tasnya dengan cara yang sedikit berbeda dari biasanya — lebih dekat ke tubuh, sedikit lebih dijaga. Cara orang yang menyimpan sesuatu yang tidak ingin jatuh lagi.

Amplop itu, pikir Rani. Masih dibawa.

Kedua: ketika Danu menyambut Lira dengan kopi yang sudah disiapkan, Lira tersenyum dengan cara yang natural — cara orang yang sudah merasa aman dengan seseorang, yang tidak perlu lagi menyesuaikan dirinya. Dua minggu, dan Lira sudah sangat comfortable dengan Danu dengan cara yang bahkan Rani sendiri butuh berbulan-bulan untuk mencapainya.

Danu memang mudah untuk dijadikan nyaman, akuinya dalam hati. Dengan cara yang tidak sepenuhnya netral.

Ketiga: sepuluh menit kemudian, Arka turun dari lantai dua. Dan dalam tiga detik pertama ia di lantai satu, matanya bergerak ke arah meja Lira — sangat cepat, sangat sekilas, dengan cara yang orang lain mungkin tidak perhatikan.

Rani memperhatikan.

Karena ini sudah terjadi setiap hari sejak minggu pertama. Setiap kali Arka turun ke lantai satu, matanya bergerak ke arah meja Lira duluan sebelum ke mana pun. Seperti kompas yang sudah dikalibrasi ulang tanpa izin pemiliknya.

Rani menutup slidenya. Membuka email. Membalas sesuatu yang tidak mendesak karena tangannya butuh sesuatu untuk dilakukan.

********

Siang itu, ketika Arka, Danu, dan Lira kembali dari makan siang dengan rambut yang agak lembab dan masing-masing membawa payung yang warnanya tidak ada yang ia antisipasi — Rani memperhatikan tiga hal sekaligus.

Pertama: Danu yang langsung menceritakan soal hujan dengan cara yang lebih animasi dari biasanya. Danu yang deadpan jarang animasi — tapi rupanya payung bebek dan entitas yang sekarang bisa didengar tiga orang adalah pengecualian yang memadai untuk membuat CFO yang paling terkontrol di kantor ini bergerak tangannya saat bercerita.

Kedua: Lira yang mendengarkan cerita Danu sambil sesekali menambahkan detail, dengan cara yang sangat natural untuk orang yang baru bergabung kurang dari dua minggu. Terlalu natural. Dengan cara yang terasa seperti sudah lama — seperti seseorang yang sudah sangat pas di tempat yang bukan asalnya.

Ketiga: Arka yang tidak bercerita apa-apa tapi ada sesuatu di cara ia bergerak yang berbeda dari pagi tadi. Lebih ringan. Dengan cara yang sangat kecil — cara bahunya turun sedikit dari posisi tegangnya yang biasa, cara ia duduk di kursi tanpa segera membuka laptop seperti biasanya — tapi tidak bisa tidak Rani perhatikan karena ia sudah terlalu lama memperhatikan Arka untuk tidak menangkap hal-hal kecilnya.

Rani mencatat tiga hal itu. Menyimpannya. Dan melanjutkan slide yang sudah selesai dari tadi seolah tidak ada yang perlu dikomentari.

********

Sore itu, ketika semua orang sudah pulang dan ia masih di kantor untuk menyelesaikan laporan mingguan ke Jakarta, Rani melakukan sesuatu yang tidak biasa:

Ia berhenti mengetik di tengah kalimat.

Lihat selengkapnya