Cerita LUCU

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

Bukan Jampi Jampian

JAMPIRO YANG BUKAN JAMPI

Kisah Bocah Lubai di Lingkungan Masyarakat Jawa. Latar: Desa Datar Lebuay, Air Naningan, Lampung Selatan (Minggu, Bulan Agustus 1974)

“Perbedaan bahasa di tanah rantau acapkali melahirkan kerikil salah paham. Namun bila disambut dengan kelapangan budi, kerikil itu tak pernah menjadi dinding pemecah; ia justru menjelma tawa yang merekatkan persaudaraan sejati.”

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


BAGIAN I: GEMURUH SANGARUS DAN SEPOTONG JANJI DI TAPAL BATAS

Ketika jarak sepuluh kilometer bukan sekadar hitungan langkah, melainkan taruhan masa depan seorang bocah Lubai.

∘₊✧──────✧₊∘

Desa Datar Lebuay pada medio Agustus tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh empat bukanlah tempat bagi mereka yang lekas berputus asa. Di ceruk pedalaman Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Lampung Selatan itu, waktu seolah enggan bergegas. Jarum jam dinding buatan Tiongkok di sudut ruang kerap kalah berdentang dibanding jerit burung uncal dan deru Sungai Sangarus yang membelah kebun-kebun kopi robusta. Udara pegunungan turun membungkus lembah setiap kali petang melingsir, menyisakan bau tanah gembur bercampur humus basah yang menyengat lubang hidung. Belum ada deru knalpot sepeda motor yang membelah kabut; satu-satunya tanda kehidupan berjarak adalah kepulan asap pembakaran dahan kopi kering dan tembang pangkur lirih para transmigran Jawa yang sedang menyiangi pematang.

Di sanalah aku, Amrullah Ibrahim, bocah sebelas tahun berkulit sawo matang legam, menatap langit-langit pondok panggung kayu milik Bapak Wagiyono. Tubuhku yang kurus terhimpit di antara selimut lurik kusam di atas amben—bale-bale bambu petung yang bilah-bilahnya telah mengkilap disepuh peluh dan waktu. Aku adalah murid kelas enam Sekolah Dasar Negeri Datar Lebuay. Namun status murid sekolah dasar itu harus dibayar dengan ongkos psikologis yang teramat mahal: sebuah keterasingan raga dan jiwa.

Orang tuaku bermukim di sebuah pondok huma terpencil di belantara perbukitan, sepuluh kilometer jauhnya dari tapal batas sekolah. Bagi sepasang kaki anak-anak era tujuh puluhan yang bertelanjang tanpa alas sandal jepit sekalipun, menempuh jarak dua puluh kilometer pulang-pergi setiap hari melintasi jalur setapak licin, tebing curam, dan sarang pacet sama saja dengan mengundang maut. Karena alasan itulah, Bak dan Mak merelakanku "ditarik" ke peradaban kecil di rumah sang Kepala Sekolah.

"Kau harus pandai menahan hati, Am," bisik Bak tiga bulan silam di ambang pintu gubuk kami, suaranya parau dan tajam seperti bilah badik pusaka yang baru diasah. Tangan kasarnya yang kapalan oleh gagang parang meremas kedua pundakku dengan getir. "Di rumah Pak Yono, kau bukan anak raja. Jangan banyak tingkah, jangan membawa tabiat keras kepala orang Lubai ke bilik orang Jawa. Mereka orang halus, bicaranya berputar seperti alur sulur sirih, tidak seperti kita yang langsung menghujam ke jantung perkara. Belajarlah membaca isi dada orang lewat kedipan matanya. Yang terpenting, bawa pulang selembar ijazah bertinta hitam itu, agar kelak kau tak perlu mematahkan punggung membabat rimba seperti bapakmu ini."

Mak tidak banyak berkata waktu itu. Perempuan Lubai itu hanya menyelipkan bungkusan kecil berisi tembakau peninggalan kakek dan segenggam kunyit sangrai ke dalam buntalan kain blacu kepunyaanku, sebelum menyeka sudut matanya dengan ujung selendang songket yang benangnya telah memudar. Keringat dan harum minyak kelapa kelentik di kerudung Mak adalah aroma terakhir yang kuhirup sebelum melangkah menyusuri tepian hutan. Kenangan itu kini berputar-putar di kepalaku bagai gasing kayu yang berputar miring di atas tanah becek.

Kini, di atas amben dingin ini, petuah Bak terasa menghimpit dadaku lebih sesak daripada demam yang sedang membakar sekujur tubuhku. Suku Lubai, anak suku Melayu Palembang yang mengalir di darahku, menuntut kebanggaan diri yang tak boleh cengeng. Kami terbiasa bersuara lantang, memandang lurus ke biji mata lawan bicara, dan menyatakan suka atau tidak dalam sekali tarikan napas. Namun di rumah berdinding papan renggang kepunyaan Pak Yono ini, segala kebiasaan itu harus ditekuk rapat-rapat. Kesunyian rumah ini terasa ganjil. Desau daun pisang di tepi Sangarus terdengar seperti bisikan mencemooh: bocah rantau yang malang, baru dua hari demam sudah nyaris merengek memanggil ibunya.

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


BAGIAN II: MERIANG YANG MEMANGGANG DAN DILEMA SANG PAMONG

Dua hari melintir di atas bilah bambu, menelan kepahitan jarak dan kesendirian di tanah rantau.

∘₊✧──────✧₊∘

Sudah dua hari dua malam badanku dihantam apa yang dinamakan orang kampung sebagai 'meriang'. Mula-mula hanya gigilan kecil di ujung-ujung jari kaki saat kabut fajar merambat dari celah dinding papan. Namun menjelang siang hari Minggu ini, suhu tubuhku melonjak bak bara sekam yang ditiup angin puyuh. Mataku perih, terasa ada segenggam pasir panas yang diselipkan di balik kelopak mata. Setiap kali menelan ludah, kerongkonganku berdenyut seakan tergores duri rotan. Sendi-sendi tulangku linu, ngilu tak berperi, seolah seluruh persendianku sengaja dicopoti satu per satu lalu dipasang kembali tanpa pelumas.

Aku melintir ke kiri, amben bambu mengerit panjang memecah keheningan. "Krieeek... krek." Suara derit bambu itu bagai mengejek kesendirianku. Aku membalikkan badan ke kanan, mencari bagian anyaman yang masih menyimpan sisa dingin, namun yang kutemukan hanya rasa panas yang memantul kembali ke kulitku. Perutku melilit minta diisi, tetapi lidahku mati rasa; nasi tiwul campur beras raskin yang disodorkan Bu Wagiyono tadi pagi terasa sepahit getah gambir di pangkal lidah. Segelas teh tubruk hangat dengan gula aren yang telah dingin di atas meja kayu hanya kusentuh seteguk.

"Ibu... Mak..." rintihku dalam hati, bibirku hanya bergerak tanpa mampu mengeluarkan bunyi yang pantas. Aku tak berani bersuara keras. Menangis terisak di rumah kepala sekolah yang berwibawa adalah aib besar bagi bocah Lubai. Pak Yono adalah sosok yang disegani di seantero Datar Lebuay. Sosoknya tinggi sedang, berkumis tipis rapi, dengan sorot mata teduh seorang pendidik yang selalu berbicara dengan intonasi rendah, teratur, dan penuh kehati-hatian khas priyayi Jawa. Bagi Pak Yono, keteraturan adalah cermin budi pekerti; kekacauan nada suara adalah pertanda jiwa yang belum matang.

Derap langkah kaki tanpa alas terdengar mendekat dari arah pawon—dapur belakang yang berlantai tanah liat basah. Pak Yono melangkah masuk ke ruang tengah. Mengenakan sarung kotak-kotak Samarinda dan kaos oblong putih cap Singa yang sedikit koyak di bagian kerah, pria itu menatapku dengan kening berkerut. Ada beban tak kasat mata yang menggelayut di pundaknya. Aku tahu, menjadi wali asuh bagi murid perantau bukanlah perkara gampang. Jika aku sampai meregang nyawa di rumahnya, bukan saja ia harus berhadapan dengan murka Bak yang bertemperamen keras khas orang hulu, melainkan juga celaan batin: pamong yang lalai menjaga amanah anak orang.

"Am... kenek opo toh, Le? Kok ambené sampek muni kemriek terus kawit mau?" tanyanya lembut, logat Jawanya begitu pekat dan berayun menenangkan. (Am... kenapa, Nak? Kenapa tempat tidurnya sampai berderit terus sejak tadi?)

Aku berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaga di pangkal tenggorokan. Mengingat wejangan Bak untuk selalu bersikap hormat kepada sang guru, aku mencoba tersenyum, meski bibirku yang pecah-pecah terasa perih meregang. "Sakit meriang, Pak... panas sekujur badan." Suaraku terdengar seperti desis dedaunan kering yang diinjak babi hutan.

Pak Yono membungkuk sedikit. Telapak tangannya yang halus—tangan yang terbiasa memegang kapur tulis putih dan penggaris kayu panjang—mendarat di dahiku. Seketika sensasi sejuk menyengat kulitku yang panas membara. Beliau menarik napas panjang, mendesah halus melalui rongga hidungnya. Matanya mencerminkan kecemasan yang tulus, jenis kecemasan seorang bapak yang menyaksikan anaknya sendiri tergolek tak berdaya.

"Wah, sumeng temen iki... panase koyo godokan wedang. Ya sudah, tiduran saja ya, Le. Jangan banyak tingkah dulu. Istirahat sing cukup, sarungnya ditarik sampai dada biar keringatnya keluar," pesannya penuh welas asih. Sentuhan itu sesaat meluluhkan rasa kesepianku. Di bilik yang berjarak ratusan kilometer dari tanah leluhur nenek moyangku, sentuhan seorang guru Jawa terasa bagai rintik gerimis pertama di tanah gersang.

Namun kecemasan tak bisa diobati hanya dengan usapan kening. Pak Yono berdiri kaku sejenak, memandang ke arah jendela depan yang menghadap ke rimbunnya kebun kopi. Mantri kesehatan terdekat tinggal di Desa Naningan, menyeberangi dua jembatan gantung reyot dan menyusuri jalan tanah liat merah yang bila diguyur hujan kemarin malam pasti telah berubah menjadi bubur pekat setinggi lutut. Mengangkut seorang bocah demam tinggi menunggangi pundak sejauh itu bukanlah perkara sepele. Dengan langkah gundah, Pak Yono kembali melangkah ke belakang, meninggalkanku bersama bayang-bayang ketakutan bocah yang sendirian di tengah rimba.

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


BAGIAN III: KEPULAN ASAP KLOBOT DAN TAMU DARI SEBERANG PEMATANG

Dua guru desa berembuk di antara rasa sungkan, etika bahasa, dan aroma kopi tubruk pekat.

Lihat selengkapnya