Ada satu momen yang Rani tidak rencanakan.
Bukan di percakapan dengan Mama Arka, bukan di warung dengan Danu, bukan di mana pun yang punya konteks cukup dramatis untuk sebuah keputusan besar.
Momen itu terjadi di Rabu siang, di dapur kecil kantor, ketika Rani sedang membuat kopi dan Arka masuk untuk mengambil air — dan untuk dua menit mereka berdua di ruangan kecil itu dengan cara yang sangat biasa, sangat tidak dramatis, sangat seperti semua hari-hari sebelumnya.
Tapi kali ini, Rani benar-benar melihat.
Bukan melihat Arka sebagai CEO yang ia bantu, bukan melihat Arka sebagai seseorang yang Mama-nya minta ia jaga. Melihat Arka sebagai seseorang yang dalam dua minggu terakhir berubah dengan cara yang sangat pelan tapi sangat nyata — seseorang yang turun ke lantai satu delapan kali sehari, yang membawa payung bebek tanpa protes, yang duduk di dermaga jam sebelas malam dan kembali dengan sesuatu di matanya yang belum pernah ada sebelumnya.
Dan Rani, yang sudah sangat lama melatih kemampuannya untuk membaca hal-hal yang tidak diucapkan, tidak butuh waktu lama untuk membaca ini:
Ini bukan untukku.
Bukan kalimat yang menyakitkan. Tidak dalam cara yang ia bayangkan selama berminggu-minggu sebelum ini. Lebih seperti — kalimat yang sudah ada lama, yang sudah diketahui tapi belum diakui, yang ketika akhirnya diakui justru terasa seperti melepas sesuatu yang sudah terlalu lama ia pegang bukan karena mau tapi karena tidak tahu cara meletakkannya.
"Ran?"
Arka memperhatikan. Ia berdiri dengan botol air di tangan, menatap Rani yang berdiri di depan mesin kopi dengan ekspresi yang sedikit berbeda dari biasanya.
"Tidak apa-apa." Rani mengambil cangkirnya. "Lagi mikir presentasi."
"Tiga hari lagi."
"Tahu." Ia berbalik. "Kamu sudah tinjau bagian yang Lira revisi semalam?"
"Sudah." Arka mengisi botol airnya. "Bagus. Lebih bagus dari versi sebelumnya."
"Iya." Rani berjalan ke pintu. "Arka."
"Ya?"
Ia berhenti di ambang pintu dapur kecil itu. Menoleh setengah.
"Kamu berbeda dari sebelum ke sini."
Arka menatapnya.
"Bukan kritik." Rani tersenyum — senyum yang paling jujur yang pernah ia tunjukkan ke Arka dalam seluruh waktu mereka mengenal satu sama lain. "Hanya observasi. Perbedaan yang baik."
Dan ia melanjutkan ke mejanya.
Meninggalkan Arka di dapur kecil itu dengan botol air di tangan dan kalimat yang masih bergema — dan mungkin, pertama kalinya, mengerti bahwa Rani sudah lama tahu lebih dari yang pernah ia tunjukkan.
********
Sore itu, Rani pergi ke pantai.
Sendiri. Bukan ke dermaga Lira — ke pantai yang berbeda, satu yang tidak punya banyak cerita di dalamnya, yang hanya ada pasir dan air dan angin yang tidak peduli pada siapa pun yang berdiri di tepinya.
Ia berdiri di sana selama dua puluh menit.