Aroma hujan di Stasiun Gokurakuji selalu sama setiap tahunnya—pahit, dingin, dan menyusup samar di antara bau besi rel kereta yang basah.
Haruto duduk di bangku kayu lapuk yang cat birunya sudah mengelupas. Di pangkuannya, sebuah Walkman hitam kusam berputar lambat, memutar pita magnetik yang diwarnai desis suara white noise. Di bawah guyuran gerimis tipis bulan April, pria itu mengusap jemarinya yang gemetar di atas label kertas kaset yang sudah menguning.
[Kaset 12: Untuk Haruto, di bawah pohon sakura Stasiun Gokurakuji, saat hujan pertama bulan April.]
Mizuki selalu menyukai suara.
Gadis dengan kardigan kuning kebesaran itu tidak pernah bisa berpisah dari perekam pita kaset kecil yang selalu disangkutkan di lehernya. Bagi Mizuki, dunia ini dipenuhi oleh musik yang tak tertulis: decit roda kereta Enoden yang menepi di senja hari, desir angin musim gugur yang menggesek dedaunan hydrangea, hingga deham canggung Haruto setiap kali bingung harus merespons leluasanya.
“Suara itu abadi, Haruto,” Kata Mizuki suatu sore, lima tahun lalu, saat mereka duduk berdua di atas tebing yang menghadap ke laut Enoshima. “Gambar bisa memudar, foto bisa terbakar, tapi gelombang suara akan tetap tinggal di dalam kepala seseorang—bahkan setelah orangnya melupakan cara tersenyum.”
Hari itu, Haruto hanya tertawa kecil, menganggap ucapan tersebut hanyalah puitisasi konyol dari seorang gadis yang bercita-cita menjadi penyiar radio. Haruto tidak pernah menyangka bahwa kalimat itu kelak menjadi ramalan yang dirancang Mizuki untuk meremukkan hatinya secara perlahan.
Di akhir musim dingin tahun terakhir SMA, Mizuki mendadak hilang.
Tanpa salam perpisahan, tanpa sepucuk surat, bangku di sebelah Haruto mendadak kosong begitu saja. Wali kelas mereka hanya mengatakan bahwa Mizuki pindah ke rumah kerabatnya di Tokyo untuk mengejar impian. Haruto, yang menyimpan rasa cinta tak terucap sejak masa kecil, merasa dihianati dan dicampakkan. Ia menyimpan rasa sesak itu dalam diam, mencoba belajar membenci Mizuki karena telah pergi tanpa pamit.
Namun, pada hari ulang tahun Haruto yang kedelapan belas, sebuah kotak kayu beraroma pinus tiba di depan pintu rumahnya. Tanpa nama pengirim, hanya ada dua belas kaset pita yang diberi nomor rapi menggunakan spidol hitam, lengkap dengan selembar instruksi sederhana:
[Putar kaset ini hanya pada tanggal dan situasi yang tertera di labelnya.]
Selama empat tahun berikutnya, kaset-kaset itu menjadi satu-satunya kompas hidup bagi Haruto.
Kaset pertama diputarnya saat hari kelulusan:
“Selamat lulus, Haruto! Maaf ya aku tidak bisa ikut foto bersama di depan gerbang. Tapi ingat, kancing kedua kemejamu harus tetap kamu simpan untuk gadis yang kamu sukai nanti, ya? Jangan konyol!”
Kaset ketiga diputarnya saat ia merasa gagal: