Yoyon mendecak kesal, saat melihat Ferdinand dan teman-temannya menghadangnya di depan sekolah.
“Ada apa lagi Fer? Kan tadi di sekolah gue udah bilang permisi?” cetus Yoyon. “Far Fer Far Fer, heh! Gue ini kakak kelas lo, jadi panggil gue Kak atau Kating!” sentak Ferdinand. “Iye, iye…maafin gue Kating, sekarang ada apa?” sahut Yoyon sudah tak sabar. “Mana si Beni? Temen culun lo itu…kita udah lama ga mandiin dia, hahaha,” ujar Ferdinand diikuti tawa teman–temannya. Yoyon mengangkat bahunya. “Hey kalau ditanya Kating jawab! Jangan cuma ngangkat bahu doang!” sentak salah satu teman Ferdinand.
“Gue ga tahu Kating, secara gue bukan baby sitternya…” jawab Yoyon. “Wah jawaban lo reseh ya, lo nantangin kita ya?” seru salah seorang dari mereka. Yoyon mengepalkan tangan, ia sudah tak tahan tapi lagi-lagi ia mengalah, ia masih ingin bersekolah di sini. “Ga Kating, gue ga berani nantang kalian…” ujar Yoyon menunduk. “Bagus! Kalau gitu sekarang lo boleh pulang” cetus Ferdinand mempersilahkan Yoyon pergi, tapi baru Yoyon melangkahkan kaki dua langkah, bahunya dipegang oleh Ferdinand.
“Heh, kata siapa lo boleh pulang dengan berjalan? Maksud gue, lo boleh pulang dengan merangkak! Cepat!” bentak Ferdinand diiringi sorak tawa teman–temannya.
Kini deru nafas Yoyon mulai memburu, detak jantungnya cepat, adrenalinnya naik. “Kenapa juga gue harus merangkak?” tanya Yoyon. “Karena di depan kita lo ga pantas berjalan, pantasnya merangkak,” jawab Ferdinand asal.
“Sebenarnya, masalah kalian itu apa sih sama anak–anak kelas satu? Kami ga pernah menganggu kalian…tapi kalian malah terus–terusan menganggu kami…apa hidup kalian ga bahagia gitu? Segitu gila hormatnya kalian sampai segitunya pengen diakui sebagai Kating? Kating my ass!” sentak Yoyon.
Mendengar itu membuat Ferdinand menjadi marah. Tangannya bergerak cepat menarik kerah baju Yoyon, hingga wajahnya berjarak dekat dengan wajah Yoyon. Mata Ferdinand melotot. Yoyon tidak gentar sedikit pun, ia menatap tajam balik sorot mata Ferdinand itu, sesaat Ferdinand merasa jeri melihat kilatan api di bola mata Yoyon tapi dukungan dari teman–temannya memompa keberaniannya kembali.
“Lo ngomong apa barusan?! Berani–beraninya anak kelas satu ngomong gitu! Lo mau cari masalah sama gue!? Heh Bapak lo baru mati, sekarang lo mau cari mati juga hah?” bentak Ferdinand. “Sikat aja udah Fer…” gosok salah seorang temannya.
“Pertama–tama, gue mau bilang…mulut lo bau jengkol anjir!…Kedua, gue ga ada maksud menghina Kating kalau kalian ga sebrengsek itu…denger ya, kalau kalian mau dihormati sama adik kelas, hormati juga adik kelas…ketiga, jangan bawa–bawa Bapak gue, ke empat, lepasin tangan lo dari kerah baju gue atau lo akan menyesal,” geram Yoyon.
“Banyak bacot lo!” tukas Ferdinand seraya mendaratkan sebuah pukulan telak di perut Yoyon, membuat Yoyon mengaduh tapi dengan cepat Yoyon pun membalasnya. Tangannya yang sedari tadi sudah mengepal kuat ditambah kekesalannya yang sudah menumpuk, menjadi pedal gas untuk melayangkan sebuah pukulan balasan yang cepat juga keras. Sebuah pukulan pendek yang merangsek tepat pada dagu Ferdinand.