Cerita LUCU

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

Jadi Asisten Cilik

KARCIS TUNGGAL DAN KEBERUNTUNGAN SI ASISTEN CILIK

Kisah Jenaka Perjalanan Kereta Api Limex 1974 Tanjung Karang - Kertapati

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


--- PROLOG: PELUIT MALAM DAN GEJOLAK JIWA EMPAT BELAS TAHUN ---

Tentang aroma tanah baru dan debar jantung yang tak tercatat di buku geografi. Lokasi: Pintu Masuk Kenangan, 1974 | Waktu: Malam Bersejarah

∘₊✧──────✧₊∘

"Sensasi awal tiap kali aku melangkahkan kaki ke wilayah baru sangatlah beragam: dari rasa senang, haru, hingga linglung sendiri. Namun malam itu murni jantungan kelas berat."

 Hal paling memikat yang merayap ke dalam pori-pori kesadaranku setiap kali menginjakkan telapak kaki ke tanah yang asing bukanlah sekadar pemandangan bukit atau lekuk sungainya, melainkan keunikan ragam budaya dan perbedaan perangai manusianya. Dua perkara itu tak pernah gagal menabrakkan rasa takjub dengan kebodohan masa mudaku. Pada usia empat belas tahun, dunia bagiku masih selebar lapangan bola di kampung dan sebatas desas-desus para tetua di gardu ronda. Setiap bentang wilayah baru selalu menyuguhkan sensasi yang tumpah ruah tak beraturan: ada senang yang meletup-letup, sedih yang menyelip tanpa pamit, marah karena tertipu penjaja asongan, geli melihat tingkah polah orang kota, hingga frustrasi yang membuat kepala linglung berputar-putar seperti baling-baling bambu.

 Namun, peristiwa yang kupatrikan di sini murni berada di perbatasan genting antara lelucon jenaka dan ancaman serangan jantung dini. Sebuah lakon hidup yang terjadi tepat pada musim kemarau basah tahun 1974. Kala itu, rambutku masih dipotong model mangkok tengkurap oleh pangkas rambut pinggir jalan, dada rata berbalut kemeja lungsuran bermotif kotak-kotak pudar, dan sepasang sandal jepit Swallow yang ketebalan karet tumitnya sudah miring sebelah kanan.

 Kakak kandungku, Iskandar—seorang pemuda berumur dua puluhan awal yang selalu memandang hidup dengan kedalaman filsafat seorang begawan santai bercampur kelicikan licin belut sawah—memutuskan memboyongku pulang kampung ke Desa Jiwa Baru di pelosok Muara Enim. Kami akan menaiki kendaraan paling legendaris, paling masyhur, dan paling dipuja oleh rakyat berkantong pas-pasan pada masa itu: Kereta Api Lintasan Malam Ekspress, atau kaum jelata lebih akrab melafalkannya dengan desis penuh gengsi: 'Limex' jurusan Tanjung Karang menuju Kertapati.

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


--- BABAK I: KONSPIRASI DI DEPAN LOKET TANJUNG KARANG ---

Dua tubuh, dua tas kain, tetapi hanya satu keping karton tebal penyelamat nyawa. Lokasi: Stasiun Tanjung Karang, Lampung | Waktu: Pukul 19.15 WIB

∘₊✧──────✧₊∘

""Tenang, Amrullah. Perjalanan hidup ini tak selalu menuntut dua karcis resmi jika kepalamu punya cadangan dua siasat licin.""

 Stasiun Tanjung Karang pada malam itu menyerupai pasar malam yang kehilangan komidi putar, namun sarat ketegangan manusiawi. Lampu-lampu petromaks mendesis di atas gerobak penjual wedang jahe dan pisang goreng tanduk, memancarkan cahaya kuning keemasan yang menari-nari di atas wajah para calon penumpang. Asap tembakau linting cap Daun Kelapa bergulung-gulung tebal di udara terbuka, berkelindan dengan sengatan uap belerang lokomotif diesel hidrolik yang berdeguk malas di atas bantalan rel berkerikil tajam. Suara peluit juru langsir berpadu bising dengan teriakan kuli angkut berpakaian karung goni yang memanggul koper kaleng dan tandan pisang ambon.

 Di tengah keriuhan itu, Kakak Iskandar melangkah gagah layaknya saudagar cengkih dari dataran tinggi Ranau. Kerah kemejanya dibuka satu kancing atas, menyembunyikan kenyataan bahwa dompet lipat kulit imitasi miliknya kempis setipis daun singkong rebus. Aku mengekor di belakangnya bagai anak ayam kehilangan induk, meremas tali tas kain blacu yang berisi dua potong sarung dan sebungkus keripik pisang sangrai bekal dari bibi.

 Kami merangsek ke antrean loket berkawat kasa tembaga. Petugas loket berkumis tebal seperti ulat bulu menatap kami dingin. Kakak Iskandar menyodorkan uang kertas lusuh bernilai pas-pasan ke lubang loket. Mataku yang awas mengikuti gerak jemarinya. Begitu bunyi gedebuk stempel kayu menghantam meja dan satu keping karcis karton Edmondson berwarna cokelat tua meluncur keluar, mataku kontan melotot nyaris meloncat dari kelopaknya.

---

 Hanya ada satu karcis!

---

 Aku menarik ujung baju Kak Iskandar dengan jemari gemetaran. Suaraku tercekat di pangkal tenggorokan, terombang-ambing antara kepanikan moral dan kengerian fisik. 'Kak Iskandar... demi langit dan bumi, mengapa beli karcis cuma satu keping saja? Kita ini kan ada dua kepala bernyawa!'

 Kakakku menoleh pelan. Bibirnya membentuk senyuman misterius—sejenis seringai yang biasa dipasang oleh para pesulap keliling sebelum burung merpatinya kabur ke atap rumah ibadah. 'Ya cukup satu karcis saja, Dek. Karcis ini untuk membeli hak duduk kakakmu yang sah di hadapan hukum dan negara.'

 Logikaku yang baru empat belas tahun mendidih. Keringat dingin merembes deras di balik tengkuk. 'Lalu bagaimana dengan aku? Nanti kalau kondektur berseragam hitam dan bertopi pet garang itu datang menagih karcisku, apa yang harus kujawab? Apa aku harus melompat ke kolong bangku?'

 Kakak Iskandar menepuk bahuku mantap—tepukan yang bukannya menenangkan, malah terasa seperti upacara pelepasan prajurit bunuh diri sebelum maju ke medan ranjau. 'Gampang. Begitu petugas bertanya, pasang muka anak yatim piatu yang budiman, lalu katakan dengan suara bergetar: Karcisnya ada pada abang saya di baris depan. Selesai. Hukum perkeretaapian tak akan tega mendebat seorang adik yang tawadu pada abangnya.'

 Aku menelan ludah yang terasa sekering abu gosok. 'Baiklah, kalau begitu rencanamu, Kak... Tapi kalau sampai aku dibuang ke rawa-rawa penuh buaya, jangan harap arwahku mau mendoakan keselamatanmu di Jiwa Baru!' Kakakku hanya terkekeh renyah sambil menyelipkan karcis tunggal itu ke saku bajunya dengan lagak seorang jenderal perang yang baru meneken perjanjian damai.

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


--- BABAK II: DERAK RODA BAJA DAN KURSI BUANGAN NOMOR 14 ---

Ketika kepolosan anak kampung dipaksa berakting di tengah gerbong borjuis. Lokasi: Gerbong Limex Malam Nomor 3 | Waktu: Pukul 20.30 - 21.15 WIB

∘₊✧──────✧₊∘

""Jarak dua baris kursi di dalam gerbong itu terasa bagaikan jurang selebar Selat Sunda antara surga resmi dan neraka tanpa karcis.""

Lihat selengkapnya