Cerita LUCU

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

Tawa, Tawas dan Tawon

TAWA, TAWAS, DAN TAWON: DRAMA KELUARGA DI TANAH WARISAN MUARA BENING

Setting: Desa Jiwa Baru & Muara Bening, Kecamatan Lubai, Muara Enim / Perbatasan Lampung & Sumsel

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Bagian 01: Konvoi Tiga Kuda Besi dan Beban Tak Kasat Mata

Minggu Pagi di Jiwa Baru, 15 Juni 2008, Pukul 08.30 WIB — Teras Rumah Panggung Kayu Ulin, Desa Jiwa Baru, Lubai

∘₊✧──────✧₊∘

  Matahari Minggu, 15 Juni 2008, terbit seperti kuning telur setengah matang yang tumpah di atas bubungan atap sirap rumah panggung kami di Desa Jiwa Baru. Jarum jam dinding tua berdetak kaku menunjuk pukul 08.30 WIB. Di teras kayu ulin yang menghitam dimakan usia dan cucuran getah damar, suara serak deru motor bebek Honda Astrea Grand dan Suzuki RC 100 bersahut-sahutan seperti paduan suara kambing batuk. Asap knalpot dua tak mengepul tipis, berbaur dengan uap kopi robusta sangrai kuali yang masih mengepul dari cangkir kaleng loreng.

  Aku, Amrullah Ibrahim—yang oleh orang-orang kampung lebih akrab dipanggil Amar Lubai—berdiri mematung di bibir tangga teras. Jemariku mengetuk-ngetuk setang motor dengan irama yang tak beraturan. Di luar, orang mengenalku sebagai sosok yang paling vokal, lelaki yang tak pernah kehabisan kata-kata, dan dianggap paling paham silsilah setiap jengkal tanah leluhur. Namun di balik dada bidang yang kubungkus kemeja flannel lusuh ini, ada gemuruh yang tak pernah kuizinkan bocor ke permukaan. Menjadi anak laki-laki tertua bukanlah sebuah kehormatan seremonial; itu adalah kutukan manis berupa keharusan menjadi tiang penyangga yang tak boleh retak, bahkan saat pondasinya sendiri sedang digerogoti rayap kecemasan.

  Sejak Ayahanda Muhammad Ibrahim bin Haji Hasan berpulang menghadap Sang Khalik—semoga Allah melimpahkan rahmat dan ampunan terluas bagi beliau—tanah warisan seluas 10.000 meter persegi di Muara Bening itu serasa menindih tengkuk leherku. Tanah itu bukan sekadar hamparan koordinat agraria; ia adalah saksi bisu tetesan darah dan peluh Ayahanda saat membabat belantara dari tahun 1963 hingga 1987. Dan pagi ini, tujuh kepala keluarga kami berkumpul: tujuh isi kepala dengan tujuh kepentingan tersembunyi yang saling mengintip di balik tawa renyah.

  “Amar! Kau melamun seperti ayam tertelan karet gelang!” suara melengking Ayuk Nur Asmara memecah lamunanku seketika. Kakak perempuanku itu muncul dari balik pintu dapur dengan selendang batik melilit kepala dan bakul anyaman bambu di pinggang. Matanya yang tajam menatapku dengan tatapan khas seorang ibu pengganti yang sanggup mendeteksi kepalsuan dari jarak sepuluh meter. “Periksa dulu tali pengikat termos kopinya Emrizal. Jangan sampai pas lewat jalan belukar, termosnya terbang lalu kepala Mustakim yang bocor!”

  “Aman, Ayuk! Tenang, kepala Mustakim kan terbuat dari tempurung kelapa tua, tak mempan kena hantaman termos!” sahut Emrizal seraya terkekeh lebar. Adik sepupuku yang berbadan liat itu sedang sibuk mengikat termos kaleng hijau berisi kopi manis panas ke rak belakang motor, bersanding mesra dengan bungkusan daun pisang berisi ubi rebus yang masih hangat mengepul.

  Arios, sepupuku yang satu lagi, menyeringai sambil membetulkan kaca spion motor yang sudah retak seribu. “Kalau urusan perut di rimba Muara Bening, serahkan pada kami, Kak Amar. Mau ketemu babi hutan atau hantu penunggu lebak sekalipun, asal ada kopi robusta dan ubi rebus, kita ajak mereka musyawarah mufakat!”

  Di sudut halaman, adik-adik kandungku—Mustakim, Alimin Dalil, dan si bungsu Yurni Asminta—sudah sibuk berdebat sengit soal pembagian boncengan. Mustakim memegang golok bersarung kayu sonokeling dengan gaya pendekar silat salah asuhan, sementara Alimin sibuk mematut topi purunnya seakan-akan kami hendak menghadiri pelantikan bupati, bukan menerabas jalan lumpur.

  “Tujuh kepala, tiga motor, satu takdir!” teriakku lantang, mencoba menelan bulat-bulat kegusaran yang tadi sempat mencengkeram lambungku. Aku menstarter motor bebekku dengan satu hentakan tumit mantap. “Yang motornya mogok di jalan tanjakan tebing merah, hukumannya jalan kaki sambil gendong karung ubi!”

  Gelak tawa meledak serempak, mengusir dingin sisa embun pagi. Konvoi tiga kuda besi itu akhirnya bergerak menderu, meninggalkan aroma sangit oli samping dan kepulan debu tanah merah yang mulai membubung di bawah hangatnya mentari Sumatera.

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Bagian 02 : Mengukur Langkah di Tepi Sungai Lubai

Rambai Tua, Termos Berkarat, dan Diplomasi Ubi Rebus. 15 Juni 2008, Pukul 10.00 WIB — Hamparan Tanah Muara Bening, Lebak Lubai

∘₊✧──────✧₊∘

  Perjalanan satu setengah jam menembus pedalaman Lebak Lubai bukanlah tamasya santai di taman kota. Jalanan setapak itu adalah rajutan urat bumi dari tanah liat merah yang licin dan bergelombang. Roda motor kami berkali-kali tergelincir menari salsa di atas kubangan lumpur sisa hujan dua hari lalu. Bau khas perkebunan karet yang lembap menyengat hidung—campuran antara getah beku yang asam menyengat, humus daun lapuk, dan kesegaran air sungai liar yang mengalir tersembunyi di balik rimbun semak.

  Ketika akhirnya roda motor kami berhenti di batas tanah yang diapit mesra oleh Sungai Muara Bening di sebelah selatan dan Sungai Lubai di utara, napas kami tersengal namun dada kami membuncah lapang. Hamparan tanah seluas satu hektare itu terbentang seperti permadani zamrud liar yang menunggu dijamah.

  “Subhanallah... pemandangan yang luar biasa tiada dua,” gumam Ayuk Nur Asmara perlahan. Kakak perempuanku itu turun dari boncengan, melangkah perlahan ke tepian tebing sungai, lalu merapatkan kedua telapak tangannya di dada. Matanya yang biasa galak berbinar-binar memantulkan riak keperakan air Sungai Muara Bening. Di sudut matanya, kulihat ada selaput bening yang tertahan. Aku tahu apa yang sedang bergolak di dalam dadanya; ia sedang melihat bayangan almarhumah Mak Nafisyah yang dulu sering mencuci pakaian di tepian sungai berbatu ini.

  Di tengah lahan yang sebagian telah diduduki lalang setinggi pinggang, dua pohon raksasa berdiri tegak laksana penjaga purba: sebatang pohon Rambai dengan sulur-sulur ranting yang menjuntai lebat, dan sebatang pohon Gandaria rindang yang berdaun pekat berkilau. Keduanya adalah pohon yang sengaja ditanam sendiri oleh tangan kasar Ayahanda Muhammad Ibrahim empat dasawarsa lampau, saksi hidup dari masa kejayaan kebun karet keluarga pada rentang 1963 hingga 1987.

  Aku berjalan menyusuri batas tanah dengan langkah kaki yang kuperlebar, sengaja menghitung depa demi depa. Telapak tanganku menyentuh kulit kasar pohon Gandaria. Retrospeksi masa kecil tiba-tiba menghantam ulu hatiku tanpa ampun.

  Tahun 1978. Kala itu aku masih bocah ingusan bertelanjang dada dengan lutut penuh parut luka jatuh. Ayahanda berdiri di tempat yang sama, mengelap keringat di keningnya dengan handuk cap leher kelinci yang sudah dekil. Tangannya yang kasar seperti kulit kayu mencengkeram pundakku erat-erat. Beliau berkata dengan suara bariton yang bergetar: *‘Amar, tanah ini kubabat dengan darah dan doa saat kalian masih merangkak di lantai papan. Jangan pernah sekali-kali kau gadaikan sejengkal pun tanah ini hanya demi membeli kemilau kepalsuan kota. Kalau kau jual tanah ini untuk mengisi perut sesaat, sama saja kau memakan daging orang tuamu sendiri. Jadikan tanah ini berkah bagi orang banyak, agar kuburku kelak tidak sempit dan gelap.’*

  Suara bisikan kenangan itu begitu nyata, hingga aku tersentak ketika Mustakim menepuk punggungku dengan keras. “Kak Amar! Sini kumpul! Ubi rebus sudah dibuka diplomasi!”

  Kami melingkar bersila di atas rumput teki di bawah kerindangan pohon Rambai. Emrizal menuangkan kopi panas dari termos kaleng ke cangkir-cangkir plastik berwarna warni. Asap kopi yang mengepul harum beradu dengan manisnya ubi rebus yang masih mengepul. Rasa letih perjalanan sekejap menguap berganti hiruk-pikuk tawa.

  Namun tawa itu tak bertahan lama tanpa perdebatan. Ide-ide liar mulai berhamburan seperti letupan jagung berondong.

  “Menurut perhitungan ekonomiku yang matang,” Mustakim memulai pidatonya dengan mengunyah sepotong ubi rebus sebesar kepalan tangan, “tanah ini posisi emas! Kita keruk saja separuh jadi kolam tambak ikan lele sangkuriang dan gurame. Airnya tinggal kita sodel dari Sungai Lubai. Dua tahun kita panen, kita bisa beli mobil Avanza baru!”

  Alimin Dalil langsung mendengus sinis, menggeleng-gelengkan kepalanya seraya membetulkan topi purun. “Dasar otak juragan lele! Kolam ikan itu bau lumpur, Mustakim. Kalau Sungai Lubai banjir bandang pas musim penghujan, lele-lelemu bakal berenang hijrah ke Laut Jawa! Mending kita tanami durian montong dan durian tembaga. Lima tahun ke depan, orang-orang kaya dari Palembang dan Bandar Lampung bakal antre membawa karung duit demi mencicipi durian Muara Bening!”

  “Durian lima tahun kelamaan, Kak Alimin!” sahut Yurni Asminta, cemberut sambil mengibaskan ranting daun jambu mengusir lalat. “Keburu kiamat kecil! Mending bikin kebun sayur hidroponik dan warung makan pecel lele di pinggir jalan poros!”

  Mereka saling serang dengan argumentasi yang kocak dan penuh olok-olok khas sedulur sekandung. Aku hanya tersenyum tipis mendengarkan mereka, sembari menyeruput kopi robusta yang pahit manisnya pas di lidah. Di balik perdebatan lele dan durian itu, aku menangkap kekhawatiran yang sama: semua adik-adikku sedang berjuang keras menghadapi impitan ekonomi zaman. Mereka ingin tanah ini menghasilkan emas secara instan. Tetapi batin kecilku berbisik lantang: amanah Ayahanda bukanlah soal berapa lembar rupiah yang bisa masuk ke dompet kami, melainkan jejak kebaikan apa yang akan terus mengalir saat jasad kami sendiri sudah bersatu dengan tanah liat Muara Bening.

  Hari itu, kami pulang dengan perut kenyang ubi dan kepala penuh rancangan. Belum ada keputusan final, namun sebuah benih gagasan besar mulai berakar kuat di palung jiwaku.

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Bagian 03: Bergotong Royong Menebas Impian: Yayasan Bukit Jehing]

Dua Tahun Kemudian — Transformasi Cita-Cita di Tanah Leluhur. 8 Agustus 2010, Pukul 08.30 WIB — Lahan Muara Bening, Lebak Lubai

∘₊✧──────✧₊∘

  Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk sebuah perang batin. Antara Juni 2008 hingga Agustus 2010, lembar-lembar draf proposal berganti puluhan kali di meja kerjaku. Ada malam-malam panjang di mana aku terbangun bersimbah keringat dingin, dihantui rasa takut: *Apakah aku sanggup? Dari mana uang ratusan juta untuk mendirikan bangunan di tengah belukar ini? Bagaimana kalau adik-adikku menganggapku gila karena menolak tawaran pengusaha sawit yang sempat menawar tanah ini dengan gepokan uang tunai?*

  Namun setiap kali aku bimbang, wajah mendiang Ibunda tercinta, Nafisyah binti Wakif, selalu hadir dalam mimpiku dengan senyum teduh dan tatapan teduhnya yang abadi. Ibu yang semasa hidupnya tak pernah silau oleh kilau emas, namun rela menjual gelang peraknya demi membiayai pengajian kitab kuning kami anak-anaknya. Maka, nama yayasan itu pun terkunci mantap di hatiku: Yayasan Bukit Jehing—sebuah prasasti bakti abadi untuk Ibunda Nafisyah.

  Minggu pagi, 8 Agustus 2010, tepat pukul 08.30 WIB. Matahari bersinar terik membakar embun.

  Tim ekspedisi kali ini lebih ramping namun memiliki tekad baja. Kami berlima: aku sendiri (Amar Lubai), Ustadz Madkhalur Rozzak—tokoh agama desa yang berwajah teduh namun lidahnya sarat humor renyah khas santri kelana; Ayuk Nur Asmara yang tetap setia menjadi komandan logistik dan penjaga moral; serta dua keponakan mudaku: Ferdy, pemuda bertubuh kekar berotot baja yang irit bicara tapi tenaganya setara traktor mini, dan Dicky, remaja berumur belasan tahun yang matanya selalu berkedip lincah penuh rasa ingin tahu yang sering kali melampaui batas kewarasan orang dewasa.

  “Bismillahirrohmanirrohim! Ayunkan parang, jangan ayunkan alasan!” seru Ustadz Madkhalur Rozak seraya menebaskan parang panjangnya ke rumpun semak belukar yang menjalar buas. Ustadz yang satu ini memang unik; sorbannya dililitkan di leher seperti syal koboi, dan sarungnya digulung setinggi lutut memperlihatkan betisnya yang penuh bekas gigitan pacet.

  Pagi itu kami menjelma menjadi kompi perintis rimba. Lahan yang dulu selama 24 tahun (1963-1987) merupakan kebun karet produktif, kini telah dikepung semak belukar liar, pakis kawat, dan pohon-pohon geronggang kecil. Ayuk Nur Asmara dengan cekatan mengumpulkan ranting-ranting kering, sementara Ferdy membabat pohon-pohon liar dengan tebasan parang yang terdengar berdentang mantap.

  “Ayah Amar,” celetuk Dicky sambil menyeret dahan kayu sengon yang tumbang, napasnya ngos-ngosan seperti pompa ban bocor. “Nanti kalau pesantren ini sudah jadi, Dicky boleh jadi kepala keamanannya tidak? Dicky mau pakai seragam hitam loreng dengan peluit perak!”

  Ferdy yang lewat di sebelahnya sambil memanggul sebatang gelondongan kayu besar langsung menoyor kepala sepupunya pelan. “Kepala keamanan dengkulmu melepuh! Disuruh tangkap belalang saja kau lari pontang-panting, mau sok-sokan jaga asrama santri!”

  “Heh, jangan remehkan nyali pemuda masa depan!” balas Dicky tak mau kalah sambil membusungkan dadanya yang ceking. “Zaman sekarang perang itu pakai strategi, Fer! Bukan cuma modal urat kawat tulang besi seperti kuli angkut semen!”

  Gelak tawa kami membahana di sela debu tanah dan desau angin sungai. Sambil membabat belukar, aku menceritakan pada kedua ponakan itu tentang kakek mereka—bagaimana Ayahanda Muhammad Ibrahim dulu menembus hutan rimba ini hanya bermodalkan pelita minyak tanah dan tawakal kepada Allah.

Lihat selengkapnya