Cerita LUCU

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Makna Kata Kamu

Makna Kata Kamu...!

Kamu yang Sopan, Kamu yang Tidak Sopan. Kisah Amrullah Ibrahim di Rumah Pak Madi: Benturan Tata Krama Suku Lubai dan Priyayi Jawa di Pelukan Rimba Datar Lebuay, tahun 1973...

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Bagian I: Aroma Getah Karet, Nasi Timbel, dan Sumpah di Tangga Panggung

Maret 1973 — Perjalanan Menembus Hutan dan Warisan Adat Suku Lubai

∘₊✧──────✧₊∘

"Ingat pesan Bak ini sampai ke liang lahad, Rullah! Di tanah seberang kau ini musafir. Kalau bicara sama orang tua, junjung lidahmu setinggi pucuk kelapa. Panggil dia 'Kamu'."

Maret 1973. Udara di ceruk Datar Lebuay, pedalaman Lampung Selatan kala itu, masih berbau getah karet mentah yang pekat bercampur lumut tanah merah basah sehabis didera hujan semalaman. Di batas rimba perawan yang baru separuh dibuka oleh tangan-tangan perkasa kaum transmigran, sang surya tak pernah leluasa menembus dedaunan lebat; ia hanya mengirimkan seberkas-seberkas pedang cahaya keemasan yang membelah kabut tebal, menyinari atap-atap pondok papan berlumut dan jalan setapak penuh kubangan lumpur sedalam betis kerbau.

Bagiku, Amrullah Ibrahim—seorang bocah berumur sebelas tahun dari trah suku Lubai yang mendiami daerah perbatasan Ogan dan Muara Enim—dunia di tanah Lampung ini berputar teramat gegas, jauh melampaui kemampuan otak kecilku untuk mencerna setiap detik perubahannya. Aku bukan anak manja yang terbiasa duduk memangku dagu di serambi rumah panggung beralas bilah bambu. Namun di sini, di pemukiman baru yang dihuni campur sari berbagai suku bangsa, setiap tarikan nafasku sarat akan kegamangan yang membuncah. Sekolah Dasar Negeri Datar Lebuay tempatku menuntut ilmu kelas 5 berdiri angkuh di atas bukit kecil, terpencil berkilo-kilo meter dari pondok orang tuaku yang menumpang berkebun kopi di celah talang.

Jarak yang teramat jauh, dipagari hutan belukar yang konon masih kerap dilewati jejak belang kakek harimau sumatera serta kawanan babi hutan lapar, memaksa ayah dan ibuku mengambil keputusan getir yang meremukkan dada. Aku harus dititipkan mondok di kediaman sang Kepala Sekolah merangkap guru kelasku: Bapak Kusmadi, atau yang lebih akrab dipanggil seisi kampung dengan sebutan takzim, Pak Madi. Seorang pria Jawa tulen asal tlatah Banyumas yang dikirim pemerintah Republik sebagai juru selamat lentera aksara di tanah sabrang.

Masih lekat terpatri dalam relung ingatanku, pagi buta hari Minggu sebelum aku diantar menginjakkan kaki di rumah berdinding papan kapur milik Pak Madi. Bak—ayahku—seorang lelaki Lubai bertubuh liat dengan urat-urat tangan menonjol bak akar pohon damar, mencengkeram kedua pundak kurusku erat-erat di anak tangga terbawah rumah panggung kami. Tatap matanya yang tajam menatap lurus ke dalam pupil mataku, menghunjam sampai ke sudut sukma yang paling sunyi.

"Dengarkan Bak baik-baik, Amrullah," bisik ayahnya dengan suara serak berat yang sarat akan wibawa rimba leluhur. Di sampingnya, Emak mengusap sudut matanya dengan ujung kebaya lusuh sembari mendekap bungkusan kain perca berisi segenggam beras ketan dan dua potong ikan gabus asap. "Kau ini anak Lubai. Sumpah darah kita pantang jadi orang yang tak tahu adat. Orang tuamu miskin harta, tak punya kerbau sepasang pun untuk ditinggalkan kepadamu, tapi leluhur kita tidak pernah mewariskan mulut yang kurang ajar."

Bak menarik napas panjang, mengalirkan aroma tembakau susur yang membekas di bibirnya. "Di tanah Datar Lebuay ini, kau menumpang di atap seorang guru besar, orang Jawa yang berilmu tinggi. Aturan orang beradat itu cuma satu: junjung lidahmu setinggi pucuk pohon damar bila berhadapan dengan orang yang lebih tua. Kalau kau bicara dengan Pak Madi atau istrinya, jangan sekali-kali kau berani memanggilnya 'Kau' atau 'Awak'! Itu panggilan untuk anjing di ladang atau kawan ingusan sebayamu saat berebut buah jambu di pinggir sungai!"

Aku mengangguk khidmat, bulu kudukku meremang mendengar penegasan itu. Jantungku bertalu kencang laksana genderang perang talang.

"Pakai kata 'Kamu', Rullah!" desis Bak lagi, telunjuk kasarnya mengetuk dadaku tepat di atas tulang rusuk. "Hanya kata 'Kamu' yang layak diucapkan anak berbakti kepada orang yang wajib dimuliakan. 'Kamu' adalah puncak penghormatan tertinggi dari bibir seorang anak Lubai kepada rajanya, kepada orang tuanya, dan kepada gurunya! Jangan bikin malu marga kita! Paham kau?!"

"Paham, Bak... Paham nian hamba," sahutku terbata-bata, meresapkan kata 'Kamu' itu bagaikan rajah keramat yang dipatrikan api panas ke dalam dinding jiwaku. Di mataku kala itu, kata 'Kamu' bukanlah sekadar kata ganti persona; ia adalah jimat pusaka penangkal kutuk durhaka, mahkota kesantunan, dan bukti sah bahwa Amrullah Ibrahim adalah bocah berbudi pekerti luhur yang tahu membalas budi orang tua.

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Bagian II: Malam Ketiga, Semprong yang Bergoyang, dan Sendok yang Membeku di Udara

Ketegangan Mencekam di Meja Makan Jati Beraroma Sayur Lodeh

∘₊✧──────✧₊∘

"Pak Madi, Kamu sudah makan...? Pertanyaan itu meluncur bening, murni tanpa cela. Namun di telinga sang Kepala Sekolah, kata itu meletup laksana desing mortir di tengah senyap."

Malam ketiga tinggal di pondokan Pak Madi adalah ujian pertama yang kelak mengukir luka kebingungan paling pekat di benakku. Rumah Pak Madi berdiri kukuh, berlantai papan serut yang dingin bila disentuh telapak kaki telanjang. Tidak ada aliran listrik kabel PLN di rimba Datar Lebuay tahun 1973. Satu-satunya penguasa malam yang mengusir pekat gulita hanyalah sebuah lampu badai gantung minyak tanah—semprong berjelaga tipis yang tergantung di atas balok kayu kasau ruang tengah, berayun-ayun malas ditiup angin lembah yang menyusup dari celah dinding papan.

Malam itu, dingin menusuk tulang sumsum. Gemerisik suara dedaunan pisang di halaman samping berpadu dengan orkestra dengung tonggeret dan derik jangkrik rimba, menciptakan suasana hening yang sarat misteri. Dari arah dapur belakang, semerbak aroma gurih santan kelapa yang dimasak bersama labu siam, rebung muda, serta aroma ikan asin peda goreng yang gurih mengelitik hidungku yang sejak sore melolong kelaparan. Perutku berbunyi gemeretak laksana katak sawah memanggil hujan.

Ibu Madi—seorang perempuan berparas ayu Jawa dengan sanggul kecil di tengkuknya, yang tutur katanya selalu selembut tetesan embun pagi—melangkah masuk membawa mangkuk tanah liat besar berisi sayur lodeh yang mengepulkan uap panas. Beliau tersenyum teduh menatapku yang duduk kaku di sudut bangku kayu jati panjang.

"Amrullah, ayo pinarak makan dulu, le. Nasinya sudah siap hangat di bakul. Jangan sungkan-sungkan, anggap saja rumah ibumu sendiri," ucap Bu Rahayu dengan intonasi ngayomi yang seketika membuat kerinduan pada Emak di talang membuncah di pelupuk mataku.

Pak Madi sudah duduk lebih dulu di seberang meja. Beliau mengenakan sarung tenun Samarinda warna hijau lumut dan baju koko putih tanpa kerah yang bersih. Sosoknya yang jangkung dengan kacamata berbingkai tanduk hitam tebal memancarkan aura seorang pamong praja yang disegani. Setiap gerak-gerik beliau mencerminkan keteraturan hidup orang keraton: duduk tegak, tangan kiri diletakkan rapi di atas pangkuan, sementara tangan kanannya meraih sendok seng bercorak kembang lurik.

Sebelum aku menyendokkan nasi pulen ke piring kaleng sengku yang bergambar ayam jago, nuraniku bergolak hebat. Jiwa kecilku bertarung sengit melawan nafsu hewani rasa lapar yang nyaris merobek usus. 'Amrullah!' suara batinku menjerit keras mengingatkan. 'Apakah kau tega langsung melahap makanan sebelum memastikan tuan rumahmu bersantap? Di mana letak kesopanan anak Lubai yang dibanggakan Bak di depan para sesepuh talang? Jangan jadi anak pemakan bangkai yang rakus!'

Maka, dengan segenap kesungguhan hati yang menggelegak, dengan pandangan mata yang diarahkan penuh hormat dan takzim ke arah wajah guruku, aku membuka mulutku. Mengambil intonasi paling manis, paling beradat, dan paling santun yang diajarkan nenek moyangku turun-temurun:

"Pak Madi, Kamu sudah makan...?"

Suaraku meluncur bening di tengah desau angin malam. Tulus. Bersih tanpa noda kesombongan.

Namun, apa yang terjadi sepersekian detik setelah kata itu meluncur dari bibirku sungguh tak pernah diramalkan oleh kitab pelajaran mana pun di muka bumi!

Hening mendadak menyergap seisi ruangan. Begitu mencekamnya keheningan itu hingga kepakan sayap laron yang terbang melintasi kap lampu semprong terdengar bagaikan kepakan burung nazar. Sendok seng berisi nasi bercampur sejumput labu siam kuah santan yang tinggal dua jengkal lagi menyentuh bibir Pak Madi mendadak membeku di udara! Tangan kekar sang Kepala Sekolah bergetar halus. Kacamata tebalnya merosot seperempat senti di batang hidungnya yang mancung.

Dua biji mata Pak Madi membelalak lebar, menatapku lurus dengan sorot keterkejutan yang begitu dahsyat, seolah-olah bocah berkulit sawo matang di hadapannya ini baru saja berubah menjadi jelmaan siluman harimau berkepala buaya! Alisnya yang tebal bertaut rapat di kening, menciptakan guratan-guratan kerut kemarahan yang tertahan.

Di seberang bilik, Bu Rahayu yang sedang menuang air putih dari kendi tanah liat terkesiap. Gerakan tangannya terhenti; leher kendi berguncang, menumpahkan beberapa tetes air ke atas taplak meja renda. Matanya melirik suaminya dengan raut cemas yang luar biasa.

Di dalam dadaku, badai kepanikan meletus seketika. 'Ya Tuhan Penguasa Langit dan Rimba!' pekik batinku kalap. 'Kesalahan apakah yang telah kulakukan? Apakah intonasi suaraku terlalu cempreng? Ataukah di adat orang Jawa, orang tua pantang disapa saat matanya sedang memandang sayur lodeh? Mengapa tatapan Pak Madi menusuk dadaku bagai sembilu bambu kuning?'

Lihat selengkapnya