Nusantara dari udara terlihat seperti sesuatu yang belum selesai tapi sudah sangat tahu akan jadi apa.
Dari jendela helikopter kecil yang membawa mereka dari Balikpapan, Lira menatap ke bawah dengan cara yang berbeda dari cara Arka menatap ke bawah. Arka melihat proyek — skala, potensi, tantangan logistik yang harus diselesaikan. Lira melihat sesuatu yang lain: lanskap yang ia sudah kenal sebagian dari peta dan data, tapi baru sekarang ia lihat dalam bentuk yang sesungguhnya.
Hutan yang masih ada di sisi yang satu. Konstruksi yang bergerak di sisi yang lain. Dan di antara keduanya, garis-garis yang sedang ditarik oleh tangan-tangan manusia — garis yang akan menentukan bagaimana sebuah kota baru bernafas, bergerak, dan melindungi dirinya sendiri.
"Pertama kali ke sini?" tanya Arka.
Lira mengangguk. Tidak bisa menoleh karena matanya tidak mau meninggalkan jendela.
"Kamu tahu," kata Arka pelan, "dari data dan peta yang sudah kamu pelajari — ini akan terlihat berbeda dari yang kamu bayangkan."
"Lebih besar."
"Iya."
"Tapi juga..." Lira akhirnya menoleh. "...lebih rentan dari yang terlihat dari atas."
Arka menatapnya.
"Di bagian timur laut sana." Lira menunjuk tanpa ragu. "Topografi konturnya menciptakan blind spot alami. Dari atas tidak kelihatan, tapi di permukaan — itu titik yang paling susah dicakup oleh sistem konvensional."
Arka menatap ke arah yang Lira tunjuk. Lalu kembali ke Lira.
Gue baru saja diajari membaca wilayah oleh seseorang yang belum pernah ke sini sebelumnya tapi sudah tahu lebih banyak dari orang-orang yang sudah beberapa kali survei.
Di kursi di belakang mereka, Danu menatap ke luar jendela dengan ekspresi orang yang mencoba terlihat fokus pada pemandangan tapi pikirannya ada di meja warung semalam.
Di sebelah Danu, Rani menatap dokumen di tangannya. Tapi matanya tidak bergerak membaca — hanya menatap satu titik di halaman yang sama sejak sepuluh menit lalu.
Danu meletakkan tangannya di lengan kursi. Tepat di sebelah tangan Rani yang juga ada di lengan kursi yang sama.
Tidak menyentuh. Hanya di sana.
Rani tidak memindahkan tangannya.
"Rating," suara itu berbisik ke seluruh helikopter kecil itu, "naik lagi."
Tidak ada yang menanggapi. Helikopter terus bergerak ke arah ibu kota baru yang sedang belajar caranya berdiri.
********
Hari pertama di IKN: briefing resmi.
Ruang pertemuan di gedung sementara yang sudah lebih permanen dari yang namanya menyiratkan — dinding beton, AC yang terlalu dingin, meja panjang dengan kursi-kursi yang serius. Di satu sisi: panel evaluator dari beberapa kementerian. Di sisi lain: tim Maheswara Group.
Arka memimpin pembukaan. Dengan cara yang sudah sangat ia kuasai — terukur, berwibawa, tidak satu kata pun terbuang.
Lalu Lira yang berbicara.
Dan di sini semesta memutuskan bahwa ia sudah terlalu lama menahan diri.
Tepat ketika Lira mulai presentasi bagian kedua — bagian yang paling teknis, yang berisi arsitektur sistem yang ia susun dari nol — laptop presentasi nge-glitch.
Slide berganti sendiri. Bukan ke slide berikutnya — ke slide yang tidak seharusnya ada di presentasi ini. Sebuah diagram yang Lira gambar sebagai catatan pribadi, bukan untuk ditampilkan.
Diagram yang jauh lebih detail, jauh lebih komprehensif, dari apa yang ada di slide resmi.
Ruangan itu hening.
Salah satu evaluator — perempuan lima puluhan dari kementerian yang sudah sangat lama berpengalaman membaca presentasi yang dibuat untuk terlihat bagus — mendongak dari catatannya dan menatap layar dengan ekspresi yang berubah.
"Itu..." ia menunjuk layar, "...bukan yang ada di dokumen yang kami terima."
Lira menatap layarnya. Menatap diagram yang terpampang tanpa ia minta. Menarik napas satu detik.
Lalu — dengan cara orang yang sudah sangat terbiasa dengan dunia yang nge-glitch dan belajar untuk tidak melawan tapi memanfaatkan — ia berkata:
"Bukan. Itu catatan kerja saya. Lebih detail dari yang ada di dokumen resmi karena ini yang saya gunakan untuk berpikir, bukan untuk presentasi."
"Bisa dijelaskan?"
"Boleh?"
Evaluator itu mengangguk.
Dan Lira menjelaskan. Bukan dengan cara yang sudah ia siapkan dalam script presentasi yang rapi — tapi dengan cara yang lebih baik dari itu: cara seseorang yang benar-benar mengerti apa yang ia bicarakan, yang tidak butuh script karena materi itu sudah ada di dalam dirinya bukan di luar.
Arka berdiri di sisi ruangan.
Menatap Lira yang berbicara di depan panel evaluator. Yang menjawab pertanyaan-pertanyaan teknis yang datang bertubi-tubi dengan cara yang tidak defensif tapi sangat solid. Yang menunjukkan diagram-diagram yang tidak ada di dokumen resmi tapi jauh lebih meyakinkan dari semua yang ada di sana.
Dan ada sesuatu yang terjadi di dalam dadanya — sesuatu yang tidak ada dalam kamus CEO mana pun, tidak ada dalam formula keputusan bisnis mana pun, tidak bisa divalidasi oleh data mana pun — yang memutuskan bahwa inilah saatnya berhenti pura-pura tidak ada.
Gue tidak bisa membiarkan orang ini pergi.
Bukan dalam arti bisnis. Bukan dalam arti proyek. Dalam arti yang jauh lebih sederhana dan jauh lebih besar dari itu.