Toko manisan tradisional Kikuyoshi di sudut distrik Yanaka, Tokyo, biasanya mengalir tenang seperti ritme senandung nenek-nenek pembuat teh. Namun, sore itu, atmosfer di dapur belakang terasa panas bagai kawah gunung berapi yang siap meletus.
Aku, Tachibana Ren, sedang menyapu keringat dingin di dahi sembari menatap mahakaryaku yang terhampar di atas piring kayu: sebutir neri-kiri (sejenis kue basah jepang) berbentuk bunga sakura berwarna merah muda merona. Di bagian tengah adonan mochi halus itu, aku menyelipkan selarik kertas kecil berlipat rapi—sebuah eksperimen konyol yang memuat pengakuan dosa terbesarku.
“Bentuknya bulat, baunya manis, tapi kenapa mukamu mirip buronan polisi begitu, Ren-kun?”
Suara konyol itu mendadak mengintrupsi lamunanku. Sebelum sempat mengamankan neri-kiri tersebut, sosok Fujimiya Aoi sudah bersandar anggun di ambang pintu dapur. Gadis itu mengenakan celemek kain toko bertuliskan kanji Kikuyoshi, rambut hitam bergelombang yang diikat asal-asalan, dan sepasang mata bulat yang berbinar penuh kejahilan.
“Ti… Tidak ada apa-apa!” Pekikku kaget, buru-buru menyembunyikan kotak kayu ke belakang punggung. “Um… I.. Itu, lho!” Aku berusaha membuat alibi.
“Aku mencoba resep baru!”
Aoi menyipitkan mata. Ia melangkah maju dengan ritme predator pelan. Menyunggingkan senyuman berbahaya.
“Bo-hong.” Katanya. Menyudutkanku di dapur.
“Senyummu mencurigakan sekali, Ren-kun. Keringatmu juga sebesar biji kacang merah. Dan yang paling penting—” Ia melompat cepat bagai kucing kelaparan, merebut kotak kayu dari tanganku dalam sekali kibasan tangan. “—ada surat cinta di dalam kue mochi ini, bukan?!”
Aku tergelak. “Wo… Woi! Kembalikan, Aoi! Itu belum selesai!”
Dengan kelincahan tak masuk akal hasil latihan Kendo pada masa SMP, Aoi meliuk menghindari sergapanku. Tangannya yang lincah berhasil mencolek kertas kecil dari dalam adonan kue. Matanya membaca tulisan tanganku dengan tempo lambat, lalu membelalak lebar.
“Untuk gadis berisik yang selalu mencuri kudapan stroberiku di balik lemari es…”
Aoi membacanya keras-keras, sebelum menatapku dengan kombinasi rasa syok dan ekspresi mengejek yang luar biasa tebal.
“Astaga, Ren-kun!” Serunya. “Kau punya gebetan rahasia?! Siapa gadis yang sangat malang itu?!”
Satu hal yang perlu diketahui tentang Fujimiya Aoi: tingkat rasa ingin tahunya berbanding lurus dengan kemampuannya mengacaukan situasi.
Bukannya mengembalikan kertas itu, Aoi justru menarik lenganku keluar toko, mengunci pintu depan tanpa izin Paman Shigeru—pemilik toko yang sedang pergi ke tempat pemandian air panas—lalu menyeretku menyusuri gang-gang sempit distrik Yanaka yang mulai diterangi lampu lentera.
“Tu—Tunggu dulu!” Aku berteriak panik. “Kita mau ke mana?!” Berusaha menahan beban tubuhnya di depan toko kelontong. Meronta-ronta tapi gagal.
Aoi memekik bersemangat. “Tentu saja mengantarkan surat cinta dan kue mochi ini ke pemilik aslinya!” Tangannya menggeledah saku jas seragamku untuk mencari ponsel. “Ayo mengaku, siapa gadis itu, hayo~? Anak klub lukis dari SMA sebelah? Atau kasir minimarket yang biasa kau tatap berlama-lama?”
Wajahku memerah. “Bu… Bukan siapa-siapa, Bodoh! Kembalikan mochinya! Itu dibuat khusus—”
“Aha! Kau malu, kan? Tenang saja!” Aoi menepuk dadanya bangga. “Sebagai sahabat dekatmu sejak kita masih main lumpur di taman, aku, Fujimiya Aoi, bertindak sebagai perantara resmimu hari ini! Kita akan temukan gadis itu sebelum matahari terbenam!”
Aku menepuk jidat keras-keras. Rasa frustrasi mulai merayapi ubun-ubun. Bagaimana mungkin gadis di depanku ini bisa begitu tanggap soal urusan orang lain, tetapi begitu buta pada petunjuk di depan matanya sendiri?
Siapa lagi gadis berisik yang suka mencuri stroberiku kalau bukan kau, Dasar Nenek Lampir?!—batinku berteriak histeris.
Selama satu jam berikutnya, Yanaka menjadi saksi bisu aksi spionase paling tidak masuk akal dalam sejarah distrik kuno tersebut. Aoi menyeretku bersembunyi di balik mesin penjual otomatis setiap kali ada siswi SMA lewat. Ia menginterogasi penjual kroket tua, mengintip ke dalam kedai teh, dan bahkan hampir menuding seekor kucing oranye berbadan gemuk sebagai eksistensi gadis manusia yang berhasil bermanifestasi.
“Coba pikirkan baik-baik, Ren-kun,” Ujar Aoi seraya berjongkok di balik semak-semak dekat Taman Ueno. Topi baret merahnya miring ke kiri, sementara tangannya memegang teropong mainan entah dari mana. “Sifatnya berisik dan suka mencuri stroberi…” Ia jelas sekali ingin menebak-nebak.
“… Mungkinkah itu Honda-san dari kelas 2-B?”
Aku menjawab datar, duduk pasrah di atas bangku taman.