CEO BUCIN: Cinta Itu Investasi Nekat

Eko Witjaksono
Chapter #28

Chapter 28: Presentasi (dan Semesta yang Akhirnya Bisa Bernapas)

Hari presentasi tiba dengan cara yang tidak dramatis.

Tidak ada yang terlambat bangun. Tidak ada yang salah memasang alarm. Tidak ada insiden teknis di pagi hari yang membuat semua orang panik. Semesta — yang sudah beberapa minggu tidak bisa berhenti nge-glitch — rupanya memutuskan bahwa hari ini ia akan berperilaku.

Atau mungkin hanya menyimpan energinya untuk nanti.

Di lobi hotel, jam tujuh pagi, mereka berkumpul sebelum berangkat. Danu sudah ada duluan — dengan empat kopi takeaway dari kafe di seberang hotel, dibagikan tanpa bertanya karena sudah tahu siapa suka apa.

"Nu," kata Rani menerima kopinya, "kamu tidur berapa jam?"

"Cukup."

"Itu bukan jawaban."

"Lima jam."

"Itu tidak cukup."

"Cukup untuk CFO yang sudah memeriksa semua angka presentasi tiga kali." Danu menyeruput kopinya. "Kalau ada yang salah di bagian finansial hari ini, itu bukan karena gue tidak siap."

Mama Arka turun dari lift dengan cara yang membuat semua orang secara otomatis sedikit lebih tegak. Blazer yang dipilih dengan sangat teliti, tas yang sudah berisi semua dokumen yang mungkin diperlukan, ekspresi yang tidak menunjukkan tekanan meski semua orang di sana tahu apa yang ada di baliknya.

"Sudah sarapan semua?" tanyanya.

"Sudah, Tante," jawab Rani.

"Lira?"

Lira — yang baru turun dari lift dengan tablet di satu tangan dan kopi di tangan lain — mengangguk. "Sudah, Tante Kartika."

"Bagus." Mama Arka menatap seluruh tim satu per satu dengan cara yang sudah sangat mereka kenal. "Hari ini kita tidak perlu menjadi yang terbaik. Kita hanya perlu menjadi yang paling jujur tentang apa yang kita tawarkan."

Danu menoleh ke Arka. Arka mengangguk kecil.

"Berangkat," kata Arka.

********

Gedung evaluasi menyambut mereka dengan cara yang berbeda dari sesi briefing dua hari lalu — lebih formal, lebih banyak orang, layar proyektor yang lebih besar, dan panel evaluator yang kali ini lengkap. Tujuh orang di sisi meja yang lain, masing-masing membawa folder tebal dan ekspresi yang sudah sangat terlatih untuk tidak menunjukkan apa pun sebelum saatnya.

Danu mengecek koneksi laptop tiga kali. "Koneksinya stabil."

"Sudah dari tadi," kata Rani.

"Gue mau pastikan."

"Kamu sudah pastikan dua kali."

"Ini yang ketiga. Angka ganjil lebih meyakinkan secara psikologis."

Rani menatapnya. "Itu tidak ada dasar ilmiahnya."

"Ada di kepala gue."

Arka berdiri di sisi ruangan dengan cara yang sudah sangat berbeda dari cara seorang CEO biasanya berdiri sebelum presentasi besar — lebih tenang, lebih seperti seseorang yang tahu hasilnya tidak sepenuhnya di tangannya dan sudah berdamai dengan itu.

Lira duduk di depan laptop, mengecek slide untuk terakhir kali.

"Lira," suara itu berbisik ke arahnya, sangat pelan.

"Jangan glitch apapun hari ini," kata Lira ke udara, suaranya nyaris tidak keluar.

"Aku tidak janji."

"Kalau kamu glitch, saya yang kena."

"Aku janji akan glitch di waktu yang tepat."

"Itu lebih buruk dari tidak janji sama sekali."

"Percayakan padaku."

Lira menghela napas panjang. Mengambil remote presentasi. Berdiri.

Di seberang meja, salah satu evaluator mengetuk pena ke mejanya dua kali — isyarat bahwa sesi bisa dimulai.

********

Presentasi berlangsung satu jam dua puluh menit.

Lira berbicara selama hampir satu jam dari itu — dengan cara yang sudah sangat berbeda dari sesi briefing dua hari lalu. Lebih padat. Lebih terstruktur. Dengan keyakinan orang yang sudah melakukan perjalanan ke tempat yang ia bicarakan dan menyentuh sendiri hal-hal yang ia gambarkan.

Di pertengahan presentasi, panel evaluator mulai bertanya. Bukan pertanyaan konfirmasi — pertanyaan yang menggali lebih dalam. Yang hanya muncul dari panel yang benar-benar tertarik.

"Untuk wilayah yang belum memiliki infrastruktur dasar yang memadai," tanya salah satu evaluator, perempuan lima puluhan dari kementerian, "bagaimana sistem ini bisa adaptif tanpa bergantung pada kondisi yang belum ada?"

Lira tidak terburu-buru menjawab. "Itu pertanyaan yang tepat, Bu. Dan jawabannya ada di cara kita mendefinisikan 'adaptif.'" Ia berjalan ke layar, menunjuk diagram. "Sistem ini tidak berasumsi bahwa infrastruktur sudah ada — ia dirancang untuk mulai dari kondisi minimum dan berkembang seiring infrastruktur berkembang. Bukan menunggu kondisi ideal, tapi bekerja dengan kondisi yang ada."

"Berapa lama fase minimum itu bisa bertahan sebelum upgrade diperlukan?"

"Tergantung intensitas penggunaan. Tapi estimasi konservatif: tiga sampai lima tahun sebelum perlu upgrade signifikan. Dengan catatan maintenance rutin yang sudah ada dalam protokol."

Evaluator itu mencatat sesuatu. Mengangguk.

Di satu titik, seorang evaluator lain — laki-laki enam puluhan yang dari awal paling jarang bergerak — bertanya tentang skenario ekstrem yang sangat spesifik, sangat teknis.

Lira diam selama tiga detik.

Di belakang ruangan, Danu menahan napas. Rani melihat ke arah Arka. Arka tidak bergerak — tapi ada sesuatu di cara tangannya yang satu memegang lengan kursi yang menunjukkan bahwa ia tidak setenang yang terlihat.

Lira membuka tabletnya. Menggambar sesuatu dengan sangat cepat — bukan dari dokumen yang ada, tapi dari kepalanya sendiri. Lalu memproyeksikan gambar itu ke layar.

"Untuk skenario seperti itu," kata Lira, "arsitektur standar akan gagal di titik ini." Ia menunjuk. "Tapi kalau kita tambahkan layer adaptif di sini — yang merespons anomali bukan berdasarkan rule yang sudah ada tapi berdasarkan pola yang ia pelajari dari kondisi lokal — sistem tetap berfungsi bahkan dalam kondisi itu."

Lihat selengkapnya