Tiga hari berikutnya, kantor itu berubah.
Bukan berubah secara fisik — meja masih di tempat yang sama, AC masih berbunyi dengan ritme yang sama, kopi masih ada setiap pagi di posisi yang sudah sangat masing-masing. Tapi ada sesuatu dalam cara udara bergerak di ruangan itu yang berbeda. Seperti suasana sebelum dan sesudah seseorang menemukan arah yang sesungguhnya.
Lira bekerja dengan cara yang belum pernah ada di kantor ini sebelumnya.
Bukan dengan cara yang dramatik — tidak ada sesi kerja marathon yang diiringi musik epik, tidak ada papan penuh rumus yang membuat orang lain merasa bodoh saat melihatnya. Ia bekerja dengan cara yang sangat tenang, sangat metodis, dengan ritme yang terasa seperti seseorang yang sudah sangat lama tahu apa yang perlu dilakukan dan baru sekarang mendapat ruang untuk melakukannya.
Jam delapan pagi sampai jam sebelas: memetakan infrastruktur jaringan yang sudah ada di wilayah Kalimantan Timur — data yang sebagian ia dapat dari dokumen Maheswara Group, sebagian dari sumber-sumber yang ia hubungi sendiri lewat jaringan yang tidak ada yang tahu ia punya.
Jam sebelas sampai makan siang: mengidentifikasi gap antara kondisi lapangan sesungguhnya dan asumsi-asumsi yang selama ini dipakai tim teknis Jakarta.
Sore: mulai menyusun framework alternatif. Bukan mengganti seluruhnya — lebih seperti seseorang yang mengambil bangunan yang sudah hampir jadi dan memasang fondasi yang seharusnya ada dari awal.
********
Hari kedua, Danu naik ke lantai dua dengan wajah seseorang yang baru melihat sesuatu yang mengubah perspektifnya.
"Bos."
Arka mendongak dari laptopnya.
"Lo sudah lihat yang Lira kerjain kemarin?" Danu meletakkan tabletnya — layar menampilkan dokumen yang Lira share ke folder tim malam sebelumnya. "Ini bukan... ini bukan kerja orang yang baru dua minggu kenal proyeknya."
Arka mengambil tablet itu. Membaca.
Dan semakin ia membaca, semakin ada sesuatu di dalam dadanya yang bergerak ke arah yang tidak bisa ia stop dengan logika mana pun.
Lira tidak hanya memperbaiki gap yang ia temukan di hari pertama. Ia membangun sesuatu yang baru — sebuah arsitektur keamanan siber yang mempertimbangkan hal-hal yang tidak ada dalam dokumen manapun: pola cuaca yang mempengaruhi kestabilan jaringan di musim tertentu, karakteristik geografis yang menciptakan blind spot unik di wilayah pesisir, bahkan pola aktivitas penduduk lokal yang kalau tidak diperhitungkan bisa menjadi titik kerentanan yang tidak terdeteksi sistem manapun.
"Dia tahu Kalimantan," kata Arka pelan.
"Tahu?" Danu mengangkat alis. "Bos, dia adalah Kalimantan. Dia tumbuh di sini. Jaringan di sini itu bukan data buat dia — itu... itu kayak hafalan tubuh."
Arka mengembalikan tablet itu. Menatap jendela.
Di bawah, dari jendela lantai dua, ia bisa melihat meja Lira. Lira yang sedang mengetik sesuatu, headset di satu telinga, sesekali menghentikan jarinya untuk menatap diagram di layar dengan ekspresi yang sangat sulit dibaca — campuran konsentrasi dan sesuatu yang lebih dalam dari itu, sesuatu yang terasa seperti seseorang yang sedang berbicara dengan sesuatu yang sudah lama ia kenal.
"Nu," kata Arka. Pelan.
"Ya, Bos?"
"Kalau kita tidak ke sini... kita tidak akan pernah tahu ini ada."
Danu menatapnya. Lalu menatap ke bawah, ke meja Lira yang sama.
"Iya," katanya, dengan nada yang untuk pertama kalinya sejak Balikpapan tidak punya deadpan di baliknya. "Dan itu menakutkan."