Malam di Mizuki-cho (suatu distrik atau kecamatan di Jepang) selalu terasa terlalu sunyi. Hujan gerimis yang turun sejak pukul sebelas malam menyisakan aroma tanah basah dan genangan air yang memantulkan pendar kuning lampu jalanan. Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 02.22 dini hari—waktu yang buruk untuk berjalan kaki sendirian setelah menyelesaikan shift malam di sebuah konbini, toko serba ada yang harus buka 24 jam.
Langkah kakiku yang terbalut sepatu kets terdengar teratur, beradu halus dengan gemericik air yang menetes dari ujung payung transparan. Di depan sana, jalanan menanjak membelok tajam mengitari dinding batu berlumut. Di sudut persimpangan itu, berdiri sebuah cermin cembung lalu lintas yang sudah tua dan agak berkarat di pinggirannya.
Orang-orang tua di lingkungan ini selalu mewanti-wanti: jangan pernah menatap cermin tikungan itu jika lewat sendirian di atas jam dua malam. Katanya, cermin cembung di persimpangan itu tidak hanya memantulkan apa yang ada di depan mata…
… Tetapi juga menyerap hal-hal yang tersisa di balik kegelapan.
Aku selalu menganggapnya cuma denda cerita konyol untuk menakut-nakuti anak sekolah.
Namun, malam ini, rasa lelah membuat kewaspadaanku kendur. Tanpa sengaja, pandanganku terangkat dan menatap lurus ke permukaan cermin cembung yang sedikit berembun itu.
Di dalam cermin, aku melihat pantulan diriku sendiri—seorang pemuda berjaket hitam yang memegang payung di bawah pendar lampu jalan yang temaram.
Akan tetapi, ada yang salah.
Di dalam pantulan cermin itu, aku tidak berdiri sendirian.
Tepat di sebelah kiriku, berdiri seorang wanita bergaun putih lusuh yang basah kuyup. Rambut hitamnya yang panjang dan menggumpal menutupi seluruh wajah, meneteskan air keruh ke bahu. Yang membuat tenggorokanku tercekik adalah cara wanita itu berdiri: tubuhnya berimpitan begitu dekat denganku, seolah-olah ia sedang berteduh di bawah payung yang sama.
Sensasi dingin merayap seketika dari tengkuk hingga ke ujung kaki. Dengan jantung yang berdegup kencang, aku memutar tubuhku ke belakang.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa di sampingku. Hanya ada hempasan angin malam yang dingin dan dinding batu tua yang bisu. Hembusan napasku mengembun tebal di udara.
“Cu… Cuma ilusi?” bisikku lirih, mencoba menenangkan dada yang bergemuruh.
Aku perlahan mengalihkan pandangan kembali ke cermin cembung di atas sana. Dan detik itu juga, darahku serasa berhenti mengalir.
Di dalam cermin, wanita itu tidak lagi berdiri di sampingku.