Kevin memperhatikan Yoona dan Bagas yang sedang duduk di teras depan rumah dari dalam rumah.
“Kenapa Kev? Sana ikut ngobrol sama Yoona dan Bagas,” ucap ibu dari meja jahitnya. Kevin menggeleng, ia menjauh dari jendela lalu duduk di sebelah ibu. Ia memperhatikan tangan-tangan tua itu cekatan memasukan benang pada jarum di mesin jahit, menarik kainnya lalu menggoyang-goyangkan pedal mesin jahitnya, hingga jarumnya bergerak cepat menusukki kain menyalurkan benang-benang. “Kenapa Kev? Kok melamun?” tanya ibu. Kevin tersenyum, menggeleng, “Ga apa-apa kok Bu, hanya kagum aja lihat Ibu menjahit.”
Ibu menatap Kevin, “Jangan pura-pura, pasti ada yang sedang kamu pikirkan…”
Kevin menunduk, hatinya menimbang-nimbang. “Bu, aku pamit dulu ya…” ucap Kevin. “Loh kok malah pamit?” tanya ibu. Kevin tak menjawab, ia hanya mencium punggung tangan ibu lalu berjalan keluar. “Kev…Ibu tahu apa yang ada dalam pikiranmu…kalau jodoh tak akan kemana…” ucap ibu. Kevin menatap Ibu, tersenyum tipis lalu lanjut keluar.
“Hey, gue cabut duluan ya,” sahut Kevin pada Bagas dan Yoona di teras rumah.
“Loh kok buru-buru Kev?” tanya Yoona.
“Ada perlu gue…gue udah pamit sama Ibu tadi…Bapak dan Yoyon sudah tidur, jadi salamin aja ya,” ujar Kevin pada Yoona. “Cie, cie…lo mau malam mingguan kali yaaa,” ledek Bagas. Yoona menatap Kevin lekat-lekat mendengar ucapan Bagas itu, hatinya berdesir. Kevin nyengir, “Ya gitu deh…”
Yoona berdiri, “Gue anter lo sampe ujung gang ya.”
Kevin menggeleng, “Ga usah Ra, santai aja…”
Kevin pun berjalan meninggalkan Bagas dan Yoona, mencoba tak memberikan kesan kalau hatinya sedang tak baik-baik saja. Ia tersenyum, melambaikan tangannya pada Yoona dan Bagas lalu bergegas.
“Ada apa sama Kevin? Biasanya dia ikut ngobrol bareng,” tanya Yoona.
“Entahlah, dia kan dari dulu gitu, ga mau cerita kalau ada apa-apa…tapi mungkin masalah kantornya, dia sempat cerita sekilas kalau dia udah ga betah di kantornya itu…”