Cerita Kita Hari Ini Tak Harus Indah

ken fauzy
Chapter #17

Cerita Kita Hari Ini Tak Harus Indah

Senyum merekah di bibir Bagas.

Tampak Yoona telah menunggunya di teras rumah sore itu. “Wuidih, senangnya hati gue, udah ditungguin cewek cantik,” canda Bagas membuka helmnya. Yoona tertawa. “Eh, gue beli martabak telor nih…gue lupa, tadi gue pikir masih ada Bapak…” cetus Bagas menyerahkan sekotak martabak dalam plastik. “Ga apa-apa Ibu juga suka kok,” tiba-tiba terdengar suara ibu dari balik tubuh Yoona sembari mengambil martabak itu. Yoona terpekik kaget, “Astaga Bu! Bikin kaget aja deh…” Bagas tertawa lalu mencium tangan ibu. “Kalau gitu buat Ibu aja martabaknya ya,” ujar Bagas. Ibu tertawa senang membawa martabak itu ke dalam rumah.

“Duduk Gas,” ajak Yoona, dan ia sendiri pun duduk di sebelah Bagas. “Lama ga kesini, sudah banyak dirombak ya rumah ini…” ucap Bagas. “Ah ga banyak, cuma nambahin sedikit ruang di teras buat usaha jahit Ibu,” balas Yoona, “Eh gimana sama bisnis lo, katanya sejak sepi penumpang karena pandemi, lo beralih buka bisnis desain grafis ya?”

“Anything for survive Yoon,” jawab Bagas nyengir, “Hanya mencoba mengimplikasikan ilmu gue waktu kuliah yang ga lanjut itu…” Yoona tertawa. Bunyi gemuruh terdengar pelan dari balik langit mendung. Bagas mendongak, “Dari kemarin cuacanya tu mendung terus ya, bikin hati ga menentu…” Yoona hanya mendongak sekilas lalu terdiam.

Ia sedang menenangkan hatinya yang berdegup-degup ini. “Yoon, kata lo, ada yang lo mau sampein ke gue sore ini, ada apa?” tanya Bagas lembut. Inilah saatnya ia mengutarakan isi hatinya, bisik hati Yoona. Yoona menatap Bagas dalam-dalam.

“Gas…mungkin yang akan lo denger ini akan terdengar aneh…apalagi sebelumnya kita adalah teman baik…tapi…mmm…gue harus mengutarakannya…”

“Oookeee….terus?” balas Bagas perlahan.

“Lama kita udah temenan…gue beruntung banget punya temen kayak lo…yang selalu ada buat gue…selalu mau dengerin curhatan gue…selalu mau nolongin gue…selalu ngertiin sifat gue yang kadang menyebalkan ini…lo yang ga pernah capek nasehatin gue…ngingetin gue…gue sungguh beruntung Gas…jadi rasanya gue harus mengatakan ini sama elo…”

“Bukan gue aja Yoon, Kevin juga…maksud gue, lo juga beruntung punya temen kek Kevin.”

Yoona terdiam, mengangguk-ngangguk.

“Oiya, semalam gue dapet pesen SMS dari Kevin, tapi entah dari nomer siapa…pas gue telpon balik nomernya ga bisa dihubungi…”

Yoona mengerutkan dahinya, “Pesan apa?”

Bagas mengeluarkan telepon genggamnya, membuka pesannya lalu menunjukkan pada Yoona. Yoona terdiam, setelah membacanya ia menyerahkan kembali telepon genggamnya pada Bagas. “Lo baca sendiri kan? Dia bilang mau menghilang, titip lo dan bilang baik-baik buat kita berdua…apa maksudnya ya dan mau kemana dia?” tanya Bagas mengerutkan keningnya. Yoona mengusap rambutnya yang jatuh di dahi, berkata pelan, “Dia ga ingin menghalangi kita berdua…”

“Menghalangi kita?” tanya Bagas, Yoona mengangguk. Bagas terlihat seperti yang berpikir sebentar, lalu menggeleng-geleng pelan dan tertawa.

“Lo kenapa ketawa?”

“Dasar bodoh tu anak…dia pikir gue jatuh cinta kali sama lo ya hahahaha…”

Yoona menelan ludahnya, ada keterkejutan di dalam dadanya, tapi ia tidak menampakkannya, ia hanya bisa nyengir, menggaruk-garuk kepalanya, bertanya, “Emang engga ya?” Bagas terdiam menatap Yoona, “Lah, jangan-jangan lo berpikir gue jatuh cinta sama elo juga?”

Yoona menggeleng cepat, “Ya…ya enggalah…mana mungkin ye kan…hehehe…eung…kita kan temenan dari dulu…masa sih jatuh cinta…apa itu cinta…hehehahaha….” Bagas tertawa lagi. Sial, jadi akward gini, cetus hati Yoona.

Lihat selengkapnya