Petualangan Anak Desa di Aston Braga: Tombol 'Air' yang Penuh Kejutan
"Kisah kepolosan anak desa berhadapan dengan friksi modernitas metropolitan, kegugupan imposter syndrome, dan komedi petaka shower air panas di Aston Braga Hotel & Residence."
Petualangan Anak Desa di Aston Braga: Tombol 'Air' yang Penuh Kejutan. Setting: Aston Braga Hotel & Residence, Jl. Braga No. 99-101, Kota Bandung, Jawa Barat (Senin, 19 Juni 2006, Pukul 16.45 WIB)
═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═
Bagian 01: Napas Kolonial Braga & Sindrom Sang Penakluk
∘₊✧──────✧₊∘
Hawa dingin Kota Bandung petang itu merayap turun perlahan dari punggung pegunungan Lembang, mengendap di antara retakan aspal legendaris Jalan Braga yang masih basah berkilau sisa gerimis ashar. Udara membawa perpaduan ganjil antara wangi uap kopi kental dari kedai-kedai lawas, aroma roti tawar bakar yang renyah mentega, dan kelembapan lumut purba dari deretan fasad art-deco peninggalan masa kolonial. Di tengah riuh rendah deru knalpot mobil sedan dan langkah santai para pelancong berjaket tebal, berdirilah Aston Braga Hotel & Residence di persimpangan nomor 99-101. Bangunan megah berbintang empat itu mencakar langit senja dengan keangkuhan aristokratik yang terukur; sebuah monumen kaca dan beton bertulang yang seolah-olah menegaskan batas tegas antara mereka yang sekadar menumpang melintas dan mereka yang memiliki hak istimewa untuk melangkah masuk ke dalamnya.
Bagi kebanyakan orang, tanggal 19 Juni 2006 hari Senin itu mungkin hanyalah selembar hari biasa dalam kalender kerja yang menjemukan. Namun bagiku, Amrullah Ibrahim, tanggal itu terpahat layaknya sebuah proklamasi eksistensial. Aku berdiri kaku di trotoar berbatu, kedua tanganku mencengkeram erat pegangan tas jinjing berbahan kanvas tebal yang resletingnya sudah agak macet. Kemeja katun bergaris biru muda yang kupakai adalah harta terbaik yang kupunya—disetrika semalam suntuk oleh ibuku menggunakan setrika jago berisi arang tempurung kelapa yang membara merah, menyisakan samar aroma jelaga hangat yang kini terasa sangat aneh di tengah kepungan parfum mewah para tamu hotel.
Tenggorokanku tercekat. Dadaku bergemuruh bagai ditabuh genderang perang. Di sampingku, Bapak Bambang berdiri dengan ketenangan seorang pendekar tua yang sudah melepaskan seluruh senjata keduniawiannya. Di usianya yang menginjak lima puluh dua tahun, atasanku itu mengenakan jaket safari kelabu yang sudah agak pudar lipatannya, namun auranya begitu mapan, tenteram, dan tanpa beban. Wajahnya yang bulat teduh dengan garis senyum permanen di sudut mata memancarkan kearifan seorang pria yang telah melahap ribuan kilometer perjalanan dinas dari pelosok pedalaman Kalimantan hingga hotel-hotel bertingkat di Jakarta.
'Ayo masuk, Amrul,' tegur Pak Bambang lembut seraya menepuk bahuku pelan. Suaranya datar tapi meredam kepanikanku. 'Jangan berdiri seperti tugu monas di tepi jalan begitu. Koper dinas kita berat, dan punggung tuaku ini sudah menuntut disandarkan.'
Aku mengangguk patah-patah, menelan ludah yang mendadak terasa sekering pasir silika. Kakiku melangkah melewati pintu kaca otomatis yang bergeser terbuka dengan desisan desik hidrolik yang angkuh. Saat sepatu pantofel murahanku yang sol karetnya mulai menipis menyentuh lantai lobi marmer putih berkilau bagai cermin danau beku, sebuah desakan psikologis yang dahsyat menampar kesadaranku. Rasa rendah diri yang selama ini kusembunyikan di balik titel sarjana yang baru kuraih setahun lalu mendadak bangkit, menyeruak liar seperti rumput liar di musim hujan.
Monolog batinku berteriak histeris: *'Lihat dirimu, Amrullah! Kamu adalah anak desa dari lembah berdebu yang waktu kecil mandi di pancuran kali berbatu, mencuci kaki berlumpur di comberan belakang rumah, dan kini kau hendak tidur di atas singgasana kasur berbusa bulu angsa? Jangan sampai mereka tahu kamu grogi! Jangan sampai resepsionis berjas rapi itu mencium bau tanah basah dari caramu berjalan!'* Ketakutan untuk dihakimi sebagai makhluk udik yang tersesat di peradaban megah menjadi cambuk yang memaksa punggungku ditegakkan kaku, daguku kuangkat tinggi-tinggi, memasang topeng angkuh artifisial yang sebenarnya luar biasa rapuh.
Resepsionis perempuan di meja marmer panjang menyambut kami dengan senyuman yang teramat presisi—tipe senyuman korporat yang dilatih berbulan-bulan agar ramah tanpa keintiman berlebih. 'Selamat sore, selamat datang di Aston Braga Bandung. Atas nama Bapak Bambang dan Bapak Amrullah?'
Pak Bambang mengangguk santai seraya menyodorkan surat tugas dinas kami, sementara aku mengamati jemari lentik mbak resepsionis yang mengetik di atas papan ketik komputer dengan ketukan berirama. Mataku menyapu sekeliling: lampu gantung kristal yang membias ribuan prisma cahaya keemasan, lukisan abstrak berukuran raksasa di dinding lobi, serta para eksekutif berjas gelap yang berbisik elegan dengan cangkir espresso di tangan. Di tempat ini, segala sesuatu terorganisasi dengan efisiensi dingin. Tak ada ruang bagi kecanggungan; dan justru ketakterhinggaan aturan tak tertulis itulah yang membuat seluruh saraf di tubuhku tegang bagai kawat baja.
Kami menerima dua kartu kunci magnetik bernomor kamar 412. Saat lift berdinding kaca melesat naik mengantar kami ke lantai empat, perutku terasa tertinggal di lantai dasar. Pemandangan kolam renang biru toska di bawah sana tampak menggoda sekaligus mengintimidasi. Aku berjanji pada diriku sendiri di hadapan pantulan bayanganku pada dinding lift logam: dalam perjalanan dinas tiga hari ke depan, tanggal 19 hingga 22 Juni 2006, aku akan membuktikan bahwa Amrullah Ibrahim adalah pria modern yang layak sejajar dengan para pemikir metropolitan, dan tak seorang pun—bahkan Pak Bambang sekalipun—boleh melihat celah kepolosan desaku.
═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═
Bagian 02: Kamar Serba Putih & Bayang-Bayang Sumur Batu
∘₊✧──────✧₊∘
Ketika daun pintu kamar bernomor 412 berdenting pelan menerima kartu kunci magnetik dan berayun terbuka, langkah kakiku mendadak terhenti di ambang batas karpet tebal. Kedua bola mataku melebar, tersengat oleh pemandangan yang seketika menghantam persepsi visualku. Seluruh ruangan itu tampak seolah-olah baru saja dihujani tepung salju surgawi. Semuanya putih. Putih yang begitu bersih, murni, dan mutlak hingga terasa hampir suci sekaligus mengancam.
Dua tempat tidur berukuran luas terbentang rapi dengan seprai katun putih yang ditarik begitu kencang tanpa menyisakan satu kerutan pun, dipercantik selimut duvet empuk berwarna putih gading dan tumpukan bantal tebal yang menggelembung seperti awan kumulus. Tirai jendela raksasa yang membingkai panorama atap-atap genteng Kota Bandung terbuat dari sutra putih yang melambai lembut tersapu hembusan penyejuk udara. Di atas meja rias, handuk-handuk mandi dilipat membentuk gulungan tabung sempurna, juga dalam warna putih tanpa cela. Aku merasa seolah baru saja disusupkan ke dalam sebuah negeri kapas raksasa yang belum pernah tersentuh oleh daki dan dosa peradaban manusia.
'Bagus kamarnya, tenang dan sejuk,' komentar Pak Bambang sembari meletakkan kopernya di rak koper dengan gerakan tanpa beban. Beliau langsung membuka sepatu kulitnya, menggantinya dengan sandal hotel putih berbahan wafel, lalu berjalan santai menuju sofa beludru di sudut ruangan. Beliau mengambil koran Pikiran Rakyat edisi pagi yang tadi dibelinya di stasiun, meluruskan kakinya di atas meja bundar kecil, dan menghela napas panjang yang terdengar sangat mensyukuri nikmat peristirahatan.
Sementara itu, aku masih berdiri mematung di tengah ruangan seperti patung terakota yang kebingungan. Mataku menatap lemari es kecil berpintu kaca gelap di sudut meja kerja. Ketika kubuka pintunya dengan hati-hati, lampu kecil di dalamnya menyala otomatis, memamerkan barisan kaleng minuman bersoda, jus buah impor, dan cokelat berbalut kertas perak yang tersusun rapi layaknya perhiasan di etalase toko emas. Hatiku berdesir kagum. Fantastis! Ini benar-benar pengalaman kelas VIP yang hanya pernah kusaksikan di layar kaca televisi tabung empat belas inci di balai desa.
Namun, kekaguman itu lekas dirasuki oleh hantu retrospeksi yang tiba-tiba melesat keluar dari sudut terdalam ingatanku. Pikiranku terlempar melintasi ratusan kilometer ke sebuah gubuk papan berlantai semen kasar di kampung halamanku, di mana ritual membersihkan tubuh bukanlah sebuah urusan estetika serba steril, melainkan sebuah pertarungan ketahanan fisik yang keras dan jujur.
Aku teringat pada sumur timba tua di halaman belakang rumahku. Sumur yang digali oleh kakekku puluhan tahun silam dengan dinding batu kali yang diselimuti lumut hijau basah nan licin. Di setiap subuh buta saat kokok ayam jantan pertama baru saja membelah kabut fajar yang membekukan tulang, aku harus keluar rumah hanya mengenakan sarung usang yang diikatkan kencang di dada. Tali tambang ijuk yang kasar akan menggores telapak tanganku saat kutarik ember seng kaleng bekas wadah cat yang sudah berkarat di sana-sini. Roda kerekan besi di atas sumur akan menjerit memekakkan telinga—*kriiiet-kreeet-kriiieeet*—menggema ke seluruh penjuru kebun pisang, mengabarkan pada dunia bahwa si Amrul sedang menimba air.
Air sumur kampungku itu dinginnya menusuk sumsum, seakan-akan air itu disedot langsung dari rembesan es kutub utara. Tapi di balik dinginnya yang menggigit, ada kejujuran yang menyejukkan. Ayahku, seorang lelaki pendiam dengan telapak tangan sekasar kulit kayu jati, selalu berdiri di dekat pancuran bambu sambil memegang cangkir seng berisi kopi pahit. Kalimat yang kerap beliau ucapkan saat melihatku menggigil ketakutan menyentuh air subuh kembali terngiang jelas di telingaku:
*'Amrul, anakku... Air itu cermin batin manusia. Kalau hatimu jernih dan jujur, dinginnya air tidak akan sanggup membekukan langkahmu. Tapi kalau jiwamu dipenuhi oleh kepalsuan dan ingin tampak hebat di mata orang lain, setetes embun pun bisa membuatmu gemetar kedinginan. Jangan pernah merasa lebih tinggi dari air yang membersihkan kotoranmu.'*
Napas hangat kenangan itu mendadak tersapu oleh deru halus mesin AC kamar hotel yang bersuhu delapan belas derajat Celsius. Aku memandangi pantulan diriku di cermin lemari pakaian yang berkilau. Keringat asin sisa perjalanan darat yang melelahkan dari stasiun masih menempel lengket di leher dan punggungku, berpadu dengan debu jalanan yang menyengat pori-pori. Perasaan tidak nyaman mulai merayap; aku merasa seperti noda arang hitam pekat yang mengotori kesucian kamar serba putih ini.
'Pak Bambang,' ujarku memberanikan diri memecah keheningan ruangan yang hanya diisi oleh desau pendingin udara dan gemerisik lembaran koran.
Pak Bambang menurunkan sedikit korannya, menatapku dari balik kacamata baca berbingkai penyu. 'Ya, Amrul? Kenapa melamun di depan kulkas?'
'Saya mau izin mandi duluan, Pak. Badan rasanya lengket sekali kena debu jalanan tadi. Takutnya nanti pas kita harus turun makan malam atau rapat persiapan besok, saya malah kelihatan kuyu.'