Cerita LUCU

Amrullah Ibrahim
Chapter #9

Mendahului Takdir

Nyaris "Mendahului Takdir" Makanan

Drama Psikologis dan Gelak Tawa di Bawah Lampu Petromax Tanjung Karang 1981. Karya Rekaan Mendalam dari Memoar Amrullah Ibrahim • Suku Lubai Merantau

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Babak 01: Bau Mesiu di Ujung Sumpit dan Fatamorgana Nasi Kuning

Desis Petromax, Bau Kemenyan, dan Pergolakan Cacing Usus

∘₊✧──────✧₊∘

Pada suatu petang di bulan Agustus tahun 1981, kota Tanjung Karang sedang dibekap hawa gerah sisa kemarau panjang. Angin laut dari arah Teluk Betung merangkak lambat melintasi atap-atap seng rumah petak di Kelurahan Kedaton, membawa aroma asin pekat yang bercampur kepulan debu tanah merah. Namun, bagi diriku—Amrullah Ibrahim, bocah tanggung berusia enam belas tahun asal dusun pedalaman Suku Lubai di pelosok Sumatera Selatan yang baru menapakkan kaki di kelas dua SMA Nasional—bukan udara gerah itu yang membuat tengkukku basah kuyup oleh peluh dingin.

Penyebab utamanya adalah selembar kain batik katun motif parang rusak warisan pamanku yang kupakai malam ini. Batik itu berlengan sempit dan menggantung tiga jari di atas pergelangan tanganku, memperlihatkan tulang tangan yang kurus kering laksana ranting pohon jambu kluthuk. Kancing paling atasnya sudah copot sejak zaman pemberontakan belum reda, sehingga aku harus terus-menerus menarik kerahnya ke atas agar tulang selangkaku tidak mengintip layaknya anak ayam kedinginan.

Di ruang tengah rumah batu baru milik Pak Rahmad, sang lurah yang murah senyum, malam itu aroma dupa kemenyan dan melati layu saling bertubrukan dengan uap gurih rempah ayam ungkep kalasan. Rumah baru berlantai semen plesteran halus ini dipadati oleh sekitar tiga puluh bapak-bapak terhormat. Ada pensiunan pegawai jawatan kereta api yang duduk tegak dengan kopiah beludru hitam berlogo garuda sepuhan, ada saudagar kain pasar bawah yang jemarinya dihiasi batu akik kecubung wulung sebesar biji salak, dan ada para punggawa rukun tetangga yang bau parfum 'Minyak Malaikat Subuh'-nya sanggup mengusir sekawanan lebah hutan.

Aku teronggok di barisan paling buncit, merapat ke dinding semen yang cat kapurnya masih menyisakan bubuk putih di punggung batiku. Sebagai satu-satunya anak bujangan berstatus anak kos yang menyelusup di antara dewan sesepuh ini, posisiku serba salah. Duduk bersila terlalu tegak membuat perutku yang kerempeng memekik perih; duduk membungkuk membuatku tampak seperti pesakitan yang tertangkap basah mencuri mangga golek di halaman kantor pos.

"Duduk yang santai, Amrul. Di sini kita semua sedulur," bisik Pak Rahmad sore tadi ketika menjemputku di depan teras kosan milik Ibu Ida.

Mudah bagi Pak Rahmad mengatakannya. Perut beliau buncit terawat oleh beras cianjur dan gulai ikan baung kuah tempoyak. Sementara lambungku? Sejak subuh tadi, satu-satunya zat organik yang melewati kerongkonganku hanyalah sepiring mi instan rebus tanpa telur yang kubeli dari warung Mak Etek. Mi itu bahkan kurebus dengan air bekas termos kemarin yang aromanya agak mirip karat paku, ditambah kerupuk putih murahan yang sudah kehilangan kerenyahannya hingga liat bagai sandal jepit karet.

Sekarang, perhatikanlah neraka ujian yang terhampar tepat lima puluh sentimeter di depan ujung lututku.

Sebuah piring porselen putih cap ayam jago terhidang angkuh. Di atasnya, bertengger gunung piramida nasi kuning yang berkilau keemasan disiram santan kental gurih, diapit paha ayam goreng bumbu ketumbar lengkuas yang kulitnya merekah kecokelatan, telur rebus berbalur sambal balado merah menyala, irisan tempe orek manis yang berkilat legit, dan sejumput sambal terasi mentah yang harum terasinya sanggup memicu pemberontakan kelenjar air liur seketika. Hidangan itu ditutupi separuh oleh tudung saji kecil dari anyaman bambu berpewarna hijau pupus. Di samping piring, segelas es teh manis bergoyang malas; butir-butir embun dinginnya menetes di dinding kaca, meninggalkan lingkaran basah di atas anyaman tikar pandan Kasui.

Kaus gas lampu petromax nomor 500 CP buatan Jerman Timur yang tergantung di balok plafon mendesis kencang: *Tsssssshhhhh... tssssshhhhh...* Cahaya putih menyilaukannya memantulkan bayangan piring itu tepat ke retinaku. Bagi anak kos yang sedang dilanda krisis kalori stadium lanjut, kilauan minyak ayam goreng itu bukan sekadar makanan; itu adalah penampakan wahyu kemakmuran duniawi yang turun langsung ke bumi!

Perutku berbunyi. Bukan bunyi keroncongan biasa yang santun, melainkan raungan parau bergelombang mirip suara starter mobil Daihatsu Hijet mogok di tanjakan Tarahan: *Kruuuk... krooook... gluk.*

Aku buru-buru terbatuk kecil, mencoba menenggelamkan konser biologis itu di bawah riuh rendah obrolan bapak-bapak.

Pikiranku mulai kacau. Delirium akibat amblasnya kadar gula darah mulai menyusun logika-logika miring di tempurung kepalaku. Kulihat ke depan. Kiai Haji Syukri, kiai sepuh kebanggaan kampung yang duduk di dekat pintu utama, baru saja mengeluarkan kacamata bacanya dari kantong beludru. Beliau membersihkan lensanya dengan ujung sorban pelan-pelan. Sangat pelan. Begitu teliti sampai-sampai rasanya lalat pun sempat bertelur dan menetas dua generasi di gagang kacamata itu sebelum beliau selesai. Setelah itu, Kiai Syukri membuka lembar demi lembar kitab Majmu' Syarif yang kertasnya sudah menguning kecokelatan.

"Di dusun Lubai," bisik setan kelaparan di telinga kiriku, "orang berdoa setelah panen kenyang. Masa orang kota menyuruh tamunya memuji Tuhan dengan usus kosong melilit? Mana ada rasa syukur kalau pankreasmu sedang berteriak histeris? Ini pasti adat modern Tanjung Karang: makan dulu, barulah tahlil dibaca dengan vokal bulat dan khusyuk!"

Otak warasku sempat mengirim peringatan darurat: *Amrul, ingat pesan bapakmu di talang air dulu! Jangan bikin malu anak marga!*

Namun aroma lengkuas bakar dan bawang goreng yang meletup-letup di atas sambal balado menggilas habis sinyal moralitas itu. Tanganku mulai bergerak otonom, seakan pergelangan tanganku telah diambil alih oleh konspirasi syaraf usus dua belas jari. Jemariku yang gemetar menyentuh pucuk tudung saji anyaman bambu itu.

*Sreeeeet...*

Kuantar tutup itu bergeser beberapa inci ke samping. Udara malam yang pengap seketika disesaki aroma surga duniawi. Tanganku menyambar sendok kaleng bergambar kembang melati, siap menusuk lereng bukit nasi kuning itu dengan akurasi prajurit artileri.

Tepat saat ujung sendok berjarak dua milimeter dari butiran nasi berkilau santan itu—

*CEKAL!*

Sebuah cengkeraman baja mendarat di pergelangan tangan kananku.

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Babak 02: Cekalan Maut Sang Mandor dan Taktik Fengshui Gelas Es Teh

Tatapan Elang Kumis Bapang, Memori Gula Aren, dan Tahlil Paling Mencekam

∘₊✧──────✧₊∘

Sendi tulang pergelangan tanganku seperti terkunci oleh tanggem besi bengkel bubut. Jantungku yang semula berdegup delapan puluh kali per menit mendadak melompat ke angka dua ratus, membentur rusuk kiri dengan suara debuman yang kurasa bisa terdengar sampai ke stasiun kereta api Tanjung Karang.

Lihat selengkapnya