CEO BUCIN: Cinta Itu Investasi Nekat

Eko Witjaksono
Chapter #23

Chapter 23: Tiga Minggu, Satu Arsitektur, Dan Satu Tamu Yang Tak Diumumkan

Minggu pertama persiapan IKN berlangsung dengan kecepatan yang membuat kalender terasa seperti dekorasi.

Lira bekerja dengan cara yang membuat Danu — yang sudah bertahun-tahun mengelola orang-orang dengan berbagai kecepatan kerja — harus mengakui bahwa ia belum pernah melihat kombinasi seperti ini: kecepatan yang tidak terburu-buru, kedalaman yang tidak mengorbankan kecepatan.

"Dia tuh..." Danu berkata ke Arka pada suatu sore, sambil menatap Lira yang sedang di lantai satu dan mereka berdua di lantai dua, "...kayak orang yang sudah lama bawa sesuatu yang berat sendirian. Tapi sekarang baru dikasih tempat untuk meletakkannya."

Arka menatap ke bawah. Lira sedang berdiskusi dengan tim teknis Jakarta via video call — dan dari ekspresi tim Jakarta yang bisa ia lihat di layar yang terpantul dari sudut tertentu, mereka sedang dalam keadaan yang bisa digambarkan sebagai: takjub yang sedikit memalukan.

"Iya," kata Arka pelan.

"Dan elo," Danu melanjutkan, dengan nada yang sangat tidak membantu, "sudah turun ke lantai satu tujuh kali hari ini."

"Gue ada keperluan di lantai satu."

"Tujuh kali, Bos. Gue hitung."

"Bisa kamu tidak menghitung hal-hal yang tidak perlu dihitung?"

"Gue CFO. Menghitung adalah pekerjaan gue."

"Itu argumen yang sama yang Lira pakai untuk menjelaskan kenapa dia memperhatikan cara kamu meletakkan laptop," suara itu berkomentar dengan nada yang sangat menikmati situasi ini.

Danu menunjuk ke udara. "Ini dia. Ini yang gue maksud."

Arka menutup laptopnya. Berdiri. Berjalan ke tangga.

"Keperluan kedelapan," kata Danu ke punggungnya.

********

Di lantai satu, Lira baru selesai video call ketika Arka turun.

Ia melihat ke atas — refleks, karena langkah di tangga itu sudah sangat ia kenali — dan ada sesuatu di pertemuan pandang itu yang berlangsung satu detik lebih lama dari yang profesional, satu detik lebih pendek dari yang ingin diakui.

"Ada yang perlu dilihat." Arka meletakkan sebuah dokumen di mejanya. "Ini lokasi IKN yang akan kita kunjungi minggu depan. Perlu kamu brief dulu sebelum ke sana."

Lira mengambil dokumen itu. Membuka halaman pertama.

Peta. Koordinat. Deskripsi infrastruktur yang sudah terbangun dan yang masih dalam proses. Foto-foto udara yang diambil dari drone.

"Ini sudah sangat detail." Ia membalik halaman demi halaman. "Siapa yang menyusun ini?"

"Tim Jakarta."

"Kapan?"

"Tiga bulan lalu."

Lira berhenti di satu halaman. Mengerutkan kening sedikit. "Peta jaringan di section tujuh ini... ada yang tidak sinkron dengan kondisi geografis aktualnya."

Arka menarik kursi. Duduk di sebelahnya — di posisi yang memungkinkan keduanya melihat dokumen yang sama, dengan jarak yang sudah sangat konsisten sejak pertama kali mereka duduk berdampingan di warung makan minggu pertama.

"Tunjukkan."

Dan Lira menunjukkan — dengan cara yang sangat langsung, jarinya bergerak di atas peta, menandai titik-titik yang tidak konsisten dengan cara seseorang yang membaca peta seperti membaca wajah teman lama.

Arka memperhatikan. Bukan hanya apa yang Lira tunjukkan — tapi cara ia menunjukkan. Cara jarinya bergerak di atas kertas. Cara matanya bergerak antara satu titik dan titik lain. Cara bibirnya sedikit mengerucut ketika ia menemukan sesuatu yang tidak ia harapkan ada di sana.

Lihat selengkapnya