Cerita Kita Hari Ini Tak Harus Indah

ken fauzy
Chapter #13

Dua Kabar Buruk Sekaligus

Semua wajah di kantor hari itu tampak tegang.

Beberapa orang telah dipanggil ke bagian personalia dan keluar ruangan dengan kepala tertunduk. Bagas gelisah memandangi pintu ruangan personalia yang masih tertutup itu, ia sedang menunggu Yoona yang berada di dalam. Beberapa saat kemudian pintu ruangan personalia terbuka, Yoona melangkah keluar.

Rekan–rekan kerjanya segera mengerumuninya, bertanya–tanya. “Gimana Yoon?” tanya salah seorang dari mereka. “Apa lo kena?” tanya yang lainnya juga. Yoona mengangguk lemah. Bagas mendesah, ia sudah menduganya saat melihat wajah lesu Yoona sejak keluar dari ruangan personalia. “Duh nasib gue gimana ya…” keluh salah seorang rekannya kepada teman-teman lainnya.

Yoona melangkah gontai, kemudian duduk menyandarkan tubuh di kursi kerjanya. Bagas menepuk-nepuk pelan bahu Yoona dan melirik pada amplop berkop perusahaan yang dipegang Yoona dengan gemetar. Terdengar berkali-kali helaan nafas Yoona sedang mengatur hatinya yang gelisah. “Gas, anterin gue pulang ya…” ujar Yoona lirih. Bagas mengangguk cepat.

 

***

 

Motor Bagas berhenti di depan rumah.

Tampak ibu sedang menjemur pakaian. Ia terkejut saat Yoona bergegas turun dari motor dan memeluknya. “Eh, eh, ada apa ini Yoon?” tanya ibu tak mengerti. Yoona menangis di bahu ibunya seakan melepaskan beban yang sedari tadi sudah ia tahan di hatinya. Memang tak ada lagi yang lebih menenangkan selain menangis dalam pelukan ibu di saat beban masalah dan beratnya hidup seakan tak bisa kau tanggung lagi. Ibu mengusap–ngusap bahu putri kesayangannya itu dengan penuh kelembutan.

Bagas hanya bisa berdiri di depan pagar rumah menatap mereka berdua. Dengan gemetar Yoona mengeluarkan sebuah amplop, lalu menyerahkan pada ibunya. Ibu membuka amplop itu, membaca isinya. Setelah membaca sejenak, ibu tersenyum dan memeluk Yoona kembali.

“Oalah Yoon, hanya surat pemberitahuan kalau kamu itu kena pengurangan karyawan toh…Ibu kira ada apa…” ujar ibu tertawa.

“Tapi Bu…itu artinya kan, Yoona ga punya pekerjaan dan penghasilan lagi…” isak Yoona, “Sedang kita kan masih butuh biaya…”

“Yoon, hidup kita tidak bergantung pada sebuah surat pemutusan kerja semacam ini…pintu rejeki dari Allah itu banyak…kalau satu pintu tertutup, pintu yang lain pasti akan Allah bukakan…selama kamu tidak menyerah…” balas ibunya, “Sudah jangan nangis lagi, itu ajak masuk Bagas…Ibu bikinin teh dan gorengannya dulu ya…” bisik ibu seraya masuk ke dalam rumah.

Yoona menghampiri Bagas, menarik tangannya untuk mengikutinya duduk di teras.

Bagas hanya duduk diam di samping Yoona, ia melihat Yoona masih tampak gelisah, Bagas tak ingin menambah rusak suasana hati Yoona kalau ia bicara, ia menunggu hati Yoona tenang terlebih dulu.

“Belum genap empat puluh hari kepergian Bapak, eh hari ini gue udah dapat dua kabar buruk sekaligus, betul–betul hari yang buruk…”

Bagas mengerutkan dahinya, “Dua kabar buruk? Kabar buruk satunya apa?”

Yoona menghela nafas.

“Tadi pagi saat Gunawan mengantar gue ke kantor…”

Yoona mulai bercerita.

Lihat selengkapnya