Siang itu Yoyon sedang menyantap seblak di kantin sekolah.
Dari kejauhan ia memperhatikan Ferdinand dan teman–temannya sedang mengepung seorang murid yang berbadan kurus, berkacamata dengan rambut klimis dibelah tengah. Yoyon sudah menduga apa yang sedang dilakukan oleh Ferdinand dan teman–temannya itu. Terlihat sekali bagaimana murid kurus itu begitu ketakutan hingga badannya membungkuk. Yoyon menggeleng lalu memalingkan pandangannya, melanjutkan makan seblaknya lagi, ia tidak ingin melihat dan terlibat, bukan urusannya pula, begitu kata hati Yoyon.
Terdengar suara tawa keras dari Ferdinand dan teman–temannya. Penasaran Yoyon menoleh, tampak murid kurus itu kini sedang berjongkok dengan seluruh tubuhnya basah kuyup. Banyak murid lainnya yang juga melihat hal itu tapi semuanya hanya diam tidak perduli, atau takut sebetulnya. Ferdinand mengambil air lagi dari keran yang menyala dengan sebuah ember kemudian menyiram murid itu lagi dari atas kepalanya.
Yoyon mengepalkan tangannya, terjadi pertentangan dalam hatinya.
Apa yang dilakukan Ferdinand itu sudah keterlaluan, seperti yang pernah dikatakan Bang Kevin padanya, kalau sudah keterlaluan seharusnya dilawan saja tapi ia berpikir lagi akan akibat yang akan ditimbulkannya. Yoyon menghela nafas, mengurungkan niatnyat tapi melihat murid kurus itu yang kini rambutnya sedang diacak–acak oleh Ferdinand membuat Yoyon tidak tega untuk hanya berdiam diri saja.
Yoyon menghabiskan seblaknya, meminum air putih lalu bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Ferdinand dan teman–temannya. Salah seorang teman Ferdinand melihat kedatangan Yoyon. “Wuiiih, sepertinya ada pahlawan kesiangan nih!” serunya. Ferdinand tertawa meledek, “Mau apa lo Yon? Lo mau kita mandiin juga?” Yoyon tersenyum dengan manis, berkata, “Oh kalian baik sekali, ternyata kalian sedang memandikan teman kita ini toh, memang teman kita ini kenapa sampai harus dimandiin?”
“Lo jangan ikut campur Yon!” bentak Ferdinand.
“Gue ga ikut campur kok, cuma nanya...”
“Soalnya dia ga bilang permisi waktu lewat depan kita!”