[partImg:[0]]
Tragedi Duku dan Perut Buncit di Desa Umpam
Operasi 'Panen Duku' yang Gagal Total — Sebuah Bab Novel Komedi Psikologis
═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═
--- Babak I: Bayang-Bayang Tanjung Karang dan Janji Manis Komering ---
Roda Gazelle yang Menggugat Martabat dan Debu Merah Agustus 1982
∘₊✧──────✧₊∘
Bulan Agustus 1982 di tanah Ogan Komering Ulu tidak sekadar membawa musim kemarau; ia meniupkan semacam kegilaan manis yang mengendap di udara. Udara desa bergetar di bawah sengatan matahari yang tembaga, berbaur dengan uap getah karet mentah yang mengental di mangkuk-mangkuk tempurung kelapa. Bagiku, Amar—seorang pemuda tanggung dari Tanjung Karang yang biasa bersolek dengan kemeja katun tipis berkerah lancip dan sepatu kets kanvas putih—tanah ini adalah panggung pembuktian yang kejam. Aku datang ke kampung halaman sepupuku, Emrizal, dengan kepala sarat gengsi perkotaan: bahwa anak Telukbetung dan Tanjung Karang tak akan pernah bisa diintimidasi oleh rimbun belantara pedalaman.
Namun martabat kotaku langsung diuji di atas sadel kulit sepeda ontel Gazelle pinjaman yang pegasnya sudah patah sejak zaman Jepang. Setiap kali pedal berputar menembus jalan tanah liat berbatu cadas di perbatasan Desa Umpam, pantatku menerima hentakan mekanis yang mengirimkan gelombang ngilu hingga ke pangkal tengkuk. Rantai sepeda itu berderit ritmis, menirukan suara jangkrik sekarat, sementara debu merah mengepul membungkus celana jins cutbray milikku hingga kusam kecokelatan.
"Mar, jangan kaku begitu megang setang! Kau ini mengayuh sepeda apa lagi menunggang buaya liar?" seru Emrizal dari depan. Sepupuku itu bertubuh jangkung kurus seperti tiang jemuran bambu, tetapi kelincahannya di atas tanah bergelombang mencerminkan anak rawa sejati. Di belakang boncengannya, keranjang bambu berderak-derak kosong, lapar akan hasil jarahan buah.
Di sebelah kiriku, Yasir—pemuda sekampung Emrizal yang wajahnya selalu dihiasi seringai licik laksana musang mengincar anak ayam—mengayuh tanpa beban sambil bersiul melodi lagu Rhoma Irama. Matanya melirikku dari balik topi anyaman pandan. "Biasa, Zal. Anak kota kan terbiasa duduk empuk di atas sedan Fiat bapaknya. Sekali diajak lewat kebun karet Umpam, mukanya pucat seperti kain kafan kena hujan rintik-rintik!"
Darah mudaku mendidih. Aku menarik napas dalam-dalam, menelan debu dan rasa tersinggung. Namun yang membuat lidahku kelu bukanlah ocehan Yasir, melainkan sepasang mata di belakangku. Nani. Gadis itu mengayuh sepeda mini kumbang berwarna merah pudar dengan keanggunan yang tampak ganjil di tengah hutan karet. Rambutnya dikepang dua, ujungnya diikat pita hijau toska yang melambai ditiup angin kemarau. Sepanjang perjalanan satu jam dari dusun induk, Nani nyaris tak bersuara; ia hanya tersenyum tipis—senyuman tenang yang menakutkan, seolah-olah ia memegang naskah masa depan dan sedang menonton kami bertiga melangkah masuk ke dalam sangkar jebakan.
Secara retrospektif, aku tahu mengapa aku begitu keras kepala hari itu. Dua tahun sebelumnya di Tanjung Karang, ayahku pernah berpesan di serambi rumah panggung kami: 'Amar, lelaki yang gampang terpancing omongan orang adalah lelaki yang isi dadanya cuma kapas basah.' Pesan itu seharusnya menjadi jangkar. Namun di hadapan Nani—yang pada malam sebelumnya sempat memuji kelicinan sisiran rambutku saat kami minum teh di beranda Emrizal—kapas di dadaku terbakar menjadi api kesombongan. Aku tidak boleh terlihat cengeng. Aku harus menjadi pahlawan pemetik duku yang gagah perkasa, bukan anak kota ingusan yang menyerah pada pegal linu.
"Siapa bilang aku pucat?" sergahku, menegakkan punggung meski pinggangku menjerit protes. "Aku cuma lagi menghafal kontur tanah. Di Tanjung Karang, kami terbiasa menganalisis medan sebelum bergerak. Lagipula, duku Umpam yang kalian agung-agungkan itu apa benar sebesar telur bebek? Jangan-jangan cuma sebesar kelereng aduan!"
Yasir tertawa terbahak-bahak hingga sepedanya oleng ke semak putri malu. "Dengar itu, Nani! Tamu agung kita menantang duku Umpam! Zal, jangan bawa dia ke pohon duku biasa. Bawa ke kebun ujung tanjung, tempat pohon keramat yang rantingnya mencium tanah. Biar kita lihat, apa kancing jins kotanya masih sanggup menahan rasa manis!"
Emrizal membelokkan stang ontelnya secara mendadak ke jalan setapak yang nyaris tertutup sulur akar gantung. Ada kilatan aneh di matanya—bukan sekadar kegembiraan petualangan, melainkan rasa gugup yang buru-buru ia sembunyikan dengan deheman panjang. Saat itu aku tidak menyadari, jalan pintas yang ia ambil bukanlah rute ke kebun pamannya yang biasa, melainkan tanah larangan batas desa yang dijaga oleh reputasi sangar Wak Kodir.
═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═
--- Babak II: Sangkar Emas di Atas Ranting Raksasa ---
Pesta Pora Sang Penakluk Palsu dan Butir-Butir Embun Kenikmatan
∘₊✧──────✧₊∘
Kebun duku itu menyambut kami dengan keheningan katedral purba. Begitu ban sepeda kami terbenam di hamparan serasah daun kering yang tebal, udara terik seketika sirna, digantikan oleh hawa sejuk lembap yang merambat turun dari kanopi hijau raksasa. Puluhan pohon duku tua berdiri kukuh bagai pilar-pilar batu candi; batang-batangnya yang kelabu kecokelatan ditumbuhi pakis tanduk rusa dan lumut beludru. Dan di atas sana, bergantungan dalam ribuan dompolan padat, adalah duku-duku terbaik yang pernah diciptakan semesta.
Buah-buah itu bulat sempurna, berkulit kuning langsat tanpa cacat bintik hitam, menggelantung begitu rapat hingga dahan-dahan melengkung anggun ke arah tanah laksana busur panah dewa asmara. Aromanya manis semerbak, perpaduan wangi madu hutan dan embun pagi yang terperangkap dalam kulit tipis. Air liurku mengalir deras secara otomatis, membasahi rongga mulutku yang kering oleh debu kemarau.
"Allahu Akbar... ini bukan kebun, ini gudang harta karun!" seruku tanpa sadar, melupakan seluruh etiket anak sekolahan Tanjung Karang.
"Nah, Mar, jangan cuma melongo!" tunjuk Emrizal ke sebuah pohon paling perkasa di tengah petak tanah. Pohon itu memiliki dahan horizontal yang membentang lebar tepat lima meter dari permukaan tanah, sarat dengan dompolan duku sebesar kepalan tangan balita. "Pohon itu kuncinya. Kalau kau bisa sampai di dahan tengah, kau sah jadi bujang Komering. Berani naik, anak kota?"
Pertanyaan Emrizal adalah belati yang menusuk langsung ke titik terlemah harga diriku. Di sampingnya, Nani meletakkan sepedanya di bawah pohon cempaka, menatapku lurus dengan mata beningnya. Tidak ada kata yang keluar dari bibirnya, tetapi tatapannya menyiratkan keraguan yang teramat sangat: apakah pemuda berpakaian rapi ini sanggup memeluk kulit pohon berlumut tanpa menangis minta tolong?
"Minggir kalian!" kataku lantang. Aku melepas sepatu kanvas putihku—membiarkan kaus kaki katunku kotor oleh tanah humus—lalu menyingsingkan lengan kemeja. Memanjat pohon duku tua sejatinya membutuhkan keahlian khusus; kulit batangnya licin dan sering dihuni semut rangrang merah yang ganas. Namun pada menit-menit itu, rasa takutku lenyap tergilas hormon adrenalin dan rasa ingin dipuji.
Dengan cengkeraman kikuk dan lutut yang gemetar menahan bobot tubuh, aku merayap naik. Kulit pohon yang kasar menggores telapak tanganku, mengirimkan rasa perih yang nikmat. Yasir dan Emrizal sudah lebih dulu melesat bagai kera di pohon-pohon pinggir, sementara aku bersusah payah mengayunkan kaki hingga akhirnya berhasil duduk mengangkang di dahan horizontal yang kokoh.
Dunia di bawah tampak mengecil. Dari ketinggian ini, aku melihat Nani mendongak, tangannya memegang keranjang bambu anyaman. Angin semilir menyapu dahiku yang berkeringat. Dan di sekelilingku... Ya Tuhan, itu adalah pesta surgawi yang tak bertepi. Buah duku berada sejengkal dari hidungku, bergoyang perlahan mengundang jamahan.