Petualangan Memancing di Sungai Sangarus: Tiga Sekawan, Satu Tawa
Tempat: Datar Tenam, Datar Lebuay, Talang Pisang menuju Talang Curup, Pulau Panggung, Lampung Selatan. Waktu: Kamis Pagi, 20 Desember 1979
═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═
Bagian I: Kabut Datar Tenam dan Kasta Cacing Subuh
Ketika harapan terbit bersama dengkur ayam jago dan perburuan umpan di tanah lempung. Lokasi: Datar Tenam, Datar Lebuay — Menjelang Fajar 1979 | Waktu: Pukul 05.15 – 07.30 WIB
∘₊✧──────✧₊∘
Ada sejenis keheningan purba yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang pernah menghirup udara pedesaan Pulau Panggung pada akhir dasawarsa tujuh puluhan. Sebelum fajar merekah di ufuk Bukit Barisan Selatan, kabut tebal kerap turun membungkus pemukiman Datar Tenam laksana selimut kapas basah. Dinginnya tidak menggigit, melainkan merayap perlahan melalui celah dinding papan rumah panggung, meraba tengkuk, lalu memaksa ayam-ayam jago berkokok dengan nada parau seolah mereka pun enggan bangun dari sangkar bambu.
Kamis pagi, 20 Desember 1979. Bagi anak-anak SMP seperti kami yang tengah menikmati libur panjang cawu, hari itu bukan sekadar tanggal di kalender dinding bergambar toko emas Teluk Betung yang sudah menguning pinggirannya. Hari itu adalah manifesto pembebasan. Tiga bulan kami terkurung di ruang kelas berdinding papan rapuh dengan guru matematika bertangan rotan; kini, hutan belantara dan gemuruh Sungai Sangarus memanggil kami seperti mantra nenek moyang yang tak terbantahkan.
"Din! Bahruddin! Bangun lu, anak setan! Kalau lu kelamaan molor, cacing kebon keburu pensiun masuk liang kubur!" seru Mulyadi bin Madin dari bawah kolong rumah panggungku, mengguncang bambu tangga dengan ketukan gagang cangkul kecilnya.
Aku, Amrullah Ibrahim, menyingkap tirai kain blacu jendela kamarku. Di halaman yang masih basah oleh embun pekat, tampak Mulyadi sudah bersiap bagai komandan perang gerilya. Celana pendek komprang berbahan karung terigu Cap Segitiga Biru—dengan tulisan merek yang samar-samar masih terbaca di pantatnya—dan sebilah golok pendek terselip di pinggang. Matanya menyala-nyala oleh api ambisi. Bagi Mulyadi, memancing bukan sekadar rekreasi bocah ingusan. Ini adalah soal reputasi marga Madin. Ayahnya adalah pembuka ladang kopi paling disegani di Talang Pisang, lelaki berotot liat yang konon pernah mencekik macan kumbang dengan selendang sarung. Maka Mulyadi, sebagai anak sulung yang saban malam dicekoki petuah maskulinitas desa, merasa berkewajiban membuktikan bahwa darah sang penakluk rimba mengalir deras dalam nadinya—bahkan jika penaklukan itu hanya bermula dari mulut seekor ikan melem selebar dua jari.
Sepuluh menit kemudian, Bahruddin muncul dari kelokan kebun pisang dengan langkah terhuyung-huyung seperti bangau rabun ayam. Rambut keriting kribonya yang tebal tampak awut-awutan menampung tetes embun, dan kaus oblong lusuhnya memiliki lubang-lubang ventilasi darurat yang tersebar secara acak di sekitar ketiak dan perut, persis saringan santan kelapa milik Mak Haji Salmah.
"Santai sedikit napa, Mul! Ayam tetangga lu aja masih mimpi basah, lu udah gedor-gedor macam lintah darat nagih utang pupuk urea!" gerutu Bahruddin sambil mengucek matanya yang merah. Tangannya menenteng kaleng bekas biskuit Khong Guan berkarat yang rencananya akan dijadikan asrama cacing tanah.
"Gua nggak mau telat sampai lubuk Curup!" balas Mulyadi galak seraya menusukkan mata cangkulnya ke tanah humus di bawah pohon randu tua. "Ikan Sangarus itu punya jam makan teratur, nggak kayak lu yang kerjanya ngembat ubi rebus di lemari makan orang!"
Perburuan umpan subuh itu segera berubah menjadi arena debat filosofis yang konyol. Mulyadi dengan teliti hanya memungut cacing merah gendut dari gemburan tanah kebun kopi, yang menurut keyakinannya memiliki aroma 'manis-gurih' yang disukai ikan ningrat. Sementara itu, Bahruddin dengan kepolosannya yang magis malah menggali parit comberan belakang kandang kambing dan mendapatkan cacing tanah hitam berlendir panjang yang menggeliat malas.
"Lu liat nih, Din! Cacing lu pucat pasi begitu, keliatan miskin gizi! Ikan melem Sangarus ngeliat umpan lu bukannya napsu makan, malah kirim doa belasungkawa!" ejek Mulyadi sambil mengangkat cacing merahnya tinggi-tinggi ke udara, memamerkannya laksana permata intan berlian.
Bahruddin mendengus, membetulkan letak sarung yang ia selempangkan di pundak kurusnya. "Heh, Mul! Cacing comberan gue ini petarung jalanan! Kulitnya tebal, mentalnya baja, tahan banting kena arus deras! Cacing kebon lu itu anak manja, baru dicelup ke air dingin semenit udah pingsan kena sawan!"
Aku hanya tertawa terpingkal-pingkal sambil memasukkan cacing-cacing tanah ke dalam potongan bambu yang sudah kusiapkan. Namun jauh di lubuk hatiku, saat memandang wajah Bahruddin yang berusaha keras tertawa di tengah olok-olok Mulyadi, aku menangkap sekilas bayang-bayang kelabu yang melintas di matanya.
Aku tahu persis apa yang berkecamuk di dada Bahruddin. Semalam, aku tak sengaja mendengar bentakan bapaknya dari balik dinding bilik rumah panggung mereka. Bahruddin dimarahi habis-habisan karena nilai rapor agamanya jeblok dan ia dianggap tak berguna dibanding kakaknya yang sudah dikirim mondok ke Jawa. Bagi Bahruddin, lelucon konyol dan tawa terbahak-bahak adalah benteng pertahanan terakhir. Selama ia bisa membuat orang lain tertawa—bahkan jika ia sendiri yang menjadi leluconnya—dunia tidak akan sempat melihat betapa remuk dan sepinya ia di dalam hati. Dan aku bersumpah dalam hati, hari ini di Sungai Sangarus, aku tak akan membiarkan anak ini merasa kalah lagi.
═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═
Bagian II: Susur Tiga Ribu Meter dan Tragedi Sarung Melayang
Menembus belantara Talang Pisang hingga Talang Curup di atas batu andas yang licin. Lokasi: Aliran Hulu Sungai Sangarus — Talang Pisang | Waktu: Pukul 08.30 – 10.45 WIB
∘₊✧──────✧₊∘
Tepat pukul 08.30 WIB, matahari mulai menampakkan kuasanya di atas kanopi hutan kopi rakyat Datar Lebuay. Sinar keemasan menembus sela-sela daun kopi robusta yang ranum berbuah hijau kekuningan, menepis kabut dingin menjadi uap tipis yang harum beraroma humus basah dan bunga kopi liar. Kami telah berjalan hampir dua jam, melintasi jalan setapak berlempung merah dari Talang Pisang menuju arah Talang Curup, hingga akhirnya telinga kami disambut oleh orkestra purba: gemuruh Sungai Sangarus.
Sungai Sangarus bukanlah parit jinak tempat bebek berenang santai. Ia adalah urat nadi pegunungan yang membelah batuan vulkanik Pulau Panggung. Airnya luar biasa jernih—begitu beningnya hingga kerikil warna-warni di kedalaman dua meter tampak berkilau seperti pecahan kaca zamrud—namun arusnya berpusar garang di antara batuan andas raksasa yang berserakan liar di sepanjang palung sungai. Lumut sutra basah menyelimuti permukaan batu-batu itu, menjadikannya jebakan licin yang menuntut ketangkasan akrobatik tingkat tinggi.
"Kita susur tiga ribu meter ke arah hilir Talang Curup!" komando Mulyadi seraya membetulkan ikatan joran bambu tami kesayangannya di punggung. Bambu tami kuning gading itu telah ia asapi berminggu-minggu di atas tungku dapur agar liat dan lentur. "Lubuk monster ada di balik tebing batu padas curam. Di sana ikan tawes dan melem pada ngumpul nungguin kita!"
Petualangan menyusuri sungai berbatu itu pun dimulai. Tiga ribu meter melompat dari satu batu andas ke batu andas lain bukanlah perkara main-main bagi bocah usia empat belas tahun yang bertelanjang kaki. Telapak kaki kami menghisap dinginnya permukaan batu kali, sementara deru riam air di bawah menciptakan sensasi vertigo yang menggelitik perut.
Aku berjalan di tengah, menjaga ritme langkah. Di depanku, Mulyadi melompat lincah bagai kancil hutan. Tubuhnya liat, otot betisnya sudah terbiasa memanjat lereng kebun kopi sejak ia bisa berjalan. Namun di belakangku... ah, Bahruddin adalah bencana berjalan yang menunggu waktu meledak.
"Woy, tungguin! Kaki gue napak di batu yang berlumut tebel nih!" pekik Bahruddin.
Belum sempat aku menoleh untuk memperingatkannya, tragedi klasik itu terjadi. Kaki kiri Bahruddin menginjak lapisan lumut sutra basah di punggung batu andas setinggi satu setengah meter. Dalam sepersekian detik yang dramatis, hukum gravitasi Isaac Newton bekerja tanpa ampun pada tubuh bocah Datar Tenam itu.
Bahruddin tidak sekadar terpeleset; ia melakukan atraksi salto meliuk ke udara yang sangat anggun untuk ukuran anak SMP bertubuh cungkring. Kaleng Khong Guan berisi cacing comberan terlepas dari tangannya, memuntahkan tanah basah dan cacing ke segala arah. Dan yang paling spektakuler: sarung kotak-kotak merah yang diselempangkan di pundaknya tersangkut di dahan pohon beringin gantung yang menjuntai di tepi tebing sungai!
---
KRAAAK! BYUUURRR!
---
Air sungai muncrat setinggi dua meter. Bahruddin mendarat mulus di kubangan air dangkal berkerikil dengan posisi telentang, kedua kakinya menjulur ke atas seperti katak mati kena setrum. Sementara itu di atas sana, sarung merahnya berkibar megah ditiup angin lembah, persis bendera kedaulatan sebuah republik konyol yang baru merdeka.
Hening sedetik.
Lalu, tawa Mulyadi meledak begitu kerasnya hingga sekawanan burung murai batu di pucuk pohon medang terbang berhamburan panik.
"HAHAHAHAHA! Bahruddin bin Samsul!" Mulyadi berguling-guling di atas batu datar sambil memegangi perutnya yang kaku. "Gila lu, Din! Mau mancing apa mau syuting film Si Pitung lu?! Pake acara ninggalin sarung di atas pohon segala! Itu bidadari Sangarus kalau ngeliat sarung lu berkibar bisa langsung mimisan ketakutan!"
Aku buru-buru melompat turun ke kubangan, cemas kalau-kalau tulang ekor Bahruddin patah menghantam batu kali. "Din! Din, lu nggak apa-apa? Mana yang sakit?!"
Bahruddin terdiam di dalam air setinggi pinggang, napasnya tersengal-sengal. Air sungai yang dingin mengalir membasahi seluruh tubuhnya, menempelkan kaus saringan santannya ke kulit dadanya yang kurus. Selama tiga detik, wajahnya pucat pasi, matanya berkedip-kedip menatap langit biru tanpa awan. Ada riak kepanikan dan rasa malu yang luar biasa di sana. Aku melihat tangannya mengepal di dasar kerikil basah; di usia empat belas tahun, ditertawakan hingga terpingkal-pingkal saat tubuhmu sakit dan telanjang sarung adalah pukulan telak bagi harga diri seorang bocah lelaki.
Namun, tepat saat aku hendak membantunya berdiri, Bahruddin tiba-tiba menyemburkan air dari mulutnya ke udara seperti ikan paus sakit asma. Ia memandang sarungnya yang melambai-lambai di dahan pohon lima meter di atas kepala kami, lalu tersenyum lebar hingga deretan giginya yang agak gingsul tampak berkilau.
"Buset dah..." ucap Bahruddin dengan nada datar yang sangat tenang. "Ternyata bener kata orang pintar di Talang Pisang. Penunggu pohon beringin Sangarus ini demennya warna merah. Sarung gue langsung dipajang buat gorden istananya!"
Mendengar kelakar itu, rasa cemasku runtuh seketika dan berganti gelak tawa yang tak tertahankan. Kami berdua menarik Bahruddin keluar dari air, menepuk-nepuk punggungnya yang merah terkena goresan kerikil, lalu bersama-sama melempar ranting kayu untuk menurunkan sarung legendaris itu. Rasa lelah, ngilu di tumit, dan jarak ribuan meter yang telah kami tempuh mendadak menguap lenyap, disapu oleh kepolosan tawa yang menggema di sepanjang celah ngarai Sangarus.
═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═
Bagian III: Sang Raja Pancing Merem dan Kutukan Kail si Apes
Ketika kepiawaian Mulyadi beradu dengan rentetan petaka kail Bahruddin di lubuk dalam. Lokasi: Lubuk Curup, Perbatasan Talang Curup — Sungai Sangarus | Waktu: Pukul 11.00 – 14.30 WIB
∘₊✧──────✧₊∘
Lubuk itu akhirnya kami temukan persis di mulut ngarai Talang Curup. Di sana, Sungai Sangarus yang beringas mendadak melambat, terperangkap di antara dua dinding batu andas hitam setinggi rumah panggung. Airnya tidak lagi berbusa putih, melainkan berubah menjadi hijau zamrud tua yang pekat dan tenang—sebuah ketenangan menipu yang menyembunyikan palung dalam berkedalaman lebih dari empat depa. Di permukaan air yang diam, sesekali tampak lingkaran riak lembut: tanda bahwa gerombolan ikan melem, tawes, dan gabus purba sedang mengintai makanan dari dasar palung.
"Ini dia! Lubuk Kramat Talang Curup!" bisik Mulyadi khidmat, seolah ia baru saja menemukan makam raja-raja Majapahit. Ia segera mengambil posisi di atas batu padas yang menjorok ke tengah lubuk, mengatur duduk bersila dengan keseimbangan sempurna.
Kami menerapkan strategi 'ikat lepas'—sebuah teknik pancing tradisonal warisan para tetua Datar Lebuay. Senar pancing tipis nomor nol-dua dipasangi beberapa mata kail berjarak sejengkal, dengan pemberat timah daun yang dipukul pipih agar umpan melayang alami terbawa pusaran bawah air. Umpan cacing tanah dipasang meliuk-liuk menutupi seluruh mata kail baja.
Dan dimulailah pertunjukan adidaya Mulyadi bin Madin.
Hanya berselang tiga menit setelah ujung joran bambunya menyentuh air, pelampung gabus singkong milik Mulyadi berkedut pelan. Sekali, dua kali, lalu... PLOP! Amblas ditarik ke kegelapan lubuk.