Hari ini.
Yoona telah bersiap berpakaian rapih, menyiapkan maskernya lalu melangkah ke teras rumah yang setengahnya kini telah direnovasi menjadi sebuah tempat usaha menjahit ibunya. Tampak Ibu sedang mengukur tubuh seorang pelanggan perempuannya, dibantu seorang asistennya. “Jadi Bu, nanti gaun pengantinnya saya ingin ga keramean dengan renda–renda ya, saya ingin yang elegan, simple…seperti yang punya temen saya itu loh…katanya dia juga pesennya di sini,” ucap perempuan itu. “Ooh, Ibu ingat, tememnmu yang dua bulan lalu menikahkan?” tanggap ibu. “Betul Bu,” jawab perempuan itu.
Setelah mengukur lengan, pinggang, dan lain sebagainya, ibu berdiri di belakang perempuan itu, mereka berdua berdiri menghadap kaca. “Saran Ibu sebaiknya gaun pengantinmu jangan sama dengan temanmu itu Sayang, gaun pengantinmu harus berbeda, karena setiap perempuan punya karakter dan kecantikannya masing–masing,” ucap ibu, “Lihat wajahmu yang cantik dan matamu yang bundar coklat itu, Ibu akan membuatkan gaun pengantin istimewa yang sesuai dengan aksen warna matamu dan tetap elegan…jadi gaun pengantin yang hanya kamu saja yang punya.”
Mata perempuan itu berbinar, senyumnya terbuka lebar, ia mengangguk–ngangguk cepat. Perempuan itu kemudian pulang dengan hati senang. Yoona tertawa, “Ibu memang marketing paling pintar, ga percuma uang pesangonku habis buat modal usaha jahit ini…” Ibu tertawa, “Ini bukan marketing Yoon, Ibu mengatakannya dari hati, karena Ibu ingin setiap anak perempuan yang akan menikah harus terlihat cantik sesuai dirinya, dan gaun pengantin itu harus bisa menyesuaikan dengan karakter si pemakainya hingga bisa menambah kecantikan dan auranya memancar indah.”
Yoona tersenyum mendengar penjelasan ibunya. “Tapi ya, Ibu sudah sering membuatkan gaun pengantin buat anak perempuan lain…Ibu sudah ga sabar ingin membuatkan gaun pengantin untuk anak perempuan Ibu sendiri, kapan ya…” ledek ibu sembari berpura mengecek hasil jahitan karyawannya. Yoona melirik ibu dan nyengir.
“InsyaAllah, Mei Bu,” jawab Yoona sambil memakai sepatunya.
Ibu menoleh pada Yoona dengan wajah sumringah. “Hah, ini betulan Yoon? Betulan bulan Mei? Mei kapan? Tahun depan aja ya kalau pandemic sudah ga ada, eh kok Ibu belum pernah lihat calonmu itu sih? Bawa dong ke rumah, Ibu juga mau kenal loh,” cerocos ibu bersemangat.
“Meibe yes, maybe not…bisa iya bisa engga, hahaha,” sahut Yoona tertawa berhasil mengerjai ibunya. “Oalah, edyan kowe…” gerutu Ibu. “Bu aku berangkat interview dulu ya,” ucap Yoona. Ibu menghampiri Yoona, “Ibu doakan, kamu mendapatkan pekerjaan yang kamu inginkan itu ya.” Yoona mengangguk mencium punggung tangan ibunya bersamaan dengan Yoyon yang keluar rumah.
“Bu, ini pisang goreng pesanan antar kemana tadi?” cetus Yoyon. “Ibu Markonah Yon, yang di RT 13, masa lupa baru Ibu bilang tadi…” jawab ibu. Yoyon nyengir, “Oh iya, Ibu Markonah….eh Kak, mau interview ya?” Yoona mengangguk. “Sukses ya Kak…baydewei, udah lama Bang Kevin sama Bang Bagas ga kesini…kenapa Kak? Berantem ya?” tanya Yoyon.
“Berantem? Berantem kenapa? Memang betul Yon?” seru ibu khawatir.
Yoona menggeleng, “Ga ah…kata siapa berantem…berantem kenapa juga kali…”
“Berantem ngerebutin Kakak….hehehe,” sahut Yoyon sembari berjalan keluar rumah bersiul-siul. Ibu tersenyum menatap Yoona, “Adikmu itu loh…pssst, memang sebetulnya, kamu itu mau pilih yang mana Yon?” Yoona merasakan pipinya merona, “Isssh Ibu nih, ga ada pilih-pilih, dua-duanya sahabat baikku loh…” Ibu nyengir, “Ya meski sahabat jadi kekasih juga ga apa-apa toh?” Yoona mendengus sebal. “Assalamulaikum ah…” seru Yoona sambil memakai maskernya lalu membalikkan badan buru-buru berjalan keluar rumah diiringi tawa ibu. “Pilih siapa Yoon? Martabak telor boleh tuuuh,” suara ibu masih terdengar mencandainya. Yoona menggeleng-geleng.
***