Setelah festival, mereka berjalan pulang dengan cara yang tidak direncanakan.
Bukan pulang bersama — tujuan mereka berbeda, arahnya berbeda, kendaraan yang menunggu berbeda. Tapi ada bagian dari festival ke parkiran, dari parkiran ke arah yang masing-masing perlu tuju, yang tempuhnya bisa dipersingkat dengan berjalan berempat sebentar sebelum berpisah di persimpangan.
Dan di persimpangan itu, mereka berhenti.
Arka dan Lira ke kiri — Lira menuju dermaga, Arka menuju hotel yang arahnya tidak jauh dari sana. Danu dan Rani ke kanan — hotel mereka di arah yang sama.
Persimpangan yang sederhana. Yang tidak perlu berlangsung lebih lama dari yang perlu.
"Makasih sudah tunjukkan festival-nya," kata Danu ke Lira.
"Sama-sama." Lira mengangguk ke Danu, ke Rani. "Sampai besok."
"Sampai besok." Rani tersenyum — senyum yang tidak ada campuran PR di dalamnya malam ini. Sesuatu yang lebih sederhana.
Danu dan Rani berbelok ke kanan. Berjalan berdampingan di jalan yang lebih sepi dari tadi, dengan suara festival yang sudah mulai jauh.
Arka dan Lira berbelok ke kiri.
********
Jalan ke arah dermaga lebih gelap dari jalan utama — lampu jalanannya lebih jarang, pohon-pohon di sisi jalan lebih lebat. Tapi Lira berjalan dengan cara orang yang sangat hafal jalannya bahkan tanpa melihat — langkahnya tidak ragu, tidak mencari-cari.
Arka mengikuti dengan cara yang tidak perlu mengikuti karena hotelnya ada di cabang jalan yang lebih awal dari dermaga. Tapi kakinya terus berjalan.
"Hotelmu bukan ke arah ini," kata Lira.
"Tahu."
"Tapi kamu terus jalan."
"Tahu."
Lira menatapnya dari sudut mata. "Mau mengantar?"
"Sesuatu seperti itu."
"Aku sudah jalan sendiri ke dermaga sejak bisa jalan."
"Tahu."
Hening selama beberapa langkah.
"Arka."
"Ya?"
"Kenapa sebenarnya?"
Arka tidak menjawab langsung. Jalan dua langkah, tiga, empat — dengan cara orang yang sedang menemukan kata yang paling jujur di antara semua kata yang tersedia.
"Karena gue belum mau berpisah di persimpangan tadi," katanya akhirnya. Sederhana. Tanpa hiasan.
Lira berhenti berjalan.
Arka ikut berhenti — satu langkah di depan, menoleh ke belakang.
Di bawah lampu jalan yang jarang dan cahaya bulan yang tidak terlalu terang tapi cukup, Lira menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa ia baca dengan cara biasa. Bukan kaget. Bukan tidak nyaman. Sesuatu di antaranya — sesuatu yang sedang memproses, sedang memutuskan.
"Itu..." Lira memilih kata, "...cukup jujur."
"Gue sedang mencoba kebiasaan baru."
"Jujur?"
"Iya."
"Bagaimana hasilnya sejauh ini?"
Arka memikirkannya sebentar. "Lebih nyaman dari yang gue kira."
Lira menatapnya tiga detik lagi. Lalu melanjutkan jalan — tapi kali ini lebih pelan dari sebelumnya, dengan cara orang yang tidak lagi terburu-buru sampai ke tujuan.
Arka berjalan di sebelahnya.
Jarak yang tidak punya nama — yang sudah ada sejak hari pertama dan tidak pernah berubah secara fisik — malam ini terasa berbeda. Bukan lebih dekat. Tapi lebih diakui.
"Lira." Arka berbicara ke depan, ke jalan di depan mereka. "Ada sesuatu yang harus gue ceritakan."
Lira tidak mempercepat langkah, tidak memperlambat. "Tentang apa?"
"Tentang kenapa gue pertama kali ke Balikpapan." Ia berhenti sebentar. "Bukan versi yang Rani bilang ke ibumu. Versi yang sebenarnya."
Lira berjalan dua langkah sebelum berhenti. Menoleh ke Arka.
"Aku juga punya sesuatu yang harus aku ceritakan," katanya.
Arka menatapnya.