CEO BUCIN: Cinta Itu Investasi Nekat

Eko Witjaksono
Chapter #16

Chapter 16: Pagi Setelah (dan Satu Rahasia yang Akhirnya Harus Dibuka)

Pagi di Balikpapan tidak pernah tahu cara datang dengan pelan.

Matahari naik dengan cara yang tidak meminta persetujuan siapa pun — langsung, penuh, seperti seseorang yang sudah sangat yakin dengan jadwalnya sendiri. Cahaya masuk dari celah-celah tirai hotel dengan nada yang terlalu cerah untuk otak yang baru tidur empat jam.

Arka sudah duduk di tepi tempat tidurnya sejak sebelum alarm berbunyi.

Menatap lantai. Dengan cara orang yang bukan sedang melihat lantai tapi sedang melihat sesuatu yang jauh di baliknya.

Di meja di sudut kamarnya: laptop yang sudah menyala, satu folder dokumen yang belum ia buka sejak kemarin pagi, dan kopi yang sudah dingin karena ia lupa meminumnya.

"Bos," suara itu muncul dari udara kamar dengan nada orang yang baru bangun tapi sudah sangat ingin berkomentar. "Kamu tidur empat jam. Itu tidak sehat."

"Gue tahu."

"Dan kamu sudah menatap lantai selama dua belas menit."

"Gue juga tahu."

"Dan kopi itu sudah dingin sejak—"

"Gue tahu."

Sunyi. Selama tiga detik yang sangat dihargai.

"Mau aku kasih tahu apa yang kamu pikirkan?"

"Tidak."

"Amplop. Warung. Tangan di sisi meja yang sama."

Arka berdiri. Mengambil kopi yang sudah dingin. Meminumnya dalam satu teguk dengan cara orang yang tidak peduli pada suhu karena butuh sesuatu untuk dilakukan oleh tangannya.

"Gue perlu ngomong sesuatu ke tim hari ini," katanya.

"Tentang?"

"Tentang kenapa sebenarnya kita di sini."

Hening yang berbeda dari tadi. Lebih serius.

"Sudah siap?"

Arka menatap folder dokumen di mejanya. Folder yang sudah ada sejak sebelum mereka terbang ke Balikpapan. Folder yang selama ini ia tunda buka karena ada bagian dari dirinya yang tidak mau bisnis dan perasaan bercampur di tempat yang sama.

"Harus siap," katanya. "Karena kalau tidak sekarang, kapan."

********

Di kamar di lantai yang berbeda, Danu Pradipta sedang melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan dalam dua tahun terakhir:

Ia berdiri di depan cermin kamar hotelnya selama lebih dari tiga menit.

Bukan karena ada yang perlu dibenahi di penampilannya — rambutnya sudah rapi, kemejanya sudah lurus, sepatunya sudah disemir kemarin malam. Ia berdiri di sana karena otaknya sedang memproses sesuatu yang tidak ada formula matematisnya.

Jangan terlalu lama lagi.

Empat kata. Yang diucapkan Rani di ambang pintu lift semalam dengan cara yang tidak punya PR mode di baliknya.

Danu menatap refleksinya.

"Lo," katanya ke dirinya sendiri, "sudah dua tahun."

Refleksinya tidak menjawab. Tapi juga tidak membantah.

"Dan lo baru sadar kemarin malam bahwa nunggu bukan berarti aman. Nunggu juga bisa artinya... kehabisan waktu."

"Danu," suara itu muncul dari udara kamarnya, santai seperti orang yang baru ikut masuk setelah pintu dibuka, "kamu sedang ngobrol sama cermin."

"Gue tahu."

"Itu tidak lebih efektif dari ngobrol sama spreadsheet."

"Setidaknya cermin tidak punya pendapat."

"Aku punya pendapat."

"Gue tidak minta."

"Pendapatku adalah: sebelum kamu memutuskan apapun tentang Rani, ada sesuatu yang akan terjadi di kantor hari ini yang akan mengubah konteks semuanya."

Danu menoleh dari cermin. "Maksudnya?"

Lihat selengkapnya