Besok paginya, sebelum kantor mulai ramai, Rani sudah duduk di kafe kecil dua blok dari hotel — tempat yang ia pilih karena tidak ada yang dari tim yang biasa mampir ke sini, dan karena meja pojoknya menghadap ke jalan yang memungkinkan ia melihat siapa yang datang dari jauh.
Mama Arka tiba tepat waktu.
Dengan cara Mama Arka selalu tiba tepat waktu — bukan terburu-buru, bukan santai, tapi dengan presisi seseorang yang sudah menghitung langkahnya jauh sebelum berangkat.
Ia duduk di hadapan Rani. Memesan teh. Menatap Rani dengan cara yang membuat Rani merasa seperti sedang duduk di depan seseorang yang sudah membaca seluruh laporan sebelum rapat dimulai.
"Ceritakan," kata Mama Arka. Langsung. Tanpa basa-basi yang tidak perlu. "Kondisi yang sesungguhnya."
Rani menarik napas kecil.
Dan bercerita. Dari awal. Dari kantor cabang yang lahir dari kebohongan yang kemudian jadi kenyataan, dari whiteboard yang membuat Arka berdiri terlalu lama, dari warung ikan bakar dan hujan dan payung bebek, dari amplop yang jatuh dari tas Lira, dari dermaga malam hari.
Mama Arka mendengarkan tanpa memotong. Teh di tangannya tidak diminum sampai Rani selesai.
"Dan framework IKN-nya?" tanya Mama akhirnya.
"Saya sudah baca semuanya." Rani menatap mejanya. "Tante... framework yang Lira susun dalam satu minggu lebih baik dari yang tim teknis Jakarta kerjakan dalam tiga bulan."
Sunyi.
Teh Mama Arka masih belum diminum.
"Tante tahu ini akan terjadi?" tanya Rani pelan.
Mama Arka mengambil cangkir tehnya. Minum satu teguk. Dengan cara orang yang butuh waktu untuk menemukan kalimat yang paling tepat.
"Mama tidak tahu ini akan terjadi." Ia menaruh cangkirnya. "Mama hanya tahu bahwa Arka pergi ke Balikpapan bukan hanya karena komputer yang mengetik dua kata. Ada sesuatu yang lebih besar dari itu yang menariknya."
"Ayahnya?"
"Bagian dari itu." Mama menatap Rani langsung. "Tapi Mama juga tahu bahwa Maheswara tidak pernah pergi ke suatu tempat tanpa membawa pulang sesuatu yang lebih berharga dari yang mereka bawa saat berangkat."
Rani menatap mejanya.
"Rani." Suara Mama lebih pelan. Bukan tekanan — lebih seperti seseorang yang ingin memastikan kata-katanya sampai ke tempat yang tepat. "Mama tidak pernah minta kamu mencintai Arka."
Rani mendongak. "Tante pernah bilang—"
"Mama minta kamu ada. Dekat." Mama menggeleng kecil. "Tapi Mama tidak pernah minta kamu merasa sesuatu yang tidak kamu rasakan. Itu..." ia berhenti, "...itu bukan sesuatu yang bisa diminta. Mama tahu itu."
Rani diam.
"Yang Mama tidak tahu," lanjut Mama pelan, "adalah apakah yang kamu rasakan selama ini... genuine. Atau karena kamu terlalu baik dalam melakukan apa yang diminta darimu."
Pertanyaan yang sudah berminggu-minggu ada di kepala Rani tapi tidak pernah ia beri ruang untuk dijawab dengan jujur.
"Saya tidak tahu, Tante," kata Rani akhirnya. Paling jujur yang pernah ia ucapkan ke Mama Arka. "Dan itu yang paling menakutkan."
Mama Arka menatapnya lama. Lalu mengangguk pelan — bukan anggukan yang menilai, tapi anggukan yang menerima.
"Itu sudah cukup jujur." Ia mengambil tasnya. "Sekarang — tunjukkan Mama kantornya."
********
Mama Arka tiba di kantor jam sepuluh pagi.
Arka yang baru turun dari lantai dua dengan dokumen di tangan berhenti di anak tangga terakhir.
Menatap ibunya yang berdiri di dekat pintu masuk — dengan koper kecil di sebelahnya dan ekspresi yang sangat tenang untuk seseorang yang baru saja terbang dari Jakarta tanpa memberitahu siapa pun.
"Ma."
"Arka." Mama menatapnya dengan cara yang mengandung setidaknya empat belas hal berbeda dalam satu tatapan. "Sudah makan?"
"Ma—"
"Sudah makan?"
"Sudah."
"Bagus." Mama melangkah masuk ke kantor dengan cara yang tidak memerlukan izin dari siapa pun. "Mana kantornya?"
Danu — yang dari mejanya menyaksikan ini semua — membuka mulut. Menutupnya. Membuka lagi.
"Rating," suara itu berbisik ke arahnya, "naik enam poin dalam dua detik."