Cerita LUCU

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

Misteri 'Halimun'

Pelajaran 'Un' dan Misteri 'Halimun'

Sebuah Babak tentang Dhommah Tanwin, Panik Kamus, dan Asmara yang Terpeleset di Lidah

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Bagian : 01 Oven Ruang Kelas dan Labirin Dhommah Tanwin

∘₊✧──────✧₊∘

Matahari pukul satu siang di langit kota kecil itu bukan lagi sekadar sumber penerangan alami; ia telah bermetamorfosis menjadi lempengan tembaga membara yang ditempelkan tepat di atas atap seng Madrasah Tsanawiyah Al-Falah. Udara di dalam ruang kelas 3-B bergerak lamban, berat, dan pekat, dipenuhi partikel debu kapur tulis yang menari-nari dalam berkas cahaya miring, berkelindan dengan aroma khas minyak kayu putih Cap Lang dari saku kemeja Amar serta sisa-sisa uap sambal terasi dari bungkus bekal makan siang yang disembunyikan di kolong meja belakang. 

Kipas angin gantung merk Maspion yang terpasang di langit-langit berputar dengan derit ritmis yang menyedihkan—*krek-krek-ngung, krek-krek-ngung*—seperti napas orang tua renta yang tersengal-sengal menolak ajal. Alih-alih mengusir hawa gerah, baling-baling berkarat itu hanya mengaduk panas menjadi pusaran yang memerangkap tiga puluh pasang mata anak manusia dalam kantuk yang mematikan.

Namun, di sudut barat ruang kelas itu, tepat di samping jendela berkawat kasa yang sebagian telah bolong dicakar kucing liar, sebuah meja panjang kayu jati menjadi arena pertarungan batin yang sunyi namun bergolak. Tiga pasang tangan bertengger di atas meja. Tiga kepala tertunduk dengan tingkat kecemasan yang berlainan rupa.

Amrullah duduk tegak dengan punggung membentuk sudut siku-siku sempurna—postur yang selalu ia pertahankan demi menyembunyikan getaran di lututnya. Di hadapannya, kitab *Al-Mufrodat Al-Yaumiyyah* terbuka pada halaman empat puluh dua. Jari telunjuknya yang bertinta biru menekan kuat-kuat margin kertas tipis berwarna krem itu hingga berkerut. Sebagai anak sulung dari Ustadz Mansur, tokoh agama desa yang terkenal keras dan berdisiplin tinggi, Amrul tidak pernah diberi kemewahan untuk menjadi "murid biasa". Kegagalan dalam melafalkan wazan atau ketidaktahuan atas arti sebuah Isim Nakirah bukan sekadar berarti nilai merah di rapor; baginya, itu adalah aib keluarga, sebuah pengkhianatan terhadap doa-doa panjang yang dirapalkan sang ayah di setiap sujud sepertiga malam. Amar takut dianggap bodoh. Rasa takut itulah yang melahirkannya sebagai sosok yang serbatahu, kaku, dan gemar memasang mimik seorang jaksa agung kecil di hadapan teman-temannya.

Di samping kirinya, Laila Zahira melipat kedua tangannya di atas pangkuan, menyembunyikan ujung jemari yang dingin di balik lengan seragam putihnya yang longgar. Gadis berwajah teduh itu sesekali memperbaiki letak kacamata berbingkai bulat hitam yang melorot di hidungnya yang berkeringat tipis. Berbeda dari Amar "Amrullah Ibrahim" yang ambisius, Laila adalah manusia dengan keheningan yang tajam. Ia mengingat setiap kata yang dibaca, memahami pergeseran makna dari harakat fathah ke dhommah dengan ketajaman instingtif. Namun, ingatan masa kecilnya di madrasah ibtida'iyah—ketika seorang ustazah membentaknya di depan ratusan santri karena lidahnya terpeleset melafalkan huruf *'Ain* menjadi *Hamzah*—telah menanamkan batu karang di tenggorokannya. Laila selalu merasa lebih aman menjadi bayang-bayang. Ia cerdas, tetapi ketakutan menjadi pusat perhatian adalah penjara bawah tanah yang belum sanggup ia runtuhkan.

Dan di seberang meja, mencairkan segala ketegangan dengan aura yang seolah-olah berasal dari galaksi yang berbeda, duduklah Savitri Rahmawati. Jilbab merah mudanya sedikit miring ke kanan, memperlihatkan beberapa helai anak rambut hitam yang menempel di pelipisnya yang basah oleh peluh. Savitri adalah anak pedagang kelontong di Pasar Wage. Rumahnya selalu bising oleh tawar-menawar harga terigu, teriakan kuli angkut, dan suara radio transistor yang memutar dangdut pantura. Tumbuh di lingkungan seperti itu membuat Savitri kebal terhadap kepura-puraan akademis. Baginya, hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan meratapi apakah sebuah kata harus berakhiran *tanwin dhommah* atau *tanwin kasrah*. Jika dunia sedang runtuh, Savitri akan mencari cara untuk menertawakan debunya. 

Hari itu, Pak Ahmad Fauzi—guru bahasa Arab mereka yang berperawakan semampai dengan kumis tipis yang terawat rapi—memberi maklumat sebelum pamit sejenak ke ruang guru untuk mengambil berkas rapat: *Kuasai Isim Nakirah berakhiran 'un'. Saling uji dalam kelompok. Yang tidak mampu menjawab saat saya kembali, akan berdiri di depan kelas membaca surat Al-Baqarah sampai tuntas.*

Kata "Al-Baqarah sampai tuntas" berdentang di kepala Amar laksana lonceng kiamat.

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Bagian : 02 Perang Saraf di Bawah Desau Kipas Angin

∘₊✧──────✧₊∘

"Baik, kita mulai dari yang paling gampang," bisik Amar dengan intonasi seorang komandan peleton yang sedang membagikan ransum di tengah kepungan musuh. Matanya memicing, menatap Savitri dan Laila bergantian. Suaranya ditekan sedemikian rupa agar tidak merembes ke kelompok sebelah yang sedang ribut meributkan arti kata *Kharufun* (domba). "Aku yang sebutkan katanya, kalian berdua wajib jawab artinya. Jangan pakai mikir lebih dari dua detik. Ini demi keselamatan bersama. Paham?"

Laila mengangguk mantap, meski jari kelingkingnya tanpa sadar mengetuk meja tiga kali—gerakan gugup yang selalu ia lakukan sebelum ujian. 

Savitri, sebaliknya, menyandarkan dagunya di atas tumpukan tangan, tersenyum lebar sambil mengacungkan jempol kirinya yang bantet. "Siap, Yang Mulia Hakim Ketua. Luncurkan rudalmu, jangan kasih kendor!"

Amrul menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya lebih tinggi lagi. 

"Kitabun!" sembur Amar cepat.

"Buku!" serobot Laila tangkas, tanpa jeda setengah detik pun.

"Qolamun!"

"Pena!" sambut Laila lagi, matanya berbinar di balik lensa kacamata.

"Babun!"

"Pintu!"

Amrul menghentikan rentetan katanya. Matanya menyipit puas melihat Laila yang begitu responsif, namun pandangannya segera beralih penuh selidik ke arah Savitri yang sejak tadi hanya manggut-manggut sambil bersiul tanpa suara. Ada secuil rasa superioritas yang hangat menjalar di dada Amrul—ia merasa kendali kelas ada di genggamannya. 

"Bagus," puji Amrul dengan nada dibuat-buat sedewasa mungkin, seolah-olah ia seorang inspektur jenderal kurikulum pendidikan Timur Tengah. "Kalian cukup tanggap. Sekarang sistemnya kita balik. Giliran kalian yang sebutkan kosakatanya, dan biar aku yang terjemahkan artinya. Cari kata apa saja yang ada di bab dua sampai bab empat. Tantang aku."

Laila menatap Amrul dengan senyum tipis yang sarat misteri. Ia tahu betul sahabatnya ini memiliki kelemahan pada kosakata yang berkaitan dengan perasaan atau organ halus, karena Amrul selalu terlalu sibuk menghafalkan kata benda berwujud padat. 

"Qalbun!" ujar Laila tenang.

Amrul tersenyum miring, senyum kemenangan seorang pemburu. "Hati! Atau dalam konteks anatomi kedokteran klasik, itu bermakna jantung! Qalbun, jamaknya Qulub. Sangat mudah, Laila. Kasih yang lebih berbobot."

"Kursiyun!" lanjut Laila tanpa terpancing kecongkakan lawan bicaranya.

"Kursi! Tempat duduk yang menyangga beban fisik maupun kekuasaan!" Amrul menjawab dengan tambahan tafsir yang sebenarnya sama sekali tidak diminta, sekadar untuk membuktikan bahwa gudang ingatannya seluas Samudra Hindia.

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Bagian : 03 Petaka Kosakata Terlarang: Lahirnya 'Halimun'

∘₊✧──────✧₊∘

Kini pandangan kedua anak itu tertumpu pada Savitri. 

Gadis berkerudung merah muda itu tampak menggeliat di kursinya. Suasana hening mendadak menggantung di antara mereka. Jari telunjuk Savitri mulai menggaruk dagunya yang licin—sebuah pertanda biologis bahwa proses berpikir tingkat tinggi sedang terjadi di dalam kepalanya yang biasanya dipenuhi lirik lagu pop dan resep es doger. 

Matanya melirik ke langit-langit, lalu bergulir liar ke arah halaman buku paket yang terbuka asal-asalan. Amar menatapnya dengan pandangan meremehkan yang kentara, melipat kedua tangan di dada sambil mengetuk-ngetuk siku dengan percaya diri. Laila menunggu dengan sabar, mengenali kilatan jenaka yang mulai menyala di pupil mata Savitri.

Di dalam benak Savitri, sebuah pergolakan batin yang campur aduk sedang meletup-letup. Semalam, di warung kelontong ibunya, ada seorang pemuda santri senior dari asrama barat bernama Halim—seorang pemuda berkulit sawo matang dengan sorot mata sayu yang gemar membeli rokok lintingan dan buku tulis bergaris tiga—yang tersenyum padanya. Senyum tipis yang sanggup membuat Savitri menumpahkan setengah kilo gula pasir ke lantai semen. Sejak detik itu, nama "Halim" atau panggilan akrab teman-temannya, "Halimun", berputar-putar di dalam kepalanya laksana gasing seng. Dan dalam keadaan terdesak mencari kata berakhiran bunyi "un" yang terdengar megah dan berbobot, lidah Savitri yang nakal mengambil jalan pintas yang fatal.

"Oke, aku punya satu," kata Savitri tiba-tiba. Wajahnya yang semula tampak polos kini diselimuti binar nakal yang memancar terang. "Dengarkan baik-baik, wahai Tuan Kamus Berjalan. Kata ini berakhiran 'un', sangat puitis, dan penuh rahasia alam: Halimun!"

Hening.

Desau kipas angin gantung mendadak terasa melambat. Seekor lalat hijau yang melintas di atas meja mereka seakan-akan mengepakkan sayapnya dalam gerakan lambat (*slow motion*).

Amrul tertegun. Alis tebalnya bertaut erat hingga kedua ujungnya nyaris bersentuhan di pangkal hidung. "Ha... Halimun?" ulangnya gagap. Kata itu terdengar asing di telinganya, namun anehnya memiliki rima yang begitu meyakinkan bagi telinga seorang penuntut ilmu nahwu. Apakah itu turunan dari kata *Halim* (yang maha santun)? Tetapi wazan apa yang menambahkan akhiran *waw* dan *nun* hingga berbunyi Halimun? Apakah itu *Isim Fa'il* langka dari bab *Sulasi Mazid*? 

Detak jantung Amrul berdegup kencang seperti tabuhan genderang perang badar. Keringat dingin mulai merembes dari garis rambutnya, meluncur perlahan membasahi pelipis. Martabatnya sebagai juara kelas sedang dipertaruhkan di depan dua orang gadis. 

"Halimun? Apa artinya? Rasanya... rasanya aku pernah dengar di salah satu syair jahiliyah, tapi..." Amrul menggantung kalimatnya, panik.

Laila menggelengkan kepala perlahan, alisnya terangkat tinggi di balik kacamata. Sebagai pengamat yang teliti, ingatannya tentang silabus semester ini sangat presisi. "Aku tidak ingat kata itu pernah diajarkan, Sav. Kamu yakin kata itu ada di buku mufrodat kita? Apa artinya kabut? Bukankah kabut dalam bahasa Arab itu *Dhababun*?"

Savitri hanya menopang dagu dengan kedua tangannya, tersenyum dengan lengkungan bibir paling misterius sepanjang sejarah peradaban madrasah. "Ada dong! Masa kalian berdua yang otaknya encer kayak santan kelapa sawit nggak tahu? Ayo dong, Amrul! Menebak itu gratis, tidak kena pajak penghasilan!"

Gengsi Amar runtuh menjadi serpihan debu. Dengan gerakan terburu-buru yang nyaris menjatuhkan kotak pensil kalengnya, ia merogoh tas ransel kanvasnya yang lusuh. Dari perut tas itu, ia mengeluarkan kamus legendaris saku susunan Mahmud Yunus yang ujung-ujung sampul birunya sudah mengelupas parah. Jemari Amar gemetar liar membolak-balik lembaran huruf *Ha* (ح) dan *Kha* (خ).

*Halaman seratus dua puluh... tidak ada. Huruf Ha-Lam-Mim... Halim... Halimun mana?!* napas Amar mulai memburu, matanya membelalak mencari kata fiktif tersebut bagai seorang penyelam yang kehabisan oksigen di dasar laut.

Lihat selengkapnya