Festival nelayan itu lebih besar dari yang Arka bayangkan.
Sepanjang tepi laut — dari dermaga utama sampai beberapa ratus meter ke utara — ada deretan lapak dengan lampu-lampu yang menggantung di antara tiang-tiang kayu. Bau ikan bakar dan kelapa muda dan sesuatu yang manis yang tidak bisa langsung ia identifikasi. Suara musik tradisional dari arah panggung kecil yang dibuat dari papan kayu. Anak-anak berlari di antara kaki orang dewasa dengan bebas. Orang tua yang duduk di kursi lipat membawa kipas. Perahu-perahu nelayan yang dihias lampion mengapung di dekat dermaga — kecil-kecil, warnanya hangat, memantulkan diri di air yang gelap dengan cara yang terlalu indah untuk disebut kebetulan.
Lira berjalan di sebelah Arka dengan cara yang sudah natural dari yang seharusnya untuk dua orang yang baru kenal tiga minggu.
"Ini setiap tahun?" tanya Arka.
"Iya." Lira menatap perahu-perahu berlampion. "Doa untuk laut. Supaya musim tangkap berikutnya baik." Ia menunjuk ke arah panggung. "Nanti ada prosesi melepas lampion ke laut. Itu bagian paling ditunggu."
"Kamu ikut setiap tahun?"
"Dari kecil." Ada sesuatu di suaranya yang lebih hangat dari biasanya. "Ini salah satu hal yang paling aku suka dari sini."
Di belakang mereka, Danu dan Rani berjalan dengan jarak yang tidak terlalu dekat tapi tidak terlalu jauh — dua orang yang sudah menemukan ritme jalan yang sama tanpa pernah mendiskusikannya.
"Banyak orang," komentar Danu.
"Festival." Rani menatap lampu-lampu yang bergelantungan. "Tentu banyak orang."
"Gue tidak pernah ke festival nelayan sebelumnya."
"Aku juga tidak."
Mereka berjalan melewati satu lapak yang menjual kerajinan tangan — miniatur perahu kayu, gantungan kunci dari kerang, tenun dengan motif yang tidak Rani kenal tapi sangat tertarik.
Ia berhenti.
Danu berhenti juga — karena baru sadar dua detik kemudian bahwa ia berjalan sendiri, menoleh, melihat Rani sudah di lapak itu.
Ia balik.
"Apa itu?" tanyanya, berdiri di sebelah Rani yang sedang memegang sebuah gelang dengan motif tenun kecil.
"Tenun." Rani memutar gelang itu di tangannya. "Motifnya bagus."
"Beli?"
"Mungkin." Rani menaruhnya lagi. Mengambil yang lain.
Penjualnya — perempuan paruh baya yang wajahnya penuh dengan kerutan yang semua mengarah ke atas — memandang mereka dengan ekspresi yang terlalu jelas untuk disalahartikan.
"Pasangan?" tanyanya ke Rani.
Rani menoleh ke Danu. Danu menoleh ke Rani.
"Tidak," kata keduanya, bersamaan, dengan kecepatan yang tidak perlu setinggi itu.
Penjual itu tersenyum dengan cara orang yang sudah sangat lama hidup untuk percaya pada apa yang ia lihat lebih dari apa yang ia dengar.
"Iya iya." Ia kembali ke rajutannya. "Gelangnya cocok untuk pasangan, tapi satu juga bagus."
Rani meletakkan gelang itu dengan cara yang sangat terkontrol. Mengambil dompetnya.
Danu menatap ke arah lain — ke perahu berlampion di kejauhan, ke anak-anak yang berlari, ke langit yang sudah gelap penuh.
Ke mana pun kecuali ke ekspresi penjual itu yang masih terasa seperti sedang melihat sesuatu.
********
Di bagian lain festival, Arka dan Lira sudah di depan lapak makanan.
Ikan bakar, kerang rebus, jagung yang dibakar di atas arang — deretan pilihan yang membuat Arka menyadari bahwa makan siang tadi tidak cukup.
"Yang mana yang bagus?" tanyanya.
"Semua." Lira sudah mengantre di satu lapak. "Tapi ikan kakap di sini paling bagus. Ibu Ratna yang masak — dari dulu sampai sekarang."