Hidup didesain untuk ke depan, bukan ke belakang maka babak baru harus dijalani.
Ibu, Yoona dan Yoyon sedang duduk bersama di depan televisi. Wajah Yoona dan Yoyon masih tampak lesu. “Yoona, Yoyon…sekarang Bapak sudah ga ada…tinggal kita bertiga di rumah ini, itu artinya, kita harus bersama–sama menghadapi kehidupan ini,” ucap ibu pelan. Yoona merangkul bahu ibunya. Rumah kini menjadi berbeda. Canda riang bapak sekarang hanya menjadi bagian kenangan yang tersayang.
“Tadi waktu Ibu bersih-bersih, Ibu menemukan sebuah surat di bawah bantal Bapak, sepertinya Bapak sempat menuliskan surat ini untuk kita,” lanjut ibu. Yoona menatap amplop tersebut, “Isinya apa Bu?” tanyanya.
Ibu membaca tulisan depan di amplopnya.
“Teruntuk Istriku dan anak–anakku.”
Ibu menyobek pinggir amplopnya, mengeluarkan beberapa kertas dari dalamnya. Yoona dan Yoyon sudah tak sabar ingin mengetahui isi surat bapak. “Bacakan Bu…” seru Yoyon. Ibu mengangguk. Ibu mengambil nafas dulu lalu memulai membaca dari lembar yang pertama.
“Untuk Istriku dan anak–anakku tersayang, kalau kalian membaca surat ini, itu artinya Bapak sudah ga ada…sebetulnya Bapak ingin membuat video sebagai pesan terakhir, daripada kalian harus membaca surat Bapak yang panjang ini, seperti di film–film itu, tapi Bapak kan ga punya hape, dan kalau Bapak minta tolong pada kalian untuk direkamin, ya namanya bukan pesan terakhir, tapi pesan–pesan berikut ini dong. Ga surprise lagi.”
Ibu, Yoona dan Yoyon jadi tersenyum sebentar, bapak masih saja senang bercanda. Ibu melanjutkan lagi.