Penerbangan kembali ke Balikpapan berlangsung dalam suasana yang berbeda dari penerbangan pergi.
Bukan suasana yang bisa dijelaskan dengan kata-kata yang ada di kamus umum. Lebih ke — semua orang di dalam pesawat kecil itu membawa sesuatu yang berbeda dari yang mereka bawa saat berangkat. Sesuatu yang lebih berat dalam arti yang tidak selalu berat.
Mama Arka duduk di barisan depan, menatap luar jendela dengan ekspresi seseorang yang sudah mendapatkan jawabannya dan sedang memproses apa artinya untuk hal-hal yang selanjutnya. Di tangannya, secangkir teh dari termos kecil yang selalu ia bawa ke mana pun — kebiasaan yang Arka warisi tanpa pernah sadar mewarisinya.
Rani di sebelahnya, membaca dokumen yang sudah sangat ia kenal tapi tetap dibacanya karena butuh sesuatu yang mengisi tangan dan mata sementara pikirannya ada di tempat lain.
Di barisan belakang, Danu dan Lira. Danu menatap jendela dengan cara orang yang sedang memproses terlalu banyak hal sekaligus dan memutuskan bahwa pemandangan awan adalah distraksi yang paling aman. Lira membaca dokumen teknis dengan cara yang sangat genuine — karena memang ada hal-hal yang perlu dibaca dan otak Lira tidak bisa tidak bekerja bahkan setelah dua hari yang sangat tidak biasa.
Dan di barisan tengah, Arka.
Yang menatap ke depan dengan cara yang sudah sangat berbeda dari cara ia menatap ke depan sebelum ke Nusantara. Bukan cara CEO yang memikirkan agenda berikutnya. Bukan cara seseorang yang sedang menghitung kemungkinan-kemungkinan. Cara seseorang yang baru saja meletakkan sesuatu yang sangat berat di tepi sungai yang gelap dan sedang menikmati betapa berbedanya rasanya berjalan tanpa beban itu.
********
"Bos."
Danu dari kursi belakang, berbisik cukup keras untuk didengar tapi cukup pelan untuk terdengar seperti tidak sengaja didengar.
Arka menoleh setengah.
"Gue cuma mau bilang," kata Danu, dengan suara yang sangat terkontrol tapi matanya mengkhianati sesuatu yang sangat dekat ke antusias untuk ukuran seorang CFO deadpan, "bahwa tadi malam gue lihat kamu dan Lira dari jendela penginapan gue."
Arka memejamkan mata satu detik. "Danu—"
"Gue tidak mau tahu detailnya." Danu mengangkat satu tangan. "Gue hanya mau bilang bahwa gue senang. Dengan cara yang sangat profesional dan tidak emosional sama sekali."
"Lo terlihat sangat emosional sekarang."
"Gue tidak emosional." Danu menarik napas. "Gue hanya..." ia berhenti lagi. Mengambil napas untuk kedua kalinya dalam sepuluh detik — frekuensi yang sangat tidak Danu. "Gue senang, Bos. Itu saja. Gue senang kamu akhirnya—" ia berhenti untuk ketiga kalinya.
"Akhirnya apa, Nu?"
"Akhirnya jadi manusia yang lebih utuh." Keluar lebih pelan dari yang ia rencanakan, lebih jujur dari yang biasanya keluar dari mulut seseorang yang sudah dua tahun sangat menjaga filter antara pikiran dan ucapan. "Lo sudah lama terlalu banyak di kepala dan terlalu sedikit di tempat lain."
Arka menatapnya dari sudut mata.
"Jangan ulang itu ke siapa pun," kata Danu cepat, kembali ke nada normalnya. "Itu tidak pernah keluar."
"Sudah keluar, Nu."
"Tekanan udara."
"Danu," suara itu berbisik dengan nada yang sangat menikmati momen ini, "kamu hampir nangis."
"GUE TIDAK HAMPIR NANGIS."
Lira mendongak dari dokumennya. "Danu, kamu baik-baik saja?"
"Baik. Sangat baik. Tekanan udara."
"Kita sudah terbang lima belas menit."
"Tekanan udara kadang membutuhkan waktu untuk terasa."
Lira menatapnya. Lalu menatap ke arah Arka yang duduk di depan. Sesuatu di sudut matanya bergerak — sangat kecil, sangat cepat, sesuatu yang tidak berhasil disembunyikan dari seseorang yang duduk sedekat Danu.
Danu melihatnya. Dan memutuskan bahwa hari ini adalah hari di mana ia tidak akan berpura-pura tidak melihat hal-hal yang ia lihat.
"Lira."
"Ya?"
"Terima kasih."
Lira menoleh. "Untuk apa?"
"Untuk membuat bos gue jadi manusia yang lebih penuh." Danu kembali ke jendelanya. "Dia sudah lama sekali terlalu banyak di kepala dan terlalu sedikit di hati."
Lira menatap Danu selama beberapa detik yang sangat panjang.