CEO BUCIN: Cinta Itu Investasi Nekat

Eko Witjaksono
Chapter #18

Chapter 18: Hal yang Terjadi di Dekat Server Room

Server room lantai dua tidak seharusnya jadi tempat yang punya cerita.

Ia ada untuk satu tujuan yang sangat jelas dan sangat tidak romantis: menyimpan peralatan, menjaga suhu, memastikan semua berjalan tanpa drama. Ruangan kecil dengan AC yang selalu lebih dingin dari ruangan lain — jenis dingin yang bukan dingin yang menyenangkan tapi dingin yang fungsional, yang ada bukan untuk kenyamanan manusia tapi untuk kenyamanan mesin. Bau kabel dan peralatan elektronik yang khas. Bunyi kipas yang konstan dan tidak pernah berhenti dan tidak peduli apakah kamu butuh ketenangan atau tidak.

Bukan tempat yang akan muncul di daftar "lokasi paling berkesan" versi siapa pun.

Bukan tempat yang romantis dalam definisi mana pun yang pernah ada dalam kamus bahasa mana pun di dunia mana pun.

Tapi semesta, seperti yang sudah sangat terbukti berkali-kali sejak chapter satu, tidak pernah peduli dengan definisi.

********

Rabu siang, Lira naik ke lantai dua untuk cek kondisi server setelah perbaikan bug yang ia selesaikan dua hari lalu.

Prosedur rutin — pastikan semua parameter stabil, catat kondisi, lapor ke tim Jakarta dalam format yang sudah ada templatenya. Estimasi waktu: sepuluh sampai lima belas menit. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang perlu dipersiapkan secara mental.

Lira masuk ke server room dengan cara yang sangat profesional dan sangat tidak mempersiapkan dirinya untuk apa pun selain angka-angka di layar monitoring.

AC server room menyambut dengan cara AC server room selalu menyambut: langsung, tanpa basa-basi, dengan suhu yang membuat siapa pun yang masuk tanpa jaket langsung menyesal keputusannya.

"Aduh." Lira menggosok lengannya sekali. Lalu membuka tablet dan mulai mencatat.

Parameter pertama: normal. Kedua: normal. Ketiga: sedikit di atas threshold tapi masih dalam batas aman — ia catat dengan tanda bintang untuk dilaporkan. Keempat, kelima, keenam: semua normal.

Sejauh ini sangat membosankan dengan cara yang sangat menyenangkan.

Sampai ia sampai di bagian bawah server rack.

Ada sesuatu yang tidak langsung terlihat dari atas — kabel yang posisinya sedikit bergeser dari layout awal, mungkin karena getaran atau karena seseorang menyentuhnya tanpa sadar. Bukan masalah serius. Tapi perlu dicatat dan dikembalikan ke posisi yang benar sebelum jadi masalah serius nanti.

Lira jongkok. Mengeluarkan senter kecil dari ponselnya. Memeriksa.

Satu menit. Dua menit. Tiga.

Terlalu konsentrasi untuk memperhatikan waktu atau suara dari luar.

********

Di lantai dua, sepuluh menit setelah Lira masuk ke server room, Arka menutup dokumennya.

Bukan karena sudah selesai — dokumen itu masih ada tiga halaman yang perlu ia baca. Tapi matanya sudah berhenti menyerap informasi dari halaman-halaman itu sejak beberapa menit lalu dan kakinya sudah bergerak ke arah pintu sebelum kepalanya sempat memberikan instruksi yang koheren.

Mau ke mana? tanya kepalanya.

Tidak tahu, jawab kakinya, dan terus berjalan.

Kakinya berhenti di depan pintu server room.

Arka menatap pintu itu. Pintu yang tidak ada alasan untuk ia buka. Yang di baliknya tidak ada yang memerlukan kehadirannya. Yang kepentingannya untuk berada di sana bisa dirangkum dalam satu kata: nol.

Ia membuka pintu.

********

"Oh," suara itu berbisik dari suatu tempat antara tangga dan langit-langit lantai dua, dengan nada orang yang baru saja menyaksikan sesuatu yang sangat ia antisipasi dan tidak kecewa dengan hasilnya. "Ini dia."

********

Di dalam server room, Lira masih jongkok di depan server rack dengan senter ponselnya, sangat konsentrasi dengan kabel yang perlu dikembalikan ke posisi yang benar, tidak mendengar pintu terbuka karena bunyi kipas yang konstan memang dirancang untuk menenggelamkan suara-suara lain.

Arka berdiri di ambang pintu.

Menatap ruangan yang kecil itu dengan cara orang yang baru menyadari bahwa ruangan yang sangat tidak ia rencanakan untuk dikunjungi ternyata sudah ia datangi.

Menatap Lira yang masih jongkok — rambut yang sedikit berantakan karena posisi jongkok di ruangan sempit, senter ponsel yang ia pegang dengan cara yang sangat teliti, tangannya yang bergerak dengan presisi yang tidak perlu untuk sesuatu yang ia sendiri tidak yakin sepenting apa.

Ini apa? tanya kepalanya kepada kakinya.

Kakinya tidak menjawab. Sudah puas dengan pencapaiannya hari ini.

********

Di lantai satu, Danu — yang baru saja naik ke lantai dua untuk memberikan dokumen yang sebenarnya tidak sangat mendesak tapi ia jadikan alasan — berhenti di anak tangga terakhir.

Melihat situasi di depannya: pintu server room terbuka setengah, Arka berdiri di ambang pintu dengan postur orang yang tidak tahu kenapa ia ada di sana tapi tidak berniat pergi, dan dari dalam server room suara Lira yang sedang bergumam tentang posisi kabel.

Danu menatap situasi itu selama tiga detik penuh.

Lalu berbalik. Turun kembali ke lantai satu. Dengan langkah yang sangat pelan dan sangat terkontrol.

Ia duduk di mejanya. Membuka laptopnya. Mengetik satu baris angka yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan hari ini.

Lalu mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan ke Rani yang sedang di ruang meeting kecil:

Danu: dokumennya bisa nanti aja gak

Rani: kenapa

Danu: situasi

Rani: situasi apa

Danu: situasi yang lebih baik kita biarkan berlangsung tanpa interupsi

Tiga menit tidak ada balasan.

Lalu:

Rani: oh.

Lalu:

Rani: oke.

Danu meletakkan ponselnya. Menatap langit-langit.

"Kamu bijaksana hari ini," suara itu berkomentar.

"Gue CFO." Danu membuka tab baru. "Gue tahu kapan harus tidak ikut campur."

"Dua hari lalu kamu melempar bolpen ke udara."

"Itu berbeda."

"Iya. Hari ini kamu lebih terkontrol."

Lihat selengkapnya