Gadis bersayap perak itu mendarat tanpa suara di ambang jendela. Kakinya yang telanjang mengayun-ayun riang, menembus bayangan gorden yang tersibak angin sore. Tatapan matanya yang keemasan berbinar penuh rasa ingin tahu yang kejam.
“Bagaimana, Joko-kun?” bisiknya lagi, menggema hanya di dalam tempurung kepalaku. “Di pengulangan ke-314 ini… Apakah kau mau menyerahkan kunci takdir itu padaku? Cukup katakan ‘aku menyerah’, maka aku akan menghentikan penderitaanmu. Kau bisa mati dengan tenang bersama kota ini.”
Aku memeluk Aini makin erat. Aroma minyak telon anakku dan wangi melati dari kerudung Aini menyerbu inderaku, membasahi jiwaku yang telah hangus terbakar trauma ratusan kematian.
Jika aku menyerah, kota ini akan tetap jatuh. Bangsaku akan kembali didera rantai perbudakan selama berabad-abad. Dan Aini… Aini akan mati sebagai budak di tanah kelahirannya sendiri, atau kehilangan jiwanya dalam ketakutan.
Tidak.
Aku merasakan denyut nadi Aini di lehernya. Hangat. Nyata.
313 kali aku mati, 313 kali aku melihatnya hancur.
Tetapi, di pengulangan ke-314 ini, ada sesuatu di dalam dadaku yang tidak lagi rapuh.
Itu bukan lagi sekadar rasa patriotisme—itu adalah murka seorang suami dan ayah yang sudah menatap neraka berkali-kali dan memutuskan untuk menyeret neraka itu kembali ke tempat asalnya.
Aku mendongak. Mataku yang berdarah dan sembab mengunci tatapan makhluk bersayap di ambang jendela.
“Aku…” Bisikku parau, melepas pelukan Aini perlahan. “… Tidak akan menyerah.”
Gadis bersayap itu memiringkan kepalanya, menyunggingkan senyum yang makin lebar hingga sudut bibirnya tampak tidak alami. “Oho? Sungguh jawaban yang amat sangat konyol~!”
[10 November 1945 — Pukul 05.30 WIB]
Langit Surabaya berwarna kelabu pekat, berat oleh awan mendung dan aroma mesiu yang mulai mengepul dari arah pelabuhan. Ultimatum Mayor Jenderal Mansergh telah kedaluwarsa. Pasukan Sekutu—Divisi India ke-5 yang legendaris, disokong oleh tank-tank berat dan armada udara Royal Air Force—mulai bergerak merangsek ke jantung kota.
Akan tetapi, di pengulangan ke-314 ini, mereka tidak bertarung melawan tentara biasa. Mereka bertarung melawan seorang pria yang menyimpan peta kematian mereka selama 313 kehidupan.
“Joko! Jangan ke sana! Itu jalur tembak meriam kapal HMS Sussex!” Teriak seorang perwira TKR saat aku berlari menyeberangi jalanan dekat Jembatan Merah.
Aku tidak berhenti. Aku menghafal detik demi detik serangan meriam itu.
Satu… dua… tiga…
BOOM!
Dua detik setelah aku melompati barikade karung pasir, ledakan meriam membumi-ratakan pos tentara yang baru saja kulewati. Tanah bergetar hebat, menyemburkan lumpur dan batu. Aku berguling mendarat mulus, menggenggam erat senapan Arisaka buatan Jepang hasil rampasan.
“Baterai senapan mesin musuh di lantai dua Gedung Internatio!” jeritku pada belasan pemuda laskar Hizbullah yang bersembunyi di balik reruntuhan toko. “Jangan lewat jalan utama! Tiga belas detik lagi, dua pesawat Mosquito akan melakukan strafing run dari arah utara! Masuk ke lorong sebelah kiri, sekarang!”
Para pemuda berkopiah itu sempat ragu, tetapi melihat mataku yang liar dan dingin—mata seorang pria yang telah melihat masa depan mereka tewas—mereka menuruti perintahku tanpa bantahan.
RATATATATATAT!
Sesuai prediksiku, desingan peluru kaliber besar dari udara membelah jalanan utama tempat mereka berdiri sedetik lalu. Karung-karung pasir hancur berkeping-keping.
“Bagaimana kau bisa tahu?!” Teriak seorang anggota Hizbullah dengan wajah pucat pasi.
“Fokus pada sasaranmu!” Bentakku. “Lempar Molotov ke celah ventilator tank di depan sana saat roda rantainya menginjak rel trem! Sekarang!”
PRANG!
Semburan api membumbung tinggi dari Tank Sherman milik Sekutu. Tank yang selama ratusan pengulanganku menjadi monster tak terkalahkan itu kini meraung dalam kobaran api. Para prajurit Gurkha yang keluar dari pintu pukat langsung disambut timah panas dari pasukan laskar.
Aku bergerak bagaikan hantu perang. Di setiap sudut jalanan Surabaya—dari Jembatan Merah hingga jalanan Ketabang—aku melangkah satu detik lebih cepat dari maut. Aku menembak prajurit tersembunyi Sekutu sebelum mereka sempat meletakkan jari di picu. Aku mengalihkan rute ambulans medis sebelum artileri musuh sempat menghujani area tersebut.
Gadis bersayap perak melayang santai di atas atap-atap gedung yang terbakar, mengepakkan sayap cantiknya di antara asap hitam yang membumbung. Tangannya bertepuk riang.
“Luar biasa! Luar biasa, Joko-kun!” Suaranya terdengar kekanak-kanakan, menggelegar di atas bisingnya suara senapan mesin. “Kau mengubah pola pertempuran! Kau menyelamatkan delapan ratus nyawa yang seharusnya tewas dua jam lalu! Tapi… Apakah kau yakin ini akan mengubah takdir akhirmu?”
Aku mengabaikannya. Peluru meriam menyambar dinding di sebelahku, menyemburkan serpihan semen yang menyayat pipi. Darah hangat mengalir, tapi aku tak merasakannya. Pikiranku hanya tertuju pada satu koordinat: Pos Kesehatan Darmo.
Tempat di mana Aini dan anakku berada.
[20 November 1945]
Selama sepuluh hari berturut-turut, Surabaya menjadi kuburan bagi pasukan Sekutu yang kebingungan. Rencana penguasaan kota dalam tiga hari hancur berantakan. Strategi mereka dipatahkan sebelum sempat dieksekusi. Nama "Joko Prasmono" menjadi legenda bisikan di antara para pejuang—seorang komandan lapangan yang seolah memiliki mata Tuhan.
Namun, tubuhku mencapai batasnya.
Di dalam Pos Kesehatan Darmo yang didirikan di sebuah bangunan gereja tua, bau karbol berbaur dengan darah segar. Ratusan pejuang yang terluka berjejer di atas tandu kayu. Aini bergerak lincah di antara mereka, tangan kecilnya yang cekatan membalut luka, menyuntikkan anestesi yang tersisa, dan memberikan ketenangan di tengah neraka.
Aku bersandar di pilar bangunan, memperhatikan Aini dari kejauhan. Wajahnya yang cantik kini kotor oleh jelaga dan noda darah, matanya sembab karena kurang tidur, tetapi sorot matanya memancarkan keteguhan yang luar biasa.
“Kau belum tidur tiga hari, Mas,” Suara lembut Aini memecah lamunanku. Gadis itu mendekat, membawa mangkuk seng berisi bubur encer dan segelas air putih.
Ia berlutut di depanku, mengusap lembut pipiku yang tertutup luka tembak dan jelaga.
“Aini…” suaraku parau. Aku meraih tangannya yang gemetar, menempelkannya ke pipiku. “Mengapa kau tidak mau mengungsi ke Krian seperti yang kukatakan?”
Aini tersenyum tipis, senyuman manis yang sama seperti saat kami pertama kali berikrar di bawah naungan pohon asam sepuluh tahun lalu.
“Kalau aku lari, siapa yang akan merawat saudara-saudara kita yang berjuang di depan?” bisiknya. Ia merogoh saku kain, mengeluarkan sebuah kalimat doa yang ditulis di atas kertas lusuh, mengikatkannya di pergelangan tanganku. “Aku berada di sini karena aku percaya padamu, Mas. Kau menjaga kota ini, dan aku menjaga mereka yang terluka. Kita bertarung bersama.”
Dadaku tersedak.
Kita bertarung bersama.
Bahkan tanpa mengingat 313 kehidupan sebelumnya, jiwa Aini selalu memilih jalan yang generik: pengorbanan. Ia tidak pernah lari bukan karena ia keras kepala, melainkan karena hatinya terlalu murni untuk membiarkan orang lain menderita sendirian.
Firasat buruk yang teramat pekat mendadak menghantam dadaku.
Gadis bersayap perak muncul tepat di belakang Aini, menyandarkan dagunya di bahu istriku yang tak menyadari keberadaannya. Gadis kecil itu menatapku dengan mata keemasan yang berkilat jahat.