CEO BUCIN: Cinta Itu Investasi Nekat

Eko Witjaksono
Chapter #30

Chapter 30: Semesta Berhenti Nge-Glitch

Jumat pagi. Kantor sudah ramai sejak jam delapan — ada banyak yang perlu diselesaikan setelah presentasi kemarin, follow-up yang tidak bisa menunggu, jadwal pertemuan lanjutan yang perlu dikonfirmasi.

Lira tiba dengan cara yang selalu ia tiba: tepat waktu, tas selempang kecil, ekspresi orang yang sudah siap. Tapi ada sesuatu yang sedikit berbeda pagi ini — cara rambutnya diikat, mungkin. Atau cara ia berjalan. Atau mungkin tidak ada yang berbeda sama sekali dan hanya ada yang lebih memperhatikan.

Danu sudah ada dengan empat cangkir kopi — karena empat sudah jadi standar yang tidak pernah diumumkan siapa pun.

Rani turun dari lantai dua membawa tablet dan senyum yang bukan senyum PR mode. Senyum yang sudah lebih sering muncul dalam beberapa hari terakhir, dengan cara yang membuat ruangan terasa sedikit lebih terang dari sebelumnya.

Arka turun terakhir — dengan cara yang sudah sangat berbeda dari minggu pertama ia turun ke lantai satu dan berdiri di jarak yang terlalu terjaga.

Kali ini ia langsung duduk di mejanya. Membuka laptop. Dan dalam dua menit sudah ada percakapan yang dimulai — bukan tentang agenda, bukan tentang follow-up — tentang apakah warung ikan bakar tadi pagi masih buka karena Danu mau ke sana sebelum jam kerja mulai.

Lira bilang: buka jam enam, tutup jam dua belas siang, pesan yang cepat habis adalah ikan kerapu.

Danu: informasi penting. Akan dicatat.

Rani: kamu tidak akan ke sana, kita sudah ada kopi.

Danu: kopi dan ikan kerapu bukan substitusi satu sama lain, Ran.

Percakapan yang sangat biasa. Yang tidak ada istimewanya kalau dilihat dari luar.

Tapi dari dalam ruangan itu — dari sudut pandang empat orang yang masing-masing tahu apa yang sudah terjadi dalam beberapa minggu terakhir — percakapan itu terasa seperti sesuatu yang sangat berharga. Sesuatu yang tidak selalu ada dan tidak selalu bisa dipertahankan dan karenanya terasa lebih dari sekadar obrolan pagi.

"Lihat tuh," suara itu berbisik — ke seluruh ruangan, ke udara, ke empat orang yang sedang memulai hari kerja dengan cara yang sangat biasa. "Ini yang namanya tempat yang sudah jadi rumah."

Tidak ada yang menjawab. Tapi tidak ada yang membantah juga.

********

Jam sepuluh, Arka naik ke lantai dua untuk panggilan dengan Jakarta.

Jam sebelas, panggilan selesai lebih cepat dari yang diperkirakan — hasil yang bagus, hal-hal yang bergerak ke arah yang benar, orang-orang yang membuat keputusan yang tepat berdasarkan informasi yang tepat.

Ia duduk di kursinya setelah panggilan selesai. Menatap jendela.

Di bawah, dari sudut pandang lantai dua, ia bisa melihat meja Lira. Lira yang sedang mengetik sesuatu — diagram atau dokumen atau entah apa, dengan cara yang sudah sangat ia kenal dalam beberapa minggu ini: ritme orang yang tidak terburu-buru karena yakin dengan arahnya.

Gue tidak tahu kapan terakhir kali gue yakin dengan arah gue, pikirnya. Tapi sekarang terasa berbeda.

Ia berdiri. Turun ke lantai satu.

Bukan untuk keperluan yang ada di agenda. Bukan untuk dokumen atau pertanyaan teknis atau alasan yang bisa ia tuliskan di laporan harian.

Hanya karena kakinya membawanya ke sana dan kali ini kepalanya tidak memberikan argumen apa pun untuk mencegahnya.

********

Lira mendongak ketika ia mendengar langkah yang sudah sangat ia kenal di tangga.

"Sudah selesai?" tanyanya.

"Sudah." Arka mengambil kursi dari meja sebelah — kosong, salah satu karyawan sementara yang hari ini tidak masuk — dan duduk di sebelah Lira. Di jarak yang sudah tidak punya nama lama sejak malam di tepi sungai Nusantara.

"Ada yang perlu dilihat?"

"Tidak."

Lira menatapnya. "Lalu?"

Arka menatap layar laptopnya — yang sudah ia tutup karena memang tidak ada yang perlu ia buka. "Gue mau bilang sesuatu. Kalau waktunya tidak salah."

"Waktunya sedang tidak ada notifikasi yang akan berbunyi?"

Sudut bibir Arka bergerak. "Iya."

Lira menoleh ke tabletnya. Mematikan notifikasi manual — satu per satu, dengan cara sangat terkontrol dan sangat disengaja.

"Sekarang tidak ada notifikasi," katanya.

Di mejanya, Danu mendadak sangat tertarik pada spreadsheet-nya. Sangat tertarik. Mata tidak bergerak sedikit pun dari layar.

Lihat selengkapnya