Cerita Kita Hari Ini Tak Harus Indah

ken fauzy
Chapter #6

Ada Pahlawan Di Antara Kita

Bagas menghentikan motornya di depan sebuah rumah.

Ia menelepon. “Mbak, saya sudah di depan rumah,” ucapnya sopan. Tak lama keluar seorang gadis beserta temannya. “Ah nyampe juga Mas,” serunya. “Iya tadi muter–muter bentar, soalnya belum hapal daerah sini, maaf ya jadi terlambat,” jawab Bagas seraya menyerahkan pesanan makanan mereka.

Gadis itu tersenyum. “Ga apa–apa Mas, meskipun teman saya ini udah bawel nanyain mulu udah di mana, udah di mana Mas-nya…pssst, dia kalau lagi laper reseh soalnya Mas,” ucap gadis itu sambil melirik ke temannya yang sedang membuka plastik makanannya, Bagas tersenyum mendengarnya. Gadis itu melanjutkan lagi, “Tapi kita berterimakasih banget Mas sudah nganter makanan ini, tau ga, Mas dan ojol itu buat kita adalah pahlawan penyelamat perut laper dan penolong kaum mager yang males keluar kosan buat cari makan.”

Bagas tertawa, lalu berpamitan. Dalam hatinya ia senang, masih ada orang–orang seperti gadis ini yang mau menghargai dan mengerti pekerjaannya. “Eh Mas,” seru gadis itu lagi. Bagas menghentikan langkahnya, menoleh, “Iya Mbak, ada yang salah?” Gadis itu menggeleng, “Ga, ga ada yang salah…cuma mau ngomong… kata temen saya, Masnya ganteng kayak pemaen drakor hihihi…” Mendengar itu membuat Bagas tertawa lagi, ia malah ingat Yoona yang memanggilnya opak, eh oppa, tadi siang.

Bagas kembali ke motornya dan mengendarainya tepat saat ia mendapatkan orderan baru lagi. Order dari seseorang yang memintanya membelikan obat, dengan sebuah catatan. Hal ini membuat Bagas segera memacu cepat motornya, meliuk–liuk di antara padatnya lalu lintas menuju apotik yang ditunjukkan sesuai aplikasi. Dalam benaknya Bagas berpikir, orang ini pasti sangat membutuhkan obat yang hanya berada di apotik tersebut dengan memberikan catatan ‘Urgent’ seperti itu.

Sesampainya di apotik Bagas segera membayar obatnya, lalu bergegas melompat kembali ke atas sadelnya tanpa banyak bicara. Motor dipacu cepat, berbelok dan berkelok. Sayang, di perempatan jalan motornya melambat. Lalu lintas menjadi begitu padat. Perpaduan maut antara jam pulang kantor, gerimis yang mulai turun, dan para pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya di atas trotoar hingga meluber ke bahu jalan, memakan hak para pengguna kendaraan.

Bagas gelisah, ia tak bisa selap–selip lagi, karena tampaknya orang lain pun ingin begitu. Semua ingin cepat sampai di tujuan. Kalau semua main selap-selip akhirnya lalu lintas malah akan semakin kusut. Bagas mengurungkan niatnya, ia memilih untuk bersabar, meskipun dalam hati ia kesal sekali atas ketidakdisiplinan para pedagang ini.

Lihat selengkapnya