Cerita LUCU

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

Perbedaan Tawas dan Tawes

Tawas di Tanah Tawes Bantul

Histeria Krispi dan Sidang Forensik di Tepi Parit Imogiri. Didasarkan pada kisah nyata perjalanan kuliner Bantul 2019

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Bagian 01 : Senja Lempung dan Empat Jiwa Berdebu

Ketika aroma jerami basah membangkitkan kelelahan urban yang terpendam

∘₊✧──────✧₊∘

Matahari sore di atas langit Bantul pada akhir Juli 2019 tampak seperti kuning telur asin yang retak, menumpahkan semburat jingga tembaga ke atas bentangan sawah yang baru selesai dibajak. Udara tidak sepenuhnya sejuk; ada uap hangat beraroma lumpur lempung, jerami basah yang dibakar petani di kejauhan, serta bau oli rem dari Toyota Avanza perak sewaan kami yang sudah berderit-derit menempuh jalanan berlubang di kawasan perbatasan Imogiri. Di kursi penumpang depan, aku—Amrullah—duduk dengan punggung setegak papan cucian. Tanganku mencengkeram sabuk pengaman seolah tali nilon itu adalah satu-satunya jangkar yang menahanku dari jurang kehampaan eksistensial. Aku adalah tipe manusia yang tidak bisa melihat awan mendung tanpa mencemaskan badai siklon tropis, dan di dalam kelompok pertemanan kami, aku menyandang predikat tak resmi yang tak pernah kuminta: sang hipokondriak ulung, kurator kecemasan berlebih yang selalu mencium aroma malapetaka di balik setiap peristiwa sepele.

Di belakang kemudi, Rusadi menyandarkan sikunya di jendela yang terbuka separuh, membiarkan angin pedesaan yang kental mengacak-acak rambut ikalnya. Rusadi adalah antitesis diriku—seorang pria bertubuh gempal yang tampak tak pernah memiliki beban hidup, selalu membawa botol air mineral satu liter di sela pahanya, dan memiliki tawa bariton renyah yang sanggup mencairkan ketegangan apa pun. Namun, hanya aku yang tahu bahwa tawa melimpah Jodi bukanlah sekadar watak bawaan; itu adalah perisai pelindung yang ia bangun secara teliti semenjak bocah. Tumbuh sebagai anak bungsu dalam keluarga yang tiap malam diwarnai bentakan piring pecah dan sidang perceraian orang tua di meja makan, Jodi kecil belajar bahwa satu-satunya cara mencegah orang dewasa saling mencakar adalah dengan tertawa lebih keras daripada kebisingan amarah mereka. Hingga usianya menginjak dua puluh delapan, tawa itu tetap menjadi refleks otomatisnya—sebuah kompensasi psikologis agar dunia di sekelilingnya tidak runtuh.

"Santai sedikit napa, Mir? Urat leher lu udah kayak kabel transmisi PLN," celetuk Rian dari kursi tengah, matanya bahkan tidak berkedip dari layar ponsel pintarnya yang dipenuhi tab ulasan kuliner Google Maps dan blog gastronomi lawas. Rian adalah seorang sarjana komunikasi yang menganggap dirinya sebagai kurator rasa paling autentik di belahan selatan khatulistiwa. Ia memandang rendah siapa pun yang makan di restoran berpendingin ruangan saat berlibur, dan baginya, sebuah tempat makan belum layak disebut legendaris jika lantainya belum bopeng atau dapurnya belum berjelaga arang. Tetapi arogansi kuliner Rian sebenarnya berakar pada trauma pembuktian diri yang getir. Dua tahun silam di Lembang, ia pernah dengan pongah memandu rombongan kantor mencicipi 'jamur liar organik' yang ternyata adalah jamur suung payung beracun, mengakibatkan enam rekan kerja mengalami dehidrasi massal di toilet rest area KM 97. Sejak aib itu mencoreng reputasinya, Rian terobsesi membuktikan bahwa insting kulinernya tidak pernah salah lagi.

Di sebelah Rian, Sarah sedang sibuk menyeka lensa kamera iPhone miliknya dengan kain mikrofiber seharga ongkos makan tiga hari. Sarah adalah ratu visual kelompok kami—setiap helai rambutnya diatur agar terlihat jatuh berantakan secara estetik, dan di tas jinjingnya selalu tersedia tiga jenis lip tint untuk menyesuaikan mood pencahayaan senja. Namun di balik obsesi sudut pengambilan gambar empat puluh lima derajat dan palet warna hangat bernuansa vintage itu, bersembunyi kepedihan sunyi seorang gadis perantau yang tinggal di kamar kos sempit di Kalibata. Di Jakarta yang dingin dan mekanis, tanda hati berwarna merah di layar media sosial adalah satu-satunya validator bahwa ia ada, bahwa ia sedang menikmati hidup, bahwa kesepian yang menggerogotinya setiap pukul dua dini hari hanyalah ilusi yang bisa dihapus dengan satu ketukan filter.

Mobil kami akhirnya berbelok memasuki pekarangan berbatu sebuah warung reyot yang bersandar miring di bawah kerimbunan pohon randu alas. Papan namanya hanya berupa bilah kayu sisa kusen jendela yang dicat kapur putih luntur: 'Warung Iwak Kali Bu Mangun'. Di kejauhan, parit irigasi sawah mengalirkan air kecokelatan yang tenang, tempat capung-capung jarum beterbangan di atas rumpun kangkung liar. Warung itu sunyi, hanya diisi oleh suara desis wajan raksasa yang membakar minyak kelapa dan denting sendok kaleng beradu dengan piring seng loreng hijau. Seorang perempuan tua berkebaya lurik kusam dengan rambut disanggul seadanya—sosok yang pastilah Bu Mangun—tampak berdiri di depan tungku tanah liat, memegang sutil besi panjang dengan tatapan tajam tak terbaca, seolah ia bukan sekadar memasak ikan, melainkan sedang memimpin upacara persembahan kuno.

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Bagian 02 : Altar Seng dan Empat Jiwa Gelisah

Perdebatan menu yang menyingkap keangkuhan intelek dan rasa lapar yang primitif

∘₊✧──────✧₊∘

Kami memilih bangku panjang dari kayu trembesi bopeng di sudut teras warung, menghadap langsung ke hamparan batang padi muda yang meliuk disapu semilir angin sawah. Udara pedesaan Bantul yang sarat kelembapan perlahan menyusup ke pori-pori kami, membawa rasa dingin yang aneh setelah enam jam terkurung dalam kabin berpendingin mobil. Di atas meja, sebuah daftar menu berlaminasi kusam dengan ujung-ujung melengkung tergeletak di samping toples kaca berisi kerupuk putih yang tampak lelah.

Pandanganku terpaku pada sebaris tulisan spidol merah di pojok atas: 'Ikan Tawes Goreng Krispi Bumbu Kuning'. Nama itu melompat ke mataku dengan ganjil, membentur dinding memoriku yang selalu siaga terhadap kosakata yang mencurigakan.

"Eh, Rian," bisikku, sengaja merendahkan volume suara agar tidak menyinggung Bu Mangun yang punggungnya tampak kaku di depan tungku. "Tawes itu ikan apaan sih? Jangan-jangan lu ngajak kita makan reptil rawa hasil mutasi parit sawah? Gue nggak mau ya pulang ke Jakarta dalam kondisi kulit gue bersisik amfibi."

Rian mendengus panjang, menyunggingkan senyum patronizing khas sarjana yang merasa sedang mengajari anak TK mengeja alfabet. Ia melipat kedua tangannya di atas meja, sengaja mencondongkan badan ke arahku. "Amrullah, temanku yang inteleknya tersumbat paranoianya sendiri. Tawes itu ikan air tawar legendaris. Nama ilmiahnya Barbonymus gonionotus, dari ordo Cypriniformes. Kerabat dekat ikan mas, tapi bentuk tubuhnya lebih pipih, tulangnya banyak tapi kalau digoreng dengan teknik deep-frying minyak kelapa panas, duri-durinya bakal renyah kayak keripik kentang. Review sesepuh kuliner Bantul di forum gastronomi bilang, gurihnya daging tawes kali Progo itu punya karakter mineral tanah vulkanik yang nggak bakal lu temukan di ikan lele ternak Jakarta. Paham?"

"Tapi namanya aneh banget, Yan," tukasku gusar, jari-jemariku mengetuk permukaan meja trembesi yang bergetar. "Kenapa harus 'tawes'? Kenapa nggak ikan wader gede, atau ikan mas pipih? Ada sesuatu yang fonetisnya bikin firasat gue gatal."

"Demi konten dan keutuhan feeds Instagram gue," sela Sarah dengan suara manis bernada mengancam sambil menatapku tajam di balik kacamata hitam berbingkai penyu, "lu jangan bikin drama sebelum makanan datang ya, Mir. Piring seng warung ini bener-bener punya tone rustic earthy yang jarang banget ada di Jakarta Selatan. Cahaya senja jam lima sore ini adalah anugerah ilahi. Golden hour begini cuma bertahan lima belas menit. Kalau lu bikin ribut dan ikannya keburu dingin terus minyaknya menggumpal, lu yang gue tag di story sebagai perusak estetika liburan!"

Jodi meledakkan tawa pendeknya yang hangat, menepuk pundakku begitu keras sampai tulang selangkaku bergeming. "Udah lah, Mir! Selama ada sambal terasi sama nasi beras pulen anget, sandal jepit digoreng krispi pun bakal lu telen juga. Percaya sama gue, perut lu itu cuma butuh adaptasi kearifan lokal. Bu Mangun, tawes goreng krispi empat porsi ya! Oseng tempe benguk sama sambal terasinya dibikin pedes nampol!"

Dari balik kepulan asap tungku, Bu Mangun tidak menyahut dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan sekali—sebuah gerakan kepala yang begitu dingin dan mekanis, seakan ia sudah meramalkan nasib apa yang akan menimpa empat anak kota sombong ini begitu sajiannya tandas di atas meja.

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Bagian 03 : Sengatan Getir di Langit-Langit Lidah

Lihat selengkapnya