Setelah Yoona turun, motor itu melesat pergi lagi.
Yoona membuka pintu, mengucapkan salam, “Assalamulaikum.”
“Waalaikumsalam…Yoon, itu pacarmu ga pernah mau mampir kesini dan kenalan dulu sama Ibu dan Bapakmu apa?” celetuk ibu setelah Yoona masuk ke dalam rumah. “Maulah Bu, tapi orangnya sibuk banget, itu aja dia udah ditunggu meeting lagi tapi nanti Yoona sampaikan keinginan Ibu itu ya,” jawab Yoona lalu melongok kamar tidur bapaknya.
Bapak yang terbaring di atas ranjang tersenyum melihat kedatangan Yoona. Yoona duduk di samping ranjang, mengusapi kening bapaknya yang berkeringat.
“Gimana harimu Yoon?” tanya bapak.
“Baik Pak…udaranya panas ya Pak? Maafin Yoona ya Pak,” ucapnya. “Minta maaf kenapa?” bapak mengerutkan dahi. “Belum bisa beliin AC, Bapak jadi kepanasan,” jawab Yoona. Bapak tersenyum, berkata, “Loh kan itu sudah ada AC,” tunjuknya ke jendela kamar, “Angin Cendela,” lanjut bapaknya lagi. Yoona tertawa diikuti tawa bapaknya yang disambung batuk – batuk. “Bapak sih, sakit–sakit masih pengen ikut ketawa, jadi batuk deh,” sahut Yoona mengambilkan minum.
“Masa orang sakit ga boleh ketawa sih Yoon,” balas bapak lalu mereguk air yang disodorkan Yoona, “Eh tadi Bapak denger apa yang Ibumu bilang, Ibumu itu betul, harusnya pacarmu itu nyempetin mampir kesini dulu dong, kenalan sama keluargamu, jangan cuma anter jemput terus pergi lagi kan dia bukan ojek…omong–omong kamu sudah berapa lama sih jalan sama pacarmu ini?”
“Baru mau tiga bulan Pak.”
“Oh baru toh, putusin lagi aja gih.”
“Hey, Bapak nih sembarangan…udah deh, kalau lagi sakit jangan banyak komen soal cinta, mending banyak istirahat,” tukas Yoona.
Bapak tertawa, “Memang kamu cinta gitu sama dia?”
Yoona mendengus, “Ya iyalah, kalau ga, ngapain dia mau–maunya anter jemput aku hampir tiap hari sih Pak.”
Bapak manggut–manggut, “Ah, kalau itu, dianya yang cinta…kamunya engga…”
Yoona mencibir, “Bapak sok tahu…”
“Menurut Bapak nih, berdasarkan penglihatan mata batin, kamu lebih cocok sama si Bagas atau si Kevin.”
Yoona tertawa keras, “Sejak kapan Bapak jadi cenayang? Sok-sokan nebak pake mata batin. Nebak skor sepakbola aja salah terus kok.” Bapak nyengir. “Udah deh Pak, Bagas dan Kevin itu teman baikku…” ujar Yoona sembari memijat–mijat kaki bapaknya yang terkulai lemah, “Huh kalau ingat saat Bapak ditabrak subuh–subuh sama mobil angkot itu, Yoona pengen nampol supirnya deh! Sekarang Bapak jadi begini. Ga bisa jalan.”