Atmosfer koridor lantai tiga SMA Ryokusen selalu berubah begitu bel kepulangan terakhir berbunyi. Lampu-lampu pijar tua berkedip redup, membiarkan bayangan pohon cemara dari luar menutupi sepanjang dinding.
Ren mendesis pelan, meremas kantong sampah di tangannya. Sial bagi dirinya yang kalah dalam undian piket kebersihan. Rekannya sudah kabur duluan dengan alasan les bimbingan belajar, meninggalkannya sendirian mengurus toilet tua di ujung lorong—toilet anak perempuan yang sudah lama tidak dipakai karena rumor konyol itu.
Hanako-san dari bilik ketiga.
“Dongeng zaman Showa,” gumam Ren mencoba menghibur diri. Suara ketukan sepatu ketsnya bergema samar di atas lantai keramik yang dingin.
Ia mendorong pintu kayu toilet. Bunyi engsel berkarat yang mencicit perih menyambutnya. Di dalam, bau pembersih lantai yang tajam bercampur dengan kelembapan udara malam. Ada tiga bilah pintu bilik yang berjejer. Dua bilik pertama pintunya terbuka lebar, memperlihatkan kloset porselen tua yang kering.
Hanya bilik ketiga di ujung kanan yang pintunya tertutup rapat.
Ren menelan ludah. Hawa dingin tiba-tiba berembus dari celah ventilasi, membawa aroma bunga krisan yang samar. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Kenapa pintunya tertutup? Bukankah tadi siang terbuka?
Sambil mencoba bersikap rasional, Ren melangkah mendekati bilik ketiga. Tangannya yang agak gemetar memegang gagang sapu seperti memegang tombak perang.
Sesuai tradisi rumor yang beredar di antara para murid, ada cara khusus untuk memanggilnya: ketuk tiga kali, lalu panggil namanya.
Mengabaikan naluri bertahan hidupnya, jemari Ren terangkat.
Tok. Tok. Tok.
Bunyi ketukan itu terdengar terlalu keras di tengah kesunyiian toilet malam.
“Ha—Hanako-san…” Suara Ren agak serak. “Apakah kamu ada di dalam?”
Hening.
Satu detik. Tiga detik.
Ren menghela napas lega, tertawa kecil meratapi kebodohannya. “Nah, kan. Cuma kabar burung—”
CREAK.