Ditemani teh manis dan sepiring pisang goreng yang dibuatkan ibu tadi, Yoona dan Bagas masih duduk di teras rumah diramaikan dengan deru motor tetangga yang bolak-balik lewat, juga tukang nasi goreng tek–tek bergantian dengan tukang sate. Kadang datang pengamen dengan lagu yang itu–itu saja, “Entah aaapa yang merasukimu...” Sedang semua sudah tidur di dalam rumah, hanya yang masih terdengar suara mesin jahit Ibu yang bergerak bekerja.
“Mmm Gas, gue mau nanya sama lo…”
“Nanya apa?” jawab Bagas sambil mengunyah pisang goreng.
“Mmmm, menurut lo, gue lanjut ga ya sama si Gunawan ini?”
Bagas terkejut, menatap Yoona, “Heh? Emang ada apa? Kok mendadak lo punya pikiran kek gitu?” Yoona mengangkat kedua bahunya, “Gue ga tau, cuma gue ngerasa, makin kesini setiap bareng dia, kok gue kayak punya perasaan, I don’t belong here gitu…”
“Segitu ga nyamannya ya lo?”
Yoona mengangguk.
“Yoon, gue ga bisa bilang lanjut atau engga, cuma lo yang bisa mengukur seberapa ga nyamannya itu trus mengambil keputusan lanjut ga nya Yoon, gue hanya bisa bilang, kalau dalam sebuah hubungan sudah berjalan tak menyenangkan, terasa hanya menjadi sebuah rutinitas, dan lo jalan sama dia hanya karena ga enak bukan karena lo menyukainya, ya buat apa dilanjutin?”
“Iya, lo betul…kayaknya gue harus ngomong sama dia …tapi gue ga----“
Rrrrrttt. Rrrrrrtt. Rrrrrrrttt. Kalimat Yoona terpotong dengan nada getar dari telepon genggam milik Bagas. Bagas mengambil telepon genggamnya dan menekan nada sunyi.
“Lanjutin Yoon, sori omongan lo jadi kepotong bunyi hape gue.”
Yoona menatap Bagas, ada sebuah perasaan merasa dihargai yang muncul di hati Yoona yang ia tak dapatkan dari Gunawan.