Mama Arka bertemu Ibu Lira pada Kamis pagi.
Bukan di kantor. Bukan di warung. Bukan di tempat yang netral dengan meja formal dan kursi-kursi yang sudah diatur posisinya sebelum pertemuan dimulai.
Di rumah panggung di tepi laut — tempat yang Mama Arka minta untuk dikunjungi dengan cara yang sangat tidak bisa ditolak: ia mengetuk pintu kamar Arka jam tujuh pagi dan berkata, dengan sangat tenang dan sangat jelas, bahwa ia ingin ke dermaga itu hari ini. Ke rumah dengan cat biru yang memudar. Dan ia ingin Arka mengantarnya.
Arka tidak punya argumen yang cukup kuat. Belum pernah punya, untuk ibunya.
Mereka berangkat jam delapan. Lira sudah dihubungi lebih awal — bukan oleh Arka, tapi oleh Rani yang mengirim pesan singkat: Mama Arka mau ke rumahmu pagi ini. Beliau yang minta. Aku sudah bilang ke Ibu Lira.
Lira membaca pesan itu dua kali. Lalu menjawab: Oke.
Satu kata. Yang mengandung banyak hal yang tidak perlu diurai satu per satu.
********
Ibu Lira sudah di teras ketika mobil berhenti di ujung jalan kampung.
Bukan karena ia mempersiapkan diri secara berlebihan — tidak ada hiasan tambahan di teras, tidak ada perubahan pada cara ia duduk atau apa yang ia pegang. Hanya rajutan yang sama, kursi yang sama, secangkir teh yang sama. Cara orang yang menyambut tamu bukan dengan berubah tapi dengan tetap menjadi dirinya sendiri.
Tapi matanya, ketika Mama Arka turun dari mobil, tidak melewatkan apa pun.
Perempuan enam puluhan itu berjalan di atas dermaga dengan cara yang sangat berbeda dari cara orang kota biasanya berjalan di atas papan kayu tua — tidak terburu-buru, tidak ragu, dengan berat badan yang terdistribusi dengan cara seseorang yang sudah terbiasa berjalan di atas permukaan yang tidak sempurna. Koper kecilnya ditinggal di mobil. Yang ia bawa hanya tas jinjing berisi dokumen dan satu hal lagi yang tidak kelihatan dari jauh.
Arka berjalan setengah langkah di belakangnya. Lira berdiri di sebelah ibunya di atas teras, satu tangan memegang sandaran kursi dengan cara yang tidak sadar menunjukkan sesuatu tentang kondisi di dalam dadanya.
Dua perempuan saling menatap dari jarak beberapa meter.
Angin lewat dari arah laut. Menggerakkan tirai putih tipis di jendela yang sedikit terbuka. Air di bawah dermaga bergerak dengan cara yang tidak berubah.
Mama Arka yang pertama bergerak — menapaki tangga kayu rumah panggung dengan hati-hati, tangan di pegangan yang sudah sangat mengenal tangan yang berbeda dari tangan-tangan sebelumnya.
"Bu Sri."
Ibu Lira berdiri dari kursinya. "Tante Kartika."
Dua nama yang masing-masing sudah sangat lama dikenal oleh yang satu tapi baru pertama kali diucapkan langsung.
"Boleh saya masuk?"
"Silakan."
********
Ruang tamu itu menerima mereka dengan cara yang sudah sangat Arka kenal — furnitur kayu yang terawat, foto keluarga di dinding, bau rumah yang tidak pernah bisa sepenuhnya ditiru oleh pengharum ruangan buatan mana pun. Cahaya pagi masuk dari jendela dengan sudut yang membuat segalanya terlihat sedikit lebih hangat dari suhunya yang sesungguhnya.
Ibu Lira membuat teh dengan cara yang pelan dan terhitung — bukan karena terburu-buru atau tidak buru-buru, tapi karena itu memang cara teh yang baik dibuat dan tidak ada alasan untuk mengubahnya hanya karena tamunya berbeda dari biasanya.
Mama Arka duduk di sofa dengan punggung yang tegak tapi tidak kaku — cara duduk seseorang yang sudah belajar bahwa postur yang baik bukan tentang ketegangan tapi tentang kehadiran.
Arka dan Lira duduk di sudut yang lebih jauh — berdampingan di kursi kayu yang biasanya hanya untuk satu orang tapi hari ini cukup untuk dua orang yang memilih untuk tidak terlalu jauh dari percakapan yang akan berlangsung.
Teh datang. Empat cangkir.
Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat pertama — bukan keheningan yang tidak nyaman, tapi keheningan yang memberi ruang untuk hal-hal besar menemukan cara masuknya sendiri.
********
Mama Arka yang memulai.
Ia membuka tasnya — pelan, dengan cara seseorang yang sudah mempertimbangkan momen ini jauh sebelum ia tiba di sini. Mengeluarkan sebuah amplop putih yang baru, bersih, berbeda sekali dengan amplop coklat tua yang sudah ada di ingatan semua orang di ruangan ini.
"Ini salinan dari yang suami saya tulis," katanya, meletakkan amplop itu di atas meja di antara mereka. "Untuk keluarga Anda. Yang tidak pernah terkirim."
Ibu Lira menatap amplop itu tanpa segera mengambilnya.
"Saya sudah menyimpan aslinya," kata Ibu Lira pelan. Ia berdiri, masuk ke kamarnya dengan langkah yang tidak terburu-buru, kembali dengan amplop coklat yang sudah sangat semua orang kenal.
Meletakkannya di meja. Di sebelah amplop putih yang baru.
Dua amplop yang berisi versi berbeda dari sesuatu yang sama — satu yang ditulis dua puluh tahun lalu dan tidak pernah terkirim, satu yang disalin dan dibawa hari ini.
Mama Arka menatap amplop coklat itu. Lama. Dengan cara seseorang yang melihat sesuatu yang sudah sangat lama hanya ada dalam bayangan dan kini berdiri di depannya dalam bentuk yang bisa disentuh.
"Boleh?" tanyanya.
"Boleh."
Mama Arka mengambil amplop coklat itu dengan kedua tangan. Tidak membukanya — hanya memegangnya. Merasakan beratnya yang tidak sebanding dengan ukurannya. Merasakan tekstur kertas yang sudah kenyal di ujung-ujungnya karena usia.
"Ini tulisan tangannya," katanya pelan — bukan pertanyaan, hanya menyatakan sesuatu yang ia rasakan di luar sebelum membuka.
"Iya, Tante." Ibu Lira menatapnya. "Surat dan satu foto."