Pagi itu di sekolah.
Yoyon berjalan lebih percaya diri karena hari ini ia bisa membayar buku paket dan praktek renang yang sudah ditunggaknya lama. Seakan menjadi pemenang Yoyon membusungkan dadanya dan lagu ‘We Are The Champion’ yang terdengar hanya di dalam benaknya mengiringi langkahnya yang gagah. Bibir juga tangannya ikut bergerak–gerak mengikuti lirik dan irama lagunya dengan semangat.
“We are the champion, my friend, and we’ll keep on fighting ‘till the end. No time for losers, cause we are the champ---“ Plok! Selembar daun pisang bekas bungkus lontong menempel di wajahnya menghentikan lagu juga langkahnya. Yoyon terkejut, ia membuang daun pisang itu dari wajahnya seraya kesal berkata, “Puih! Kerjaan siapa ni?” Terdengar suara-suara tertawa dari lantai dua sekolahnya. Yoyon mendongak, melihat Ferdinand, kakak kelasnya beserta teman–temannya. Yoyon mendengus sebal. Dia lagi, dia lagi, ketusnya dalam hati. Sudah lama Yoyon ingin melawan murid-murid yang mengesalkan itu tapi ia ingat pesan bapaknya.
Di suatu hari saat pulang dari sekolah dengan pakaiannya basah kuyup karena disiram air bekas pel. “Kelakuan Ferdinand lagi ya?” tanya bapak, Yoyon mengangguk, “Kakak kelasmu itu beraninya sama anak kelas satu doang ya? huh…Yon, kalau Ferdinand masih menganggu kamu, mbok ya jangan diam saja, kamu harus lawan dia! Kamu harus berani!”
“Eung…maunya sih gitu Pak, tapi…tapi kan, orang tuanya yang punya sekolah, mereka pemilik yayasannya, kalau Yoyon lawan, nanti Yoyon dikeluarin dari sekolah, gimana…” keluh Yoyon.
“Ups…oh gitu ya…kalau gitu jangan dilawan deh hehehe,” sahut bapak nyengir.
“Laah Bapak gimana sih tadi ngajarin berani.”
“Hehehe, orang yang berani akan kalah sama orang yang berkuasa dan beruang Yon.”
“Jadi harus gimana dong Pak, masa didiemin terus? Makin ngelunjak dia.”
“Kamu cari aman saja deh Yon, daripada dikeluarin dari sekolah seperti katamu tadi, hayo?”
“Sampai kapan aku cari aman Pak?”
“Sampai ada orang selevel atau di atasnya dia yang mampu melawannya, kamu bukan kelasnya Yon, untuk sekarang diemin sajalah...anggap saja dia pohon pisang…”
Tiba–tiba Ferdinand berteriak menyadarkan Yoyon, “Woy, sori Yon, gue pikir lo tong sampah abis sama sih,” lalu Ferdinand tertawa bersama teman–temannya. Yoyon menarik nafas, menahan tangannya yang gemetar kesal. Dia cuma pohon pisang, pohon pisang, pohon pisang, jangan dianggap, jangan dianggap, ucap Yoyon mengulanginya berkali-kali dalam pikirannya kemudian tersenyum menatap Ferdinand.
“It’s ok Bro, terimakasih ya kulit lontongnya, kebetulan gue belum sarapan,” lalu Yoyon berlalu. Ferdinand dan teman–temannya saling menatap bengong.
“Udah sarap tuh bocah…” celetuk salah satu dari mereka.
***
Yoona sedang sibuk di kantor saat sebuah pesan WA masuk.
Ia membuka pesannya. Sebuah pesan dari teman sekolahnya dulu yang terakhir kali bertemu saat reuni sekolah beberapa bulan lalu. Setelah membaca pesannya Yoona memijit–mijit dahinya. Temannya itu ternyata ingin meminjam uang padanya. Haduh, mana sisa duit tinggal segini lagi, sambat Yoona dalam hati.
Tak lama masuk lagi WA dari teman yang sama menanyakan bisa atau tidak dia meminjam uang. Yoona menghela nafas. Ingin hati menolak tapi tak enak, ingin menyanggupi tapi ia sendiri pun butuh. Memang ga enak menjadi orang ga enakan. Yoona mencoba tidak menjawabnya dulu, ia butuh waktu untuk berpikir sebentar. Baru berpikir sudah masuk lagi WA masih dari orang yang sama.