Merasa Jagoan, tapi Jatuh dari Sapi
Sebuah memoir humoris nan menyentuh tentang kemarau panjang di Sungai Lubai, keangkuhan seorang bocah kelas tiga SD, dan tawa seorang ibu yang memulihkan kehormatan jiwa.
═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═
Bagian I: Matahari 1971 dan Mahkota yang Kupahat Sendiri
Pematang Sawah, Kebun Karet, dan Takhta Imajiner Bocah Sembilan Tahun
∘₊✧──────✧₊∘
Namaku Amrullah Ibrahim. Pada tahun 1971 itu, aku baru duduk di bangku kelas tiga Sekolah Rakyat di tepian Desa Lubai. Di usia sembilan tahun yang masih ingusan dan bertelanjang kaki kemana-mana, aku telah menganugerahi diriku sendiri sebuah gelar kehormatan yang luar biasa megah: Jagoan Tunggal Lubai. Gelar itu bukan titah kepala desa atau hasil pemilihan suara pemuda karang taruna, melainkan kupahat sendiri dari rentetan pencapaian monumental yang kurasa belum terkalahkan oleh siapa pun di seantero dusun.
Siapa yang sanggup memanjat pucuk tertinggi pohon jambu air milik Wak Haji Saman tanpa tergelincir semut rangrang? Aku. Siapa yang pernah mencetak rekor lari kencang tanpa terperosok di atas pematang sawah yang licin bagai belut sehabis hujan lebat? Tentu saja aku. Dan siapa yang paling lantang berteriak saat melempar biji karet ke sarang tawon di tepi kebun? Tetap aku—meskipun sesudahnya aku harus bersembunyi di balik rumpun serai dengan daun telinga membengkak sebesar mangga golek.
Desa Lubai di Sumatera Selatan masa itu adalah permata tersembunyi yang terkepung oleh keheningan purba. Sejauh mata memandang, rimbunnya perkebunan karet milik warga berbaur dengan hamparan sawah basah yang hijau kemilau laksana permadani zamrud. Bau tanah gambut yang menguap dan aroma tajam getah karet cair di dalam mangkuk tempurung kelapa sudah menjadi udara yang kami hirup setiap tarikan napas.
Namun siang itu, pertengahan kemarau 1971, matahari seolah diturunkan beberapa jengkal tepat di atas ubun-ubun kepala kami. Panasnya tidak lagi sekadar hangat yang ramah, melainkan memanggang udara hingga bergetar di atas jalan tanah merah. Setiap tapak kaki kami yang telanjang menjejak debu jalanan dusun yang mengepul seperti bedak tabur yang ditumbuk kasar, menyengat telapak kaki hingga kami harus melompat-lompat kecil seperti katak kepanasan.
Keringat bercucuran membasahi kaus singletku yang telah robek di bagian ketiak. Tenggorokanku kering kerontang bagai dasar sumur tua yang ditinggalkan pemiliknya. Dalam kepungan hawa neraka duniawi semacam itu, hanya ada satu tempat di muka bumi yang sanggup menjanjikan surga keselamatan: Sungai Lubai. Arusnya yang jernih, dasarnya yang berpasir putih diselingi batu-batu kali yang licin, serta keteduhan rumpun bambu yang menaungi tepiannya adalah satu-satunya pelarian dari keganasan musim kemarau yang tak berbelas kasihan.
Refleksi Retrospeksi: Jika kuingat kembali tahun 1971 itu, Desa Lubai adalah dunia yang teramat luas sekaligus begitu sempit. Kami tidak memiliki televisi di rumah, apalagi majalah berkilat dari ibu kota. Mahkota 'jagoan' yang kupakai di kepala hanyalah ilusi yang kutempa dari lumpur dan getah karet—sebuah upaya naluriah seorang bocah kecil untuk menolak ketidakterlihatan di hadapan semesta.
═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═
Bagian II: Trio Konyol dan Liturgi Air Sungai
Ketika Larangan Orang Tua Hanyut Bersama Debu dan Tawa Cempreng
∘₊✧──────✧₊∘
Aku tidak berangkat sendirian menuju surga air itu. Di belakangku, mengekor trio konyol yang selalu menyertai setiap babak kepahlawanan—maupun kebodohan—dalam hidupku. Ada Hoyin, bocah berambut kribo tipis dengan otak yang tak pernah berhenti memproduksi ide-ide sinting. Jika ada pohon yang terlalu tinggi untuk dipanjat, Hoyin-lah yang pertama kali membisikkan bahwa di pucuknya tersimpan sarang burung walet emas bertuah. Ada Yonadi, makhluk paling heboh seantero Lubai, yang dikaruniai tawa cempreng melengking yang konon sanggup menghentikan ayam mengeram dan membuyarkan kawanan burung pipit dari tangkai padi.
Dan terakhir, berdiri dengan tampang cemas yang abadi, adalah Hafiz. Hafiz adalah bocah juru selamat yang selalu membawa sehelai handuk kecil kumal berwarna abu-abu kusam peninggalan almarhum kakeknya. Handuk itu dikalungkan di lehernya siang dan malam laksana syal jenderal perang. Tugas tak tertulis Hafiz adalah mengingatkan kami tentang bahaya dosa, buaya buntung penunggu lubuk, serta ancaman rotan Mak kami jika kami pulang dalam keadaan telinga kemasukan air.
"Oi, Amrul! Kalau kita hanyut sampai ke hilir Musi, jangan salahkan aku ya!" pekik Hafiz dengan napas terengah-engah, tangannya memegangi ujung handuk keramatnya erat-erat.
"Hanyut apa, Hafiz penakut!" sahut Hoyin seraya menyenggol bahu Hafiz hingga terhuyung ke semak daun pacing. "Air Lubai sekarang cuma sebatas dada kita. Kalau kau hanyut, berarti kau memang ditakdirkan jadi umpan lele lembat!"
Yonadi langsung meledakkan tawa cemprengnya, "Kik-kik-kik! Belum nyebur saja si Hafiz sudah pucat kayak mayat ubi rebus!"
Tanpa melepas celana pendek komprang kami yang sudah belel, kami berempat melompat serentak ke dalam pelukan Sungai Lubai: BYUUURRR! Suara deburan air memecah kesunyian tengah hari dusun. Seketika itu juga, sengatan panas matahari yang memanggang ubun-ubun lenyap tak bersisa, digantikan oleh kesegaran murni yang menembus hingga ke pori-pori tulang.
Kami menyelam laksana anak-anak berang-berang yang baru menemukan liang mata air. Kami saling mencipratkan buih, berlomba menahan napas di dalam air yang bening hingga mata kami merah menyala, dan menertawakan segala rupa beban hidup anak sembilan tahun: PR berhitung susun pendek dari Pak Guru Harun yang belum tuntas, tugas mengarit rumput gajah, serta bentakan orang tua yang melarang kami mandi di waktu zuhur. Di dalam air sejuk Sungai Lubai, kami merasa kebal dari segala kesusahan dunia fana.
Refleksi Retrospeksi: Kami adalah empat serangkai dengan kegilaan yang saling melengkapi. Hoyin yang selalu menyalakan sumbu mesiu, Yonadi yang menjadi guntur tawanya, Hafiz yang bertindak sebagai rem tangan yang selalu blong, dan aku sendiri yang selalu merasa ditakdirkan menjadi pemeran utama dalam setiap lakon konyol yang kami pentaskan.
═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═
Bagian III: Iring-iringan Sang Raja Sawah
Kemunculan Sapi-sapi Pak RT dan Cetusan Ambisi Liar
∘₊✧──────✧₊∘
Di tengah eforia perang air itu, sebuah simfoni lain tiba-tiba membungkam tawa kami. Dari arah kelokan sungai di balik rimbunnya pohon rengas tua, terdengar gemercik air yang berdentum berat dan berirama, disusul oleh suara dengusan panjang yang sangat berwibawa: "MHOOOOO... GLUK-GLUK..."
Kami serentak menghentikan kayuhan tangan dan menoleh. Dari tepian berlumpur, melangkah turun lima ekor sapi pekerja berbadan gempal milik Pak RT Mang Basir. Sapi-sapi itu baru saja menuntaskan pengabdian luhur membajak dua petak sawah basah di ujung hulu dan kini digiring pulang menyeberangi Sungai Lubai menuju kandang bambu mereka di seberang tebing.
Sapi yang memimpin iring-iringan itu adalah seekor jantan berbulu cokelat kehitaman yang luar biasa perkasa. Punuknya menjulang kokoh seperti kubah bukit kecil, lehernya dipenuhi lipatan gelambir tebal yang berotot, dan kedua tanduknya melengkung ke depan dengan ujung yang berkilau basah tertimpa terik matahari. Sapi itu melangkah mantap menembus arus sungai setinggi lambungnya, membelah air dengan tenang tanpa memedulikan riak di sekitarnya.
Matahari menyinari punggungnya yang lebar dan sedikit basah oleh sisa-sisa lumpur pematang. Saat itulah, sebuah lintasan pikiran melesat di dalam benakku. Sebuah ide liar yang jika ditimbang dengan akal sehat masa kini adalah kebodohan paling murni yang pernah dihasilkan oleh otak manusia. Tiga pekan sebelumnya, ketika diajak pamanku ke pasar malam di kota kecamatan, aku sempat mengintip layar tancep keliling yang memutar film koboi Amerika. Sang jagoan berkemeja kotak-kotak dengan lihai melompat ke punggung kuda liar, melesat menaklukkan padang rumput sambil mengacungkan pistol kosong.
Darah mudaku mendidih seketika. Mengapa harus menunggu sampai dewasa untuk menunggang kuda bila di depan hidungku sedang berbaris sapi jantan paling kekar di Lubai? Bukankah sapi Pak RT ini jauh lebih gagah dan eksotis ketimbang kuda kurus milik kusir delman stasiun?
"Hoyin! Yoni! Hafiz!" bisikku seraya merapatkan diri ke arah mereka, mataku menyala-nyala penuh kobaran ambisi purba. "Lihat sapi jantan yang di depan itu! Kalian lihat? Hari ini, kalian akan menyaksikan bagaimana seorang jagoan sejati menunggangi banteng liar seperti koboi di pasar malam!"
Refleksi Retrospeksi: Kala itu, aku belum mengerti bahwa ada batas tipis antara keberanian sejati dan kebodohan yang dipoles rasa ingin dipuji. Sapi-sapi itu adalah lambang ketabahan desa: tenang, perkasa, dan berbakti. Namun di mata anak kecil yang teracuni khayalan koboi, binatang perkasa itu hanyalah panggung berjalan untuk membuktikan kejantanan yang semu.
═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═
Bagian IV: Perang Urat Saraf di Atas Arus
Dilema Gengsi: Antara Menarik Diri atau Menjemput Bencana