Danu Pradipta tidak sering menyerah.
Ini bukan soal ego — ia cukup rendah hati untuk mengakui ketika ia salah, cukup pragmatis untuk tahu kapan sebuah strategi tidak bekerja dan perlu diganti. Dalam kamusnya, menyerah bukan kata yang memalukan. Hanya tidak efisien kalau dilakukan sebelum semua opsi diuji dengan sungguh-sungguh.
Dua tahun.
Dua tahun ia sudah menjalankan sistem penghindaran yang paling rapi yang bisa ia rancang — sistem yang pada dasarnya punya satu protokol inti: jaga jarak dari satu topik tertentu dengan cara yang tidak terlihat seperti menjaga jarak.
Topik itu bernama Rani Sasmara.
Dan sistem itu, minggu ini, sedang dalam kondisi kritis.
Bukan karena ada satu kejadian besar yang menghancurkannya. Lebih ke akumulasi hal-hal kecil yang masing-masing terlihat tidak berbahaya tapi kalau dikumpulkan membentuk sesuatu yang tidak lagi bisa ia atasi dengan patch darurat.
Danu memiliki dokumentasi internalnya sendiri tentang ini. Tidak tertulis di mana pun — ia tidak sebodoh itu — tapi sangat rapi tersusun di dalam kepalanya dalam format yang sangat Danu: kronologis, dengan catatan kaki, dan analisis singkat tentang kenapa masing-masing kejadian seharusnya tidak penting tapi ternyata penting.
********
Senin, 08.47:
Rani datang dengan rambut yang sedikit berbeda — cara mengikatnya lebih santai, sedikit kurang terstruktur dari standar hariannya.
Danu memperhatikannya selama setengah detik. Tepat setengah detik.
Lalu kembali ke laptopnya dengan kecepatan yang tidak natural.
Catatan internal: tidak relevan. Cara orang mengikat rambut bukan data yang perlu dicatat.
Catatan kaki: tapi sudah tercatat. Jadi.
*******
Senin, 10.23:
Rani presentasi ke klien via video call. Danu di meja sebelah, pura-pura tidak mendengar. Berhasil sekitar empat puluh persen.
Rani menggunakan satu frasa yang tidak ada dalam draft presentasi yang Danu baca kemarin — frasa yang lebih tepat sasaran dari versi draftnya, yang muncul begitu saja di tengah presentasi tanpa persiapan, dengan cara yang sangat Rani: terlihat mudah padahal tidak.
Danu berhenti mengetik selama dua detik.
Melanjutkan.
Catatan internal: improvisasi yang bagus. Objektif. Siapa pun akan berpikir begitu.
Catatan kaki: tidak semua orang berhenti mengetik karenanya.
********
Selasa, 12.11:
Makan siang. Warung. Berempat.
Rani memesan dengan cara yang selalu ia lakukan — membaca menu, memutuskan dalam dua puluh detik, menyampaikan pesanan dengan jelas. Efisien. Tidak ada yang menarik dari ini.
Kecuali ketika makanannya datang dan ada sambal yang tidak ia pesan dan ia mendorongnya ke tengah meja tanpa komentar — isyarat bahwa itu untuk siapa pun yang mau — Danu yang mengambilnya tanpa diminta, dan Rani melirik sebentar ke arahnya dengan sudut bibir yang bergerak sangat kecil.
Setengah detik. Mungkin kurang.
Catatan internal: ini bukan apa-apa.
Catatan kaki: gue sudah nulis "ini bukan apa-apa" sebanyak empat belas kali dalam tiga hari. Itu sendiri sudah data.
********
Selasa, 15.44:
Danu perlu file dari laptop Rani. Ia mengirim request via email seperti biasa — cara yang aman, cara yang profesional, cara yang menjaga jarak digital yang terasa lebih mudah dari pada jarak fisik.
Rani tidak membalas email.
Ia berdiri dari mejanya. Berjalan ke meja Danu. Meletakkan flashdisk.
"Lebih cepat," katanya. Lalu kembali ke mejanya.
Danu menatap flashdisk itu selama sepuluh detik.
Catatan internal: efisiensi operasional. Wajar.
Catatan kaki: gue menatap flashdisk selama sepuluh detik. Flashdisk. Benda plastik kecil. Sepuluh detik.
********
Rabu, 09.15:
Ini yang paling parah.
Danu sedang minum kopi. Kopi yang terlalu panas — ia tidak sabar menunggu — dan refleksnya menarik napas pendek karena lidahnya kena.
Rani yang sedang lewat di belakangnya tidak berhenti, tidak berkomentar, tapi tangannya bergerak — meletakkan satu gelas air putih di pojok mejanya tanpa suara, tanpa menoleh, dengan cara orang yang melakukan sesuatu karena sudah sangat terbiasa memperhatikan orang lain.
Lalu ia terus berjalan.